INDOZONE.ID - Kadang, dalam suatu hubungan kita selalu ingin didengar, tapi lupa jadi pendengar yang baik. Padahal, salah satu kunci hubungan tetap hangat dan nggak dipenuhi drama adalah saling mengerti.
Nah, salah satu cara mengerti pasangan kita adalah jadi pendengar yang baik. Bukan cuma dengar kata-katanya, tapi juga mengerti perasaan di baliknya.
Kalau kamu pengin hubungan yang makin kuat dan minim salah paham, coba deh mulai lakukan active listening! Caranya juga nggak sulit, asal kamu mau hadir sepenuhnya dan fokus ke pasanganmu.
Yuk, simak tips sederhana tapi ampuh buat jadi pendengar yang bikin pasanganmu merasa aman dan dihargai!
Apa Arti Active Listening dalam Hubungan?
Dilansir dari The Knot, active listening adalah teknik komunikasi di mana kita benar-benar fokus ke cerita pasangan. Jadi, bukan cuma dengar telinga kanan keluar kuping kiri.
Kamu bisa kasih perhatian penuh, mencoba memahami maksudnya, menanggapi dengan empati, dan pastinya nggak menghakimi.
Intinya, kamu hadir sepenuhnya, bukan cuma telinga yang kerja, tapi juga mata dan hati. Tatap matanya, dengarkan dengan penuh empati, dan buang dulu keinginan buat selalu benar.
Kalau bisa jadi pendengar yang aktif, pasanganmu bakal merasa lebih aman dan nyaman setiap kali ngobrol sama kamu.
Mendengarkan kayak gini bisa bantu bangun kepercayaan, bikin hubungan makin dekat, dan mencegah pertengkaran yang nggak perlu.
Baca juga: Sudahi Galaumu, Lakukan 4 Cara Ini Biar Kamu Tidak Terjebak HTS atau Hubungan Tanpa Status!
Apa Sih Manfaat Active Listening buat Hubungan?
Salah satu kunci hubungan sehat dibangun dari komunikasi yang baik. Nah, active listening adalah cara utamanya.
Ada beberapa manfaat yang bisa diambil kalau kita jadi pendengar yang baik. Sikap ini bisa meningkatkan rasa aman dan percaya, mengurangi salah paham, dan tentunya menambah koneksi lebih dalam.
Baca juga: Soft Launch vs Hard Launch Hubungan Percintaan Zaman Now: Mana Gaya Kamu?
Gimana Cara Jadi Pendengar yang Baik?
Tips jadi pendengar yang baik bagi pasangan (Freepik)
1. Fokus Sepenuhnya
Taruh dulu HP kamu dan fokus ke pasanganmu. Bahasa tubuh kayak kontak mata atau anggukan kecil udah cukup buat menunjukkan kalau kamu beneran mendengarkan.
2. Validasi Perasaan Pasangan
Kamu emang nggak harus selalu setuju, tapi penting banget buat mengakui perasaannya. Ada contoh kalimat yang menenangkan, misalnya, “Aku ngerti sih kenapa kamu kesel.” Kalimat sederhana kayak gitu aja udah bisa bikin pasanganmu ngerasa dimengerti.
3. Ulangi Apa yang Kamu Dengar
Kamu juga bisa mengulangi ceritanya dengan kalimatmu sendiri. Ini cara biar pasanganmu tahu kalau kamu benar-benar memahaminya.
Contohnya, “Jadi kamu capek banget gara-gara kerjaan numpuk dan kamu cuma pengin istirahat pas sampai rumah, ya?”
Kalimat ini menunjukkan kalau kamu nggak cuma mendengar kata-katanya, tapi juga mengerti maksud dan emosinya.
4. Tanyakan Hal yang Membuka Obrolan
Daripada nanya hal-hal ribet, coba kasih pertanyaan yang lebih terbuka. Kalimat kayak, “Gimana perasaanmu pas kejadian tadi?” atau “Ada cerita apa aja hari ini?”
5. Jangan Langsung Kasih Solusi
Kadang, pasangan cuma butuh didengerkan, bukan dikasih saran. Jadi, sebelum kamu kasih solusi, tanya dulu, “Kamu mau aku bantu cari jalan keluar atau cukup dengerin aja?”
6. Santai dan Jangan Takut Hening
Diam sebentar itu nggak apa-apa, kok. Kadang, momen hening malah bisa membantu pasangan buat lebih terbuka. Namun, jangan terlalu lama larut dalam diam ya!
7. Latihan Tiap Hari
Kalau udah menikah, coba sisihkan waktu sekitar 10 menit tiap hari buat mengobrol tanpa gangguan. Bisa sambil makan malam atau sebelum tidur.
Sementara buat yang masih pacaran, kamu bisa menyediakan waktu sebentar di akhir hari buat nanya kegiatan. Lama-lama, kebiasaan kecil ini bisa bikin komunikasi kalian makin kuat.
Jadi pendengar yang baik itu nggak harus selalu kasih solusi. Kadang, kita cukup mendengarkan aja biar orangnya nggak merasa sendirian. Udah siap buat jadi pendengar buat pasanganmu?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Knot