Sabtu, 10 JANUARI 2026 • 11:32 WIB

Apa yang Sebenarnya Membuat Seseorang Tertarik Padamu?

Author

Ilustrasi ketertarikan fisik dengan lawan jenis (freepik).

INDOZONE.ID - Di era banjir konten percintaan — mulai dari tutorial PDKT instan sampai ramalan kecocokan zodiak — kita sering digiring untuk percaya bahwa rasa tertarik bisa “diciptakan” dengan rumus tertentu. 

Padahal, jika dilihat dari kacamata psikologi, ketertarikan fisik jauh lebih kompleks, halus, dan sering kali tidak masuk akal.

Rasa suka jarang muncul karena satu alasan tunggal. 

Ia terbentuk dari berbagai elemen yang saling tumpang tindih dan bekerja diam-diam di balik kesadaran kita. 

Itulah sebabnya cinta sering terasa spontan, membingungkan, dan sulit dijelaskan dengan logika sederhana.

Baca juga: Mural Perempuan di India Diserang Aksi Vandalisme Mesum, Seorang Pria Langsung Menutupinya dengan Cat Hitam

Berikut upaya memahami bagaimana ketertarikan bisa muncul secara alami, tanpa drama dan tanpa manipulasi.

1. Menarik itu lebih dari sekadar wajah

Penampilan memang berpengaruh, tetapi daya tarik tidak berhenti di tampilan fisik. 

Cara seseorang berbicara, bergerak, bereaksi, hingga membawa dirinya dalam situasi sosial sering kali lebih berkesan dibandingkan bentuk wajah atau tubuh semata.

Setiap orang memiliki definisi “menarik” versi pribadi. 

Faktor pengalaman hidup, paparan media, hingga hubungan masa lalu ikut membentuk selera ini. 

Baca juga: Cewek Ini Ungkap Harga Sewa Rumah Susun Rp60 Ribu Per Bulan, Disebut Netizen Mirip Shinbi House

Bahkan, ketertarikan tidak selalu muncul di awal pertemuan — kadang justru tumbuh perlahan seiring waktu dan kedekatan emosional.

2. Semakin sering bertemu, semakin terbiasa

Otak manusia cenderung menyukai hal-hal yang familiar. 

Tanpa sadar, kita lebih mudah merasa nyaman dengan orang yang sering kita temui. 

Dari rasa nyaman itulah, benih ketertarikan kerap muncul.

Tak heran jika banyak kisah cinta berawal dari lingkungan yang sama: tempat kerja, kampus, atau lingkar pertemanan. 

Baca juga: Ketika Pembaca Tarot Jadi Tempat Curhat Para Gen Z: Bentuk Pertumbuhan Emosional dan Spiritual

Kedekatan memang tidak otomatis melahirkan cinta, tetapi sering menjadi pintu pertamanya.

3. Nyambung itu lebih menarik daripada berbeda

Kesamaan cara berpikir, nilai hidup, atau minat membuat interaksi terasa lebih mudah dan menyenangkan. 

Ada rasa “klik” yang membuat kita merasa dipahami tanpa perlu banyak penjelasan.

Meski konsep “lawan menarik” terdengar romantis, dalam kenyataannya kesamaan justru lebih berperan di tahap awal ketertarikan. 

Bahkan pasangan yang tampak bertolak belakang sering menemukan bahwa mereka sejalan dalam hal-hal yang paling mereka anggap penting.

Baca juga: Hari Pertama Mengajar, Guru Tutor Bahasa Inggris Ini Terkejut Dipanggil Jule oleh Murid-Muridnya

4. Ketika rasa itu tidak sepihak

Kita cenderung lebih tertarik pada orang yang juga menunjukkan ketertarikan. 

Bukan karena permainan psikologis, melainkan karena perasaan dihargai dan diinginkan membuat seseorang terlihat lebih positif di mata kita.

Sering kali, ketertarikan tumbuh secara timbal balik. Satu respons kecil bisa memicu reaksi, lalu berkembang menjadi perasaan yang lebih kuat. 

Dalam beberapa kasus, keyakinan bahwa seseorang menyukai kita saja sudah cukup untuk memantik rasa suka balik.

Baca juga: Terungkap! Lokasi Ayunan Meme Berlatar Senja Viral di Media Sosial yang Bikin Netizen Penasaran

5. Emosi kuat yang disalahartikan

Tubuh manusia tidak selalu bisa membedakan emosi dengan akurat. Detak jantung yang cepat karena tegang, takut, atau bersemangat bisa terasa mirip dengan sensasi jatuh cinta.

Inilah alasan mengapa pengalaman yang memicu adrenalin — seperti aktivitas menantang atau situasi penuh emosi — sering membuat orang merasa lebih dekat. 

Kadang, yang kita rasakan bukan hanya ketertarikan pada orangnya, tetapi juga pada momen yang sedang dialami bersama.

Jika disederhanakan, ketertarikan sering dipengaruhi oleh lima hal utama: kesan personal, kedekatan, kesamaan, rasa yang berbalas, dan konteks emosi yang kuat. Namun, tidak ada formula universal yang berlaku untuk semua orang.

Menariknya, setelah hubungan terjalin, bias-bias psikologis ini justru membantu cinta bertahan. 

Baca juga: 374.839 Pohon Ditanam PNM, Jejak Nyata Hijaukan Negeri di Hari Gerakan Satu Juta Pohon

Kita menjadi lebih toleran terhadap kekurangan pasangan dan tidak mudah tergoda oleh alternatif lain. 

Dalam arti tertentu, cinta memang tidak sepenuhnya rasional — dan justru di situlah kekuatannya.

Mungkin, dalam urusan perasaan, tidak semua bias perlu diperbaiki. 

Beberapa di antaranya ada agar kita bisa memilih, bertahan, dan merasa cukup dengan pilihan yang sudah kita buat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Psychologytoday.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU