INDOZONE.ID - Sebuah studi di Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa saat seseorang dihina, otak langsung bereaksi seolah sedang menghadapi ancaman.
Penjelasan tersebut benar dan didukung oleh penelitian yang ada, termasuk konsep negativity bias.
Bagian otak bernama amigdala aktif, lalu tubuh melepaskan hormon stres (kortisol).
Hinaan memicu amigdala, bagian otak yang merespons ancaman, sehingga tubuh melepaskan hormon stres (kortisol) dan membuat kita lebih waspada.
Pengalaman negatif seperti hinaan akan lebih diingat karena otak secara alami cenderung fokus pada hal negatif sebagai mekanisme pertahanan diri, sehingga satu hinaan bisa lebih berdampak dibandingkan banyak pujian.
Amigdala dan Hormon Stres
Saat dihina, amigdala menjadi aktif dan memerintahkan hipotalamus untuk melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin.
Hormon ini menyiapkan tubuh untuk merespons ancaman, yang disebut respons "fight-or-flight" atau melawan atau lari.
Negativity
Konsep negativity bias menjelaskan mengapa otak manusia secara alami lebih cenderung memperhatikan, mengingat, dan memberi bobot lebih pada pengalaman negatif dibandingkan pengalaman positif.
Ini adalah mekanisme evolusi yang membantu kita bertahan hidup dengan lebih waspada terhadap bahaya.
Baca juga: Studi: Wanita Cenderung Stalking Mantan di Media Sosial, Pria Justru Menghindar
Dampak pada Ingatan
Karena mekanisme ini, amigdala berperan dalam membentuk memori emosional.
Hinaan dapat menciptakan memori yang lebih kuat dan bertahan lebih lama dalam ingatan dibandingkan pujian, membuat kita merasa lebih terpengaruh oleh kata-kata negatif.
Sensitivitas yang Meningkat
Kondisi ini membuat kita lebih sensitif terhadap situasi atau komentar negatif, yang merupakan bagian dari kesiapsiagaan tubuh terhadap ancaman.
Jadi, itu dia beberapa fakta unik tentang manusia dan alasan kenapa manusia mengingat hinaan sampai 20 tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: American Psychological Association