INDOZONE.ID - Desember sering datang dengan dua wajah. Di satu sisi, ada lampu-lampu perayaan, libur panjang, dan harapan baru.
Tapi di sisi lain, akhir tahun juga kerap membawa kabar duka. Banjir, longsor, gempa, hingga angin kencang seperti menjadi tamu yang datang tanpa diundang.
Saat sebagian orang sibuk merencanakan liburan, ada saudara-saudara kita yang justru kehilangan rumah, keluarga, bahkan masa depan.
Puisi singkat kerap menjadi cara paling jujur untuk menyampaikan rasa. Tidak berisik, tapi menghantam pelan ke hati.
Di tengah hiruk pikuk akhir tahun, tujuh puisi singkat ini hadir sebagai pengingat, Desember bukan hanya tentang perayaan, tapi juga tentang empati dan doa.
Baca juga: 7 Puisi Singkat tentang Akhir Tahun yang Menyentuh Hati
7 Puisi Singkat tentang Duka Bencana Alam
1. Hujan yang Tak Lagi Sama
Hujan turun seperti biasa
tapi kali ini membawa air mata
rumah hanyut, kenangan runtuh
Desember basah oleh duka yang tak sempat pamit
2. Tanah yang Menelan Doa
Tanah bergerak tanpa aba-aba
menelan cerita dan harapan
kami memanggil nama dalam sunyi
namun yang tersisa hanya gema dan debu
3. Desember di Pengungsian
Tahun hampir berganti
tapi kami masih menghitung kehilangan
di tenda-tenda tipis
kami belajar bertahan sambil menahan rindu rumah
4. Langit yang Terlalu Diam
Langit cerah setelah badai
namun hati kami masih gelap
nama-nama itu hilang terbawa arus
tinggal doa yang terus kami kirim ke langit
Baca juga: 7 Puisi Singkat tentang Maaf: Kata-kata Ringkas Tapi Ngena di Hati
5. Api, Air, dan Keheningan
Api membakar, air menenggelamkan
alam bicara dengan caranya sendiri
manusia hanya bisa terdiam
belajar kecil di hadapan semesta
6. Akhir Tahun Tanpa Pelukan
Tahun ini kami tak berkumpul lengkap
satu kursi kosong di ruang tamu
Desember mengajarkan
bahwa perpisahan bisa datang tanpa permisi
7. Doa di Tengah Puing
Di antara puing dan lumpur
kami menggenggam harapan rapuh
Tuhan, jika esok masih ada
biarlah kami bangkit perlahan
Baca juga: 7 Puisi Singkat tentang Desember yang Bikin Hati Adem Jelang Akhir Tahun
Puisi-puisi ini mungkin singkat, tapi rasa di baliknya panjang dan dalam. Akhir tahun seharusnya bukan hanya soal resolusi pribadi, tapi juga tentang refleksi bersama.
Tentang bagaimana alam mengingatkan manusia untuk lebih rendah hati, lebih peduli, dan tidak lupa berbagi.
Di Desember yang sering dipenuhi bencana, semoga kita tidak hanya sibuk menutup tahun dengan pesta, tapi juga membuka hati untuk mereka yang sedang berjuang bertahan. Karena terkadang, doa dan empati adalah hadiah akhir tahun paling berarti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ide Penulis