INDOZONE.ID - Kisah hidup Hafiz, seorang dokter yang tinggal di kolong jembatan di Demak, Jawa Tengah, baru-baru ini menyorot perhatian publik.
Ternyata, dokter Hafiz yang lulusan Universitas Indonesia (UI) ini memiliki alasan kuat di balik keputusannya untuk hidup sederhana. Ia mengungkapkan bahwa cintanya kepada istri dan anaknya menjadi alasan utama di balik pilihan hidupnya yang melarat.
Meskipun pernah menikmati kehidupan yang mewah, Hafiz sepertinya rela meninggalkan harta bendanya demi sesuatu yang lebih berharga.
Baca juga: Jugun Ianfu: Kisah Pilu di Balik Kekejaman Penjajahan Militer Jepang
Kisah pilu dokter Hafiz yang memilih hidup sederhana demi keluarganya ini menarik perhatian publik dan menjadi viral setelah ia diwawancarai oleh Mas Adi di kanal Youtube Sinau Hurip.
Dalam wawancara dengan Mas Adi, dokter Hafiz membuka tentang kehidupannya selama 9 tahun di kolong jembatan wilayah Kadilangu, Demak, Jawa Tengah.
Dengan latar belakang pendidikan yang impresif sebagai lulusan UI dan kampus di Singapura, pengakuan Hafiz tentang kehidupannya yang sederhana dan tinggal di kolong jembatan ini tentu menarik perhatian banyak orang.
Hafiz terkejut ketika Mas Adi mengunjungi kediamannya di kolong jembatan. Mas Adi berkeliling dan melihat rumah bambu sederhana yang dibangun di pinggir tembok kolong jembatan.
Meskipun baru bertemu beberapa menit, Hafiz langsung terbuka dan berbagi tentang kehidupannya dengan Mas Adi.
Hafiz mengungkapkan bahwa dalam kesehariannya, ia sering menerima bantuan makanan dari warga sekitar. Ia hidup dari bantuan warga Kadilangu yang merasa iba kepadanya.
Walaupun hidup melarat sendirian di kolong jembatan, ternyata Hafiz memiliki latar belakang yang luar biasa sebagai dokter spesialis THT dan berasal dari Jember.
Bahkan Hafiz bercerita bahwa ia pernah berkuliah di Singapura. "Alhamdulillah dulu, saya (kuliah) di kesehatan," akui Hafiz, dilansir dari kanal YouTube Sinau Hurip, Rabu (30/7/2025).
"Dokter?" tanya Mas Adi.
"Iya dokter. Saya di Singapura dulu," jawab Hafiz.
Lantas Mas Adi terkagum saat mendengar bahwa Hafiz lulusan dokter, ia memastikan kebenarannya apakah Hafiz menempuh pendidikan S1-nya di Singapura.
"Enggak. Saya S1 di UI, di (kedokteran) umum. Kemudian saya kuliah lagi, saya nikah. Istri saya juga dokter orang Cianjur. Saya kuliah lagi ambil THT di Singapura," jelas Hafiz.
Selain pernah berkuliah Singapura, Hafiz mengaku juga sempat tinggal di Italia. Setelahnya Hafiz pun kembali ke Jember lalu membuka apotek.
"Setelah itu saya bosan, saya ke Italia, enggak pulang-pulang saya di Italia, saya empat tahun di situ. Selama tiga tahun pulang, saya lepas kerjaan saya, saya nelatenin apotek di Jember," pungkas Hafiz.
Hafiz mengenang masa lalunya dengan mengingat kembali pengalaman kuliahnya di Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1988. Ia juga berbagi tentang istrinya yang juga merupakan lulusan UI dan memiliki profesi sebagai dokter.
"Saya dulu itu boleh dikatakan paling cerdas, saya kuliah dulu S1 saya ambil 1 tahun tujuh bulan. Saya masuk UI tahun 88. Istri teman kuliah, satu angkatan," tutur Hafiz.
Alasan Memilih Tinggal di Kolong Jembatan
Alasan Hafiz memilih untuk hidup di kolong jembatan karena ia ingin hidupnya lebih tenang.
"Lebih tenang rasanya. Kalau mematikan hasrat (Hidup) sih enggak, saya masih butuh makan, masih butuh macam-macam. Manusia itu enggak bisa, cuma berusaha," imbuh Hafiz.
Titik balik dalam kehidupan Hafiz yang membuatnya memilih hidup di kolong jembatan adalah tragedi kecelakaan yang merenggut nyawa istri dan anaknya. Kini, Hafiz hidup sendirian setelah kehilangan orang-orang yang paling dicintainya.
"Istri meninggal. Habis itu anak kuliah mau wisuda, anak kuliah di Jerman waktu itu. Pulang ke Indonesia, belum sampai ke rumah, kecelakaan, meninggal. Dari situ saya frustasi gimana caranya," ungkapnya.
Setelah kehilangan istri dan anaknya, kehidupan Hafiz menjadi gelap dan kehilangan warna, yang membuatnya meninggalkan semua pekerjaannya dan menjalani hidup yang berbeda.
"Dari situ kebetulan di rumah ada yayasan pendidikan, saya pasrahkan ke saudara-saudara angkat. Saya keluar (rumah). Saya di Jawa Barat, Cianjur. Di Cianjur enggak kerasan, saya ke Singapura. Saya diam ke Singapura kumpul sama teman-teman dokter, habis itu saya pulang lagi ke Indonesia," sambungnya.
Hafiz merasakan kekosongan yang mendalam selama tiga bulan setelah istrinya meninggal, tetapi ia tetap berkomitmen untuk menjalankan sholat sebagai sumber kekuatan spiritualnya.
Sampai akhirnya Hafiz mengaku seperti mendapatkan titik terang agar ia pindah ke Demak.
"Saya dapat (bisikan bertemu sosok gaib), ada bayangan (bilang) 'kamu di rumahku aja, aku (di) Kadilangu'. Saya di Jember, pulang dari Singapura," katanya lagi.
Selama 9 tahun tinggal di kolong jembatan, Hafiz menjalani rutinitas spiritual yang kuat. Setiap hari, ia pergi ke masjid, mengunjungi makam, dan kembali ke gubuknya di kolong jembatan.
Selain itu, ia juga sering pulang ke rumah keluarganya di Jember, Jawa Timur. Rutinitas hariannya meliputi ibadah dan mengaji Al-Quran.
"Alhamdulillah dari dulu itu saya merasa sakit kepala atau flu satu tahun dua kali. Tapi biasanya disebabkan saya lalai dengan Quran. Mungkin karena sudah kebiasaan, perhari ini minimal 1-3 juz (ngaji). Kalau satu hari enggak sampai satu juz, biasanya saya pusing sudah," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube @SinauHurip