Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 30 JULI 2025 • 12:40 WIB

Anemia dan Gangguan Penglihatan Hambat Fungsi Memori Anak, Studi Ungkap Dampak pada Kemampuan Belajar

Anemia dan Gangguan Penglihatan Hambat Fungsi Memori Anak, Studi Ungkap Dampak pada Kemampuan BelajarAnemia dan gangguan penglihatan kini menjadi tantangan serius dalam kesehatan anak Indonesia. (Ist)

INDOZONE.ID - Anemia dan gangguan penglihatan kini menjadi tantangan serius dalam kesehatan anak Indonesia. Tak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, keduanya juga menghambat fungsi kognitif penting seperti memori kerja—komponen yang sangat menentukan dalam proses belajar dan berpikir anak.

Data dari WHO mencatat sekitar 25% anak usia sekolah di dunia mengalami anemia. Sementara Jurnal Plos One 2023 menyebut bahwa hampir 50% kasus anemia disebabkan oleh defisiensi zat besi, yang memiliki korelasi negatif terhadap perkembangan kognitif anak.

Dalam rangkaian INA Nutri Symposium 2025 yang diselenggarakan oleh Indonesia Nutrition Association (INA), sesi Study & Symposium Supported by Danone memaparkan dua studi terbaru dari Indonesian Health Development Center (IHDC) yang menyoroti keterkaitan antara anemia dan gangguan penglihatan, dengan penurunan fungsi memori kerja dan prestasi akademik anak.

Anemia Menurunkan Fungsi Memori Anak

Medical & Scientific Affairs Director Nutricia Sarihusada, dr. Ray Wagiu Basrowi, menjelaskan hasil studi yang melibatkan 335 anak sekolah dasar di Jakarta.

Baca juga: Mahasiswa Unhas Edukasi Remaja Putri Bulukumba, Perangi Anemia Demi Cegah Stunting

“Ditemukan bahwa sekitar 19,7% anak mengalami anemia dan 22,1% memiliki gangguan kerja memori. Anak dengan kadar hemoglobin yang lebih rendah secara signifikan menunjukkan performa memori kerja yang lebih buruk. Ini menunjukkan bahwa anemia bukan hanya masalah fisik, tetapi juga berdampak nyata pada fungsi kognitif dan kemampuan belajar anak,” ujar dr. Ray.

Lebih lanjut, dr. Ray menegaskan bahwa kadar hemoglobin yang rendah terbukti berkaitan dengan melemahnya fungsi memori kerja. Anak yang mengalami stunting juga ditemukan memiliki risiko tiga kali lebih tinggi mengalami gangguan memori kerja, mengindikasikan bahwa malnutrisi jangka panjang dapat mengganggu perkembangan otak secara menyeluruh.

Anak-anak dengan gangguan memori kerja memiliki kadar hemoglobin yang lebih rendah, secara signifikan dibandingkan anak dengan fungsi memori kerja normal.

Kondisi ini diperparah oleh rendahnya asupan protein dan lemak, dua komponen penting dalam pembentukan jaringan otak. Oleh karena itu, intervensi berbasis sekolah yang menyuplai kebutuhan zat besi dan protein dinilai krusial untuk mendukung daya pikir dan kemampuan belajar anak.

Gangguan Penglihatan Perburuk Proses Belajar

Selain anemia, IHDC juga meneliti dampak gangguan penglihatan pada kemampuan kognitif. Director Kemitraan IHDC, Kianti R. Darusman, menyatakan bahwa gangguan seperti rabun jauh, rabun dekat, dan astigmatisme dapat menghambat proses belajar anak.

Baca juga: Warga Jakut Kaget Banyak yang Kena Anemia, Gula Darah Tinggi dan Hipertensi!

“Sebab sebagian besar aktivitas belajar di sekolah bersifat visual, anak dengan penglihatan terganggu perlu berusaha lebih keras untuk memahami informasi. Hal ini dapat menurunkan efisiensi memori kerja dan berdampak pada kemampuan belajar secara keseluruhan,” jelas Dr. Kianti.

Meski secara statistik belum signifikan, secara klinis ditemukan bahwa 19,5% anak dengan gangguan penglihatan juga mengalami gangguan memori kerja. Anak-anak ini juga menunjukkan nilai akademik yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan anak-anak dengan penglihatan normal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Press Release

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Anemia dan Gangguan Penglihatan Hambat Fungsi Memori Anak, Studi Ungkap Dampak pada Kemampuan Belajar

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!