Senin, 02 FEBRUARI 2026 • 18:15 WIB

Lebih Capek dari Putus Cinta, Ini Alasan Situationship Bikin Mental Terkuras

Author

Ilustrasi situationship. (freepik)

INDOZONE.ID - Situationship sering dianggap sebagai hubungan santai tanpa komitmen. Padahal, hubungan tanpa status justru kerap menghadirkan konflik batin yang tidak sederhana. 

Berbeda dengan putus cinta yang memiliki akhir jelas, situationship cenderung berjalan tanpa arti. Kondisi inilah yang memicu kelelahan emosional dalam hubungan, karena seseorang terus bertahan, menunggu, dan berharap pada sesuatu yang belum tentu pasti.

Berikut beberapa alasan situationship bikin mental terkuras.

Baca juga: Kapan Waktu yang Tepat untuk Mutusin Pacar Karena Hubungan yang Tak Direstui? Intip Jawaban Ini!

Alasan Susah Move On dari Situationship

Ilustrasi pasangan yang mengalami situationship. (freepik)

1. Tidak Ada Kepastian, Hanya Harapan Sepihak

Dalam situationship, perasaan sering berkembang lebih cepat daripada kesepakatan. Satu pihak bisa merasa sudah menjalin ikatan emosional, sementara pihak lain masih merasa bebas tanpa komitmen apa pun.

Ketimpangan ini kerap menjadi tanda terjebak situationship. Setiap pesan ditunggu dengan penuh harap, setiap perubahan sikap dianalisis berlebihan, hingga akhirnya memicu overthinking yang melelahkan secara mental.

Baca juga: 5 Tips Menjaga Privasi Hubungan agar Gak Kebablasan Oversharing

2. Sulit Menentukan Hak dan Batasan Emosional

Tanpa status yang jelas, batasan dalam hubungan menjadi kabur. Tidak tahu kapan boleh berharap, kapan berhak menuntut, dan kapan harus menahan perasaan agar tidak terlihat berlebihan.

Kondisi ini umum terjadi dalam hubungan abu-abu yang melelahkan, di mana seseorang lebih sering menekan perasaan sendiri demi mempertahankan kedekatan yang rapuh.

Menahan emosi terus-menerus inilah yang membuat situationship terasa sangat menguras energi.

3. Rasa Kehilangan yang Tidak Pernah Diakui

Ketika situationship berakhir, rasa kehilangan yang muncul sering kali tidak dianggap serius. Lingkungan sekitar kerap memandangnya bukan sebagai perpisahan yang “resmi”, sehingga tidak ada ruang berduka yang layak.

Padahal, ikatan emosional yang terbentuk bisa sangat dalam. Luka yang tidak diakui ini membuat banyak orang susah move on dari situationship, karena perasaannya seolah tidak pernah divalidasi.

4. Terjebak dalam Siklus Berharap dan Kecewa

Situationship sering berjalan dalam pola berulang: mendekat, menjauh, lalu kembali lagi. Setiap kedekatan menumbuhkan harapan baru, sementara setiap jarak menghadirkan kekecewaan.

Siklus ini memperparah kelelahan emosional dalam hubungan, karena emosi terus naik turun tanpa kepastian arah. Tidak ada kejelasan untuk melangkah maju, tapi juga terlalu sulit untuk benar-benar pergi.

5. Berakhir Tanpa Penutupan yang Jelas

Berbeda dengan putus cinta yang memiliki momen perpisahan, situationship sering berakhir secara perlahan tanpa penjelasan. Hubungan memudar begitu saja, meninggalkan banyak pertanyaan yang tidak terjawab.

Ketidakjelasan ini membuat hubungan tanpa status terasa semakin berat. Bukan karena rasa cinta belum selesai, melainkan karena ceritanya tidak pernah benar-benar ditutup.

Situationship melelahkan karena menguras emosi tanpa memberikan kepastian. Hubungan ini memaksa seseorang terus menyesuaikan diri, menimbang perasaan sendiri, dan berharap pada sesuatu yang belum tentu datang.

Pada akhirnya, kejelasan adalah bentuk perhatian paling sederhana dalam hubungan. Jika lebih sering menghadirkan lelah daripada ketenangan, mungkin yang perlu diperjuangkan bukan orangnya, melainkan keberanian untuk berhenti dan memilih diri sendiri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Timesofindia.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU