Senin, 06 OKTOBER 2025 • 20:03 WIB

Mahasiswa ini Sebut Pendidikan Indonesia Tertinggal 50 Tahun dari China, Unggahannya Jadi Sorotan Netizen

Author

Konten mengungkap perbedaan mencolok antara mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa dari negara Cina. (sumber: TikTok/@aristyor)

INDOZONE.ID - Baru-baru ini, sebuah unggahan di media sosial kembali memantik diskusi warganet soal kualitas pendidikan Indonesia.

Dilansir dari unggahan akun TikTok @aristyor pada Minggu (5/10/2025), ia mengungkap perbedaan mencolok antara mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa dari negara maju, khususnya China.

Dalam unggahannya, ia juga menceritakan pengalamannya saat mengikuti pertandingan akademik bersama mahasiswa asal China dan ASEAN.

Baca juga: Sekolah Penggerak: Membangun Pendidikan yang Berkualitas di Sidoarjo

Dari situ, ia mengaku terkejut dengan perbedaan yang sangat jauh hingga membuatnya merasa mahasiswa Indonesia tertinggal sekitar 50 tahun.

“Setelah gue pergi ke China untuk bertanding dengan mahasiswa dari negara China dan ASEAN, gua bener-bener kaget dengan perbandingan yang super jauh. Buat gue merasa negara kita, Indonesia, tertinggal 50 tahun,” tulisnya dalam unggahan.

Menurutnya, ada lima alasan utama mengapa mahasiswa Indonesia dinilai tertinggal dari mahasiswa luar negeri:

  1. Fokus tidak tepat. Mahasiswa Indonesia dianggap terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting, sementara mahasiswa luar memikirkan inovasi besar seperti pengembangan kereta berkecepatan tinggi.
  2. Kurang menghargai dosen. Mahasiswa luar negeri sangat menghargai peran profesor dan dosen sebagai sumber ilmu, sedangkan sebagian mahasiswa Indonesia justru merasa sudah mengetahui segalanya.
  3. Pendidikan sebagai jalan hidup. Di negara maju, pendidikan dianggap sebagai satu-satunya cara mengubah hidup. Sebaliknya, di Indonesia masih ada perdebatan soal penting atau tidaknya kuliah.
  4. Pemanfaatan teknologi. Mahasiswa Indonesia dinilai hanya berfokus pada cara menggunakan teknologi, sedangkan mahasiswa luar sudah memikirkan bagaimana menciptakan teknologi baru untuk pesawat, kapal, hingga kecerdasan buatan (AI).
  5. Etos belajar tinggi. Mahasiswa luar menjadikan belajar sebagai prioritas utama. Ia bahkan sempat merasa terasingkan karena kegemarannya belajar, namun kemudian sadar bahwa ia hanya berada di lingkungan yang salah.

Ia mengibaratkan perbedaan tersebut seperti mahasiswa Indonesia yang baru belajar berjalan, sementara mahasiswa negara maju sudah bersiap memenangkan maraton internasional.

“Dari situ aja gap-nya udah jauh banget. Analoginya, kita baru belajar cara melangkah, mereka sudah belajar bagaimana memenangkan maraton internasional. Gua yakin perspektif ini gak akan gue dapatkan tanpa masuk terjun langsung bertanding dengan mereka,” pungkasnya.

Baca juga: Skolla dan Kemendikdasmen Perkuat Inovasi Sosial demi Pendidikan Setara

Unggahan ini langsung menyita perhatian warganet. Banyak yang setuju dengan pandangannya dan menyoroti fakta bahwa di Indonesia, untuk menjadi pejabat pemerintahan tidak perlu memiliki latar belakang sarjana.

“Sulit, Mas. Dikasih pilihan pemimpin yang berilmu dan yang kosong aja pada pilih yang kosong. Karena yang penting viral,” ujar akun @veri*.

“Beda peluang. Di China, segala jenis inovasi dihargai. Lah kalau di Konoha boro-boro dihargai, dicap tidak layak iya. Buktinya? Alat penyembuh kanker, bahan bakar air, mobil listrik, dan masih banyak lagi,” tulis akun @pasyah*.

“Di China itu rakyat dan pemerintah saling support. Yang buat rakyatnya maju adalah SDM pemerintah yang kompleks dan kompeten, tidak suka bercanda, setiap program itu bermanfaat,” tambah akun @peter*.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: TikTok/@aristyor

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU