INDOZONE.ID - Selingkuh di kantor banyak ditemui dan bahkan sudah dianggap normal. Penyebabnya sangat beragam dan sebaiknya kamu menghindar.
Dikatakan Psikolog Sani Budiantini, perselingkuhan sering terjadi di kantor karena pasangan itu sering ketemu, berinteraksi dan apalagi kalau sering lebih banyak menghabiskan waktu di kantor dibanding di rumah.
"Maka bonding itu akan lebih banyak terasa di kantor, yaitu dengan teman rekan kerja atau satu divisi dan sebagainya," katanya saat dihubungi Indozone, Senin (30/6/2025).
Karena akhirnya muncul bonding secara emosional dan interaksi secara fisik, akibatnya pasangan selingkuh bisa saja menjadi enak bicara, terbiasa karena ada bahan dan topik, yang akhirnya menjadi satu hubungan yang lebih dalam dan berlanjut ke step berikutnya.
Sementara kalau di rumah, pasangan laki-laki misalnya merasa bosan dengan istri dan mungkin bondingnya kurang, sudah capek kerja, kemudian tidak ada bahan untuk dibicarakan, kualitas turun, apalagi kuantitas. Hubungan pasangan suami istri menjadi lebih renggang dan justru pasangan di kantor menjadi lebih akrab.
"Jadi akan sangat memungkinkan sekali (perselingkuhan) justru terjadi di kantor. Sehingga tidak ada terbangun emotional dependent atau physical attachment," imbuhnya.
Baca juga: 7 Alasan Orang Bisa Selingkuh, Nggak Melulu karena Ada yang Lebih Menarik
Selingkuh Sudah Dinormalisasi
Sayangnya, banyaknya kasus perselingkuhan ini malah sudah dinormalisasi. Sudah salah, tapi malah terkadang orang-orang di lingkungan sekitar mendukungnya.
"Kalau setahu saya ya banyak akhirnya pasangan selingkuh di kantor itu akhirnya dinormalisasikan. Karena mungkin banyaknya orang yang seperti itu atau tahu sama tahu tapi akhirnya tidak mau intervensi dan sebagainya.
Karena dianggap wajar, banyak orang-orang di lingkungan sekitar malah menutupi kasus perselingkuhan ini. Tentu saja hal ini jadi perbuatan yang salah dan tak patut diteruskan.
Baca juga: Aplikasi Kencan Jepang Gunakan Data Pemerintah untuk Cegah Selingkuh
"Tapi kalau di kantor-kantor swasta banyak yang akhirnya menormalisasikan hal tersebut dan akhirnya malah saling menutupi," ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara