Jumat, 03 OKTOBER 2025 • 16:10 WIB

Kenapa Kita Gampang Boros Pas Lagi Bahagia? Ini Penjelasan Otakmu!

Author

Ilustrasi perilaku boros (Freepik/benzoix)

INDOZONE.ID - Pernah nggak Kamu ngerasa mood lagi bagus karena habis dapet kabar menyenangkan, baru jadian, atau sekadar senang karena weekend akhirnya datang. 

Terus tiba-tiba uang di dompet cepat banget menguap? Tenang, Kamu nggak sendirian. 

Ternyata, kita cenderung lebih mudah mengeluarkan uang saat lagi bahagia. Dan ini bukan cuma soal “khilaf” atau dompet yang tiba-tiba bocor. 

Di balik itu, ada penjelasan psikologis dan kerja otak yang bikin fenomena “belanja saat senang” masuk akal. 

Baca juga: IdeaFest 2025 Hadir Kembali 31 Oktober-2 November 2025 di JICC Menyalakan Budaya Baru Melalui Kolaborasi dan Kreativitas

Yuk, kita kupas bareng-bareng alasannya!

1. Bahagia = Mood Positif = Otak “On Fire”

Saat Kamu merasa bahagia, otak melepaskan hormon seperti dopamin dan serotonin yaitu zat kimia yang bikin Kamu merasa semangat, lebih terbuka, dan lebih mudah tergoda mencoba hal-hal baru.

Hal ini termasuk memicu keinginan belanja barang yang sebenarnya nggak terlalu dibutuhkan.

Dalam dunia psikologi konsumen, emosi positif terbukti jadi faktor penting dalam mendorong pembelian impulsif. 

Ketika mood sedang bagus, otakmu cenderung lebih responsif terhadap rangsangan eksternal seperti promo menarik, visual produk yang menggoda, atau diskon besar-besaran.

Baca juga: 8 Kebiasaan Pagi Orang Sukses Sebelum Jam 7 Pagi, Yuk Ikutin!

Contohnya, sebuah penelitian di Indonesia menemukan bahwa emosi positif memediasi hubungan antara gaya hidup belanja dengan perilaku impulsif. 

Artinya, semakin senang perasaanmu, semakin besar kemungkinan Kamu melakukan impulse buying atau belanja karena dorongan sesaat, bukan karena kebutuhan.

Jadi, saat Kamu lagi senang, Kamu justru lebih “rentan” terbujuk oleh rayuan harga coret, warna-warna mencolok, atau slogan “cuma hari ini!” yang memang dirancang untuk memicu keputusan instan.

2. Otak Ingin Reward dan “Justifikasi” Spontan

Dalam kondisi mood bahagia, otak cenderung mencari reward semacam "bonus" atau hadiah yang terasa pantas diterima. 

Baca juga: 10 Ciri Kamu Otrovert, Kepribadian di Tengah Introvert dan Ekstrovert

Membeli sesuatu sering kali jadi bentuk self-reward, sebagai cara untuk mengonfirmasi perasaan, “Aku layak mendapatkan ini.” 

Karena suasana hati sudah dipenuhi energi positif, otak pun lebih mudah membenarkan keputusan tersebut: “Gak apa-apa, sekali-sekali boleh lah.”

Penjelasan ilmiahnya bisa dikaitkan dengan konsep somatic marker hypothesis yaitu gagasan bahwa keputusan, termasuk keputusan ekonomi seperti belanja, nggak cuma didasarkan pada logika, tapi juga dipengaruhi oleh sinyal emosional dari tubuh (marker somatik). 

Sinyal-sinyal ini memberi kesan seperti, “Ini terasa baik” atau “Ini keputusan yang oke.”

Baca juga: 17 Caption Singkat tentang Berdamai dengan Diri Sendiri dalam Bahasa Inggris yang Classy

Nah, saat Kamu sedang bahagia, marker-marker emosional ini jadi makin kuat dan positif, sehingga "rem" untuk menahan diri justru melemah. 

Akibatnya, Kamu jadi lebih mudah mengambil keputusan impulsif, seperti beli barang yang menarik hati di etalase atau checkout keranjang belanjaan yang sudah lama mengendap di e-commerce.

3. Diskon dan Visual Tak Tertahan saat Mood Baik

Saat Kamu sedang bahagia, otakmu jadi lebih “terbuka” dan sensitif terhadap berbagai rangsangan visual dan emosional.

Otak gampang tergoda banner diskon mencolok, tampilan produk yang estetik, hingga penawaran “hemat” yang seolah sayang untuk dilewatkan. 

Baca juga: 5 Red Flag Hubungan yang Bisa Berujung KDRT setelah Menikah, Apa Saja?

Elemen-elemen seperti warna toko, tata letak produk, dan strategi promosi pun bekerja lebih efektif saat mood sedang positif.

4. Saat Kamu Sedang Bahagia, “Rem” di Otak Jadi Lebih Longgar. 

Kondisi ini bikin Kamu lebih mudah terpengaruh oleh berbagai strategi promosi dan tampilan visual yang dirancang untuk menarik perhatian. 

5. Otak Lupa Risiko dan Kalkulasi Biaya

Saat mood netral atau sedih, kita cenderung lebih waspada dan rasional. 

Ketika kita dalam kondisi tersebut, kita lebih fokus pada anggaran, risiko, dan apakah sebuah pembelian benar-benar perlu. 

Baca juga: 17 Caption Singkat tentang Berdamai dengan Diri Sendiri, Simpel tapi Ngena

Tapi ketika suasana hati sedang positif, sistem penilaian risiko di otak bisa jadi lebih “santai”. 

Akibatnya, pertanyaan penting seperti “Apakah aku butuh barang ini?” seringkali terabaikan, dan keputusan belanja pun jadi lebih spontan.

Dalam studi berjudul “Trying not to spend” yang dimuat di Journal of the Academy of Marketing Science, para peneliti menemukan bahwa emosi berperan besar dalam mempengaruhi cara kita membedakan antara kebutuhan dan keinginan. 

Saat sedang bahagia, garis pembatas antara keduanya jadi kabur, keinginan bisa dengan mudah terasa seperti kebutuhan.

Baca juga: 5 Tips Simpel Belanja Online Anti Rugi, Malah Tambah Cuan

Kebahagiaan dan Belanja yang Cocok Dengan Diri Sendiri Bikin Lebih Puas

Menariknya, nggak semua belanja saat bahagia berujung penyesalan. 

Sebuah studi besar berbasis data transaksi bank menemukan bahwa orang cenderung merasa lebih bahagia setelah berbelanja hal yang sesuai dengan kepribadian mereka atau dikenal sebagai konsep spending-match personality.

Artinya, ketika Kamu membeli sesuatu yang benar-benar mencerminkan siapa dirimu, bukan sekadar ikut-ikutan tren atau karena tergoda promo, efek emosionalnya justru bisa positif dan bertahan lebih lama. 

Jadi, belanja itu nggak selalu buruk, asal selaras dengan nilai dan gaya hidupmu. Tetap perlu bijak, tentu saja, supaya kebahagiaan dari belanja nggak berubah jadi beban di kemudian hari.

Baca juga: Apa Jadinya Kalau Semua Orang Jujur 100%? Ini Hasil Eksperimen Para Ilmuwan!

Tips Supaya Nggak Boros Saat Bahagia

1. Buat rencana belanja yang sadar

Sebelum klik “beli”, tanyakan pada diri sendiri:“Apakah ini memang benar-benar aku butuhkan?” atau “Mood apa yang membuat aku ingin membeli ini?”

2. Terapkan delay rule

Kalau ada keinginan tiba-tiba beli, tunggu misalnya 24 jam. Kalau besok masih kepengen dan masuk logika, baru beli.

Baca juga: 5 Alasan Gen Z Gak Mau Buru-buru Menikah yang Ternyata Bikin Kagum

3. Bagi dana reward sendiri

Sisihkan sebagian kecil uang khusus “reward / treat” kalau mood baik, belanja dari dana ini, bukan dari uang utama.

4. Fokus pada pengalaman, bukan barang

Banyak riset menyebut bahwa pengeluaran untuk pengalaman (travel, nongkrong, workshop) cenderung membawa kebahagiaan jangka panjang dibanding barang material.

5. Sadar promosi dan iklan memicu emosi

Ketika Kamu bahagia, visual promo jadi lebih menggoda. Jadi sadari bahwa itu sedang “bermain” dengan emosimu.

Baca juga: 7 Puisi Singkat tentang Berdamai dengan Diri Sendiri, Bikin Hati Lebih Tenang

Gampang boros pas bahagia itu wajar, karena otak kita “on fire” dengan emosi positif, reward, dan lebih rentan terhadap rangsangan eksternal. 

Tapi bukan berarti Kamu nggak bisa mengendalikan. Dengan strategi simpel seperti delay, alokasi dana tertutup, dan belanja yang sesuai kepribadian, Kamu bisa tetap senang tanpa jadi korban dompet kering.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU