Kamis, 03 JULI 2025 • 17:41 WIB

Ketika Cerita Fiksi Menggerakkan Hati dan Membentuk Rasa Empati

Author

Ilustrasi sedang membaca (Unsplash/Lucrezia Carnelos)

INDOZONE.ID - Salah satu kemampuan mendasar yang seharusnya dimiliki setiap manusia adalah sikap terbuka terhadap empati. Empati mengajak kita untuk melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas, di mana perbedaan adalah hal yang tak terelakkan, dan memahaminya adalah kunci untuk membangun hubungan yang lebih sehat dan manusiawi.

Menumbuhkan empati bukan hal mustahil. Ia bisa diasah dari banyak hal, mulai dari permainan, berbagi cerita, refleksi diri, membaca buku, menonton film, hingga berani mengakui dan mengekspresikan emosi. Tapi, pernahkah kamu merasa sedih atau bahagia ketika membaca cerita fiksi? Atau merasa seolah-olah hatimu terhubung dengan tokoh yang kamu baca?

Kalau iya, besar kemungkinan kamu sedang mengalami proses transfer emosi, di mana isi cerita mampu menyentuh sisi emosionalmu secara nyata, baik secara kognitif maupun afektif. Dan proses inilah yang secara tidak sadar membentuk rasa empati di dalam diri pembacanya.

Transfer Emosi dari Fiksi Ketika Cerita Menggerakkan Hati

Dibandingkan cerita nonfiksi yang umumnya menyajikan informasi faktual dan memicu respons kritis, cerita fiksi menawarkan pengalaman emosional yang lebih mendalam. Narasi fiksi bukan sekadar imajinasi, melainkan ruang tempat emosi mengalir dari karakter, konflik, hingga latar cerita, dan mengajak pembaca masuk ke dalam dunia yang penuh nuansa.

Mengutip artikel dari National Library of Medicine, proses transfer emosi dalam fiksi terjadi ketika pembaca merasa benar-benar “masuk” ke dalam cerita. Ini menciptakan simulasi sosial, di mana kita bisa menempatkan diri sebagai tokoh dalam cerita dan memahami perspektif mereka yang bisa jadi sangat berbeda dari realitas kita.

Proses ini menghasilkan dua bentuk empati:

  • Empati afektif (emosional): terjadi saat kita ikut larut dalam emosi tokoh. Misalnya, kamu merasa sedih, bahagia, atau marah karena konflik dalam cerita.

  • Empati kognitif: muncul saat kita memahami dan menyimpulkan makna cerita tanpa terlalu terlibat secara emosional. Kita mampu melihat sudut pandang tokoh, tapi tetap menjaga jarak secara afeksi.

Namun, tidak semua cerita fiksi berhasil menumbuhkan empati. Jika tokohnya terasa tidak masuk akal, berlawanan prinsip, atau tidak dapat dipahami secara emosional, pembaca mungkin akan kesulitan untuk terhubung. Di sinilah muncul batas antara simpati dan empati, dan masing-masing orang bisa merespons dengan cara yang berbeda-beda.

Baca juga: Tak Hanya Menyenangkan, Inilah 10 Manfaat Mengejutkan Membaca Buku Fiksi

Durasi Empati Terhubungnya Seberapa Lama?

Pentingnya punya rasa empati/Freepik

Berapa lama kita bisa merasa terhubung secara empatik dengan tokoh fiksi? Tidak ada ukuran pasti. Semua tergantung pada preferensi, latar belakang, dan pengalaman personal pembaca. Bisa jadi kamu merasa sangat terhubung karena ceritanya relatable dengan kehidupan nyata. Tapi bisa juga hanya sesaat dan tidak meninggalkan kesan mendalam.

Dampak Lain dari Membaca Fiksi Bukan Sekadar Hiburan

Selain membentuk empati, fiksi juga memberi dampak positif lain:

  • Mengurangi bias dan prasangka.

  • Mendorong keterbukaan terhadap perspektif berbeda.

Fiksi memperlihatkan bahwa dunia tidak hanya berputar pada sudut pandang kita sendiri. Dengan mengikuti alur pikiran karakter yang bertentangan dengan prinsip kita, kita dilatih untuk lebih toleran dan menerima kenyataan bahwa perbedaan adalah bagian dari hidup.

Baca juga: Psikolog Sebut Mengajarkan Empati Pada Anak Bisa Lewat Bermain dan Berbagi

Imajinasi yang Menyentuh Realita

Cerita fiksi, meski berbasis imajinasi, membawa kita menyelami kehidupan dari sudut pandang yang asing tapi bermakna. Bacaan ini bukan hanya hiburan, tapi cermin sosial yang mampu mengasah empati kita, kemampuan penting yang akan memperkaya cara kita memahami sesama.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pmc.ncbi.nlm.nih.gov, Jeps.efpsa.org

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU