INDOZONE.ID - Belakangan ini, media sosial ramai membahas tren performative male. Mulai dari kontes sampai meme, istilah ini tiba-tiba jadi bahan obrolan banyak orang.
Tapi sebenarnya, apa sih performative male itu? Kenapa bisa viral? Dan apa ciri-cirinya?
Baca juga: 111 Caption tentang Umroh dalam Bahasa Inggris, Aesthetic!
Apa Itu Performative Male?
Performative male bisa diartikan sebagai pria yang sengaja menampilkan diri dengan gaya tertentu—biasanya terlihat intelektual, lembut, dan "woke"—untuk menarik perhatian, terutama dari perempuan.
Mereka melakukan ini bukan karena memang kepribadian aslinya, tapi lebih karena ingin terlihat "keren" di mata orang lain.
Istilah ini pertama kali populer di media sosial, dan kemudian makin viral setelah ada kontes Most Performative Male di Taman Langsat, Jakarta Selatan, yang diadakan oleh akun X @alergikiwi.
Pesertanya berlomba-lomba menunjukkan gaya khas performative male, dan pemenangnya adalah Keenan Avalokita, anak dari Dewi Lestari.
Baca juga: Kenali 10 Soft Skill yang Bisa Bikin Kamu Mudah Disukai Banyak Orang
Ciri-Ciri Performative Male
Kalau kamu penasaran seperti apa performative male itu, berikut beberapa ciri khasnya:
- Penampilan klasik & vintage: Celana lebar, kemeja linen, tote bag putih (bukan tas ransel), dan headset tali yang menggantung.
- Aksesoris feminis: Buku-buku bertema feminisme jadi "properti" wajib, meskipun belum tentu dibaca.
- Musik indie & matcha: Lebih suka dengerin Clairo atau Laufey daripada lagu mainstream, dan minum matcha alih-alih kopi.
- Gantungan kunci lucu: Biasanya pakai gantungan karakter imut seperti Labubu di tas atau saku celana.
Intinya, mereka berusaha terlihat seperti pria yang peka, berwawasan, dan "berbeda" dari kebanyakan cowok lainnya.
Baca juga: Viral! Sosok Trainee YG Entertainment Diduga dari Indonesia, Netizen Sebut Asal Manado
Kenapa Tren Ini Viral?
Perubahan standar maskulinitas di kalangan Gen Z jadi salah satu alasan tren ini muncul. Dulu, perempuan mungkin lebih suka pria yang terkesan dingin, dominan, atau "bad boy".
Sekarang, justru pria yang terlihat hangat, peka isu sosial, dan "feminist-friendly" lebih disukai.
Tapi, masalahnya adalah banyak dari mereka yang hanya berpura-pura punya sifat-sifat itu demi dapat perhatian. Inilah yang bikin performative male jadi bahan kritik.
Kekhawatiran: Krisis Identitas & Hubungan yang Tidak Autentik
Yang jadi masalah adalah ketika banyak pria mengubah kepribadian hanya demi sebuah penerimaan dari perempuan.
Kalau semua cuma akting, bagaimana perempuan bisa tahu sifat asli pasangannya? Bisa saja setelah pacaran atau menikah, sifat aslinya keluar dan malah bikin konflik.
Tren ini juga memunculkan pertanyaan: Apakah performative male sekadar gaya hidup, atau benar-benar mencerminkan perubahan nilai maskulinitas di kalangan Gen Z?
Baca juga: Studi: Gen Z Merasa Gak Nyaman Lihat Ibu Menyusui di Tempat Umum, Stop Normalisasi!
Jadi, Bagaimana Menyikapinya?
Sebenarnya, nggak ada salahnya pria ingin terlihat lebih peka atau berwawasan. Tapi kalau semua cuma untuk pencitraan, ya percuma juga.
Yang penting, jangan sampai kita terjebak dalam kepura-puraan hanya demi dianggap "keren".
Kalau mau jadi pria yang lebih peka, ya lakukan dengan tulus bukan karena tren. Lagipula, kepribadian asli jauh lebih menarik daripada sekadar penampilan yang dipaksakan.
Bagaimana menurutmu? Apakah performative male cuma tren sesaat, atau memang mencerminkan perubahan nilai di masyarakat?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Elitedaily.com