Pengobatan tradisional ibu Ida Dayak. (Twitter/@Cakra_Kostrad)
Belakangan masyarakat tengah dihebohkan dengan pengobatan Ida Dayak yang mengklaim bisa menyembuhkan berbagai penyakit, mulai dari masalah tulang hingga kanker.
Metode pengobatan yang terapkan tanpa medis atau operasi, hanya menggunakan minyak khusus dan rapalan doa-doa.
Terkait pengobatan tersebut, epidemiolog sekaligus pakar kesehatan masyarakat dari Griffith University Australia dr Dicky Budiman mengatakan, fenomena pengobatan alternatif seperti Ida Dayak bukanlah hal baru di Indonesia, bahkan di negara-negara berkembang lainnya.
"Bicara kasus dan fenomena ini sebenarnya bukan hal baru dan juga tidak hanya terjadi di Indonesia, umumnya terjadi di negara berkembang, negara miskin," jelas dr Dicky dalam keterangannya, Minggu (9/4/2023).
"Bahkan di negara maju yang wilayah termarjinal atau buruk fasilitas kesehatannya, memang cenderung seperti itu," sambungnya.
Baca juga: Heboh Pengobatan Ida Dayak, BPJS Pastikan Perawatan Patah Tulang Ditanggung
Lebih lanjut dr Dicky mengungkapkan, ada beberapa faktor yang mendasari masyarakat lebih percaya terhadap pengobatan alternatif atau tradisional dibandingkan pengobatan di rumah sakit. Pertama soal rendahnya akses pada pelayanan kesehatan modern.
"Misalnya infrastruktur jalannya jauh, tenaga medis profesional dan alatnya yang terbatas. Sehingga traditional medicine ini menjadi satu-satunya pilihan," jelasnya.
Kemudian alasan kedua, adanya faktor kepercayaan secara budaya. Pasien tumbuh dan besar melihat keluarga menggunakan pengobatan tradisional, sehingga terbangun kepercayaan pada jenis pengobatan tersebut.
Baca juga: Viral Ida Dayak Sembuhkan Tulang Pake Minyak, Hati-hati Salah Penanganan Picu Kelumpuhan!
"Selanjutnya ketiga soal cost, biaya yang mahal. Meskipun ini (pengobatan modern) tersedia di suatu wilayah tapi mungkin terlalu mahal sehingga nggak terjangkau, sehingga traditional spiritual medicine ini menjadi pilihan yang lebih terjangkau," jelasnya.
Keempat soal faktor kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan modern. Hal ini bisa didorong akan rekam jejak kegagalan kasus pengobatan atau reputasi tenaga medis yang sulit dipercaya.
"Sehingga mereka mencari alternatif terapi lain," ungkapnya.
Alasan terakhir, keterbatasan literasi kesehatan. Hal ini membuat banyak masyarakat tidak memiliki pemahaman akan pengobatan dan fasilitas kesehatan modern.
"Kelima hal ini yang harus di-address oleh pemerintah pusat maupun daerah. Dalam hal ini Kemenkes," katanya.
Meskipun demikian, Dicky menjelaskan bahwa bukan berarti pengobatan tradisional atau alternatif itu buruk. Namun penting untuk jenis pengobatan tersebut, bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
"Namun memang bukan berarti tradisional atau spiritual itu semuanya buruk, tapi harus di sanctification agar bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah sehingga tidak akan merugikan masyarakat," pungkasnya.
Artikel Menarik Lainnya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: