Jumat, 06 FEBRUARI 2026 • 18:05 WIB

Hati-Hati! Ghibah Bisa Jadi Lebih Ngeri dari yang Kamu Kira, Ini Peringatan Kerasnya dalam Islam

Author

Ilustrasi ghibah (freepik).

INDOZONE.ID - Ngobrol memang seru, apalagi kalau sudah ramai dan terasa akrab. 

Tapi tanpa sadar, obrolan santai bisa berubah jadi dosa besar. Salah satu dosa lisan yang paling sering diremehkan adalah ghibah atau backbiting.

Dalam Islam, ghibah bukan sekadar gosip. Dampaknya bukan cuma merusak hubungan sosial, tapi juga bisa menggerogoti pahala tanpa disadari.

Apa Sebenarnya Ghibah Itu?

Ghibah adalah membicarakan seseorang saat ia tidak ada, tentang sesuatu yang tidak ia sukai jika mendengarnya. 

Baca juga: Kesimpulan adalah: Pengertian, Fungsi, Ciri-ciri, serta Contohnya

Topiknya bisa apa saja—kekurangan, kesalahan, sifat pribadi, bahkan hal yang benar sekalipun.

Selama pembicaraan itu tidak memiliki alasan syar’i, maka tetap dihitung sebagai ghibah. Jadi, fakta bukan pembenaran.

Al-Qur’an Menyebut Ghibah dengan Gambaran yang Mengerikan

Larangan ghibah ditegaskan langsung dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah menggunjing satu sama lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Baca juga: Pengertian Apresiasi Adalah: Makna, Tahapan, Tujuan, dan Fungsinya Secara Lengkap

Perumpamaan ini bukan tanpa alasan. Allah menggambarkan ghibah sebagai perbuatan yang menjijikkan untuk menunjukkan betapa berat dan tercelanya dosa tersebut.

Rasulullah SAW: Benar Tetap Salah, Apalagi Bohong

Rasulullah ﷺ menjelaskan makna ghibah dengan sangat gamblang. Dalam hadits sahih, beliau bersabda:

“Tahukah kalian apa itu ghibah?”

Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Beliau bersabda, “Engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak sukai.”

Ada yang bertanya, “Bagaimana jika yang aku katakan itu benar?”

Beliau menjawab, “Jika benar, maka engkau telah mengghibahinya. Jika tidak benar, maka engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim)

Baca juga: Struktur Teks Biografi: Pengertian, Ciri, Unsur, dan Contohnya Lengkap

Artinya jelas: benar saja sudah dosa, apalagi jika yang dibicarakan ternyata dusta.

Kenapa Ghibah Masuk Dosa Serius?

Islam sangat menjaga kehormatan manusia. Ghibah melukai martabat seseorang saat ia tak bisa membela diri. 

Dari sinilah muncul konflik, kebencian, dan rusaknya kepercayaan.
Lebih dari itu, ghibah berdampak langsung pada kondisi hati. 

Ia membuat hati keras dan menjauhkan seseorang dari rahmat Allah.
Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca juga: Volunteer: Arti, Jenis Kegiatan, Manfaat, serta Contoh Program di Indonesia dan Internasional

Diam sering kali jauh lebih selamat daripada bicara tanpa kontrol.

Ghibah yang Sering Terjadi Tanpa Disadari

  • Ghibah tidak selalu berbentuk gosip besar. Justru yang paling sering adalah yang terlihat sepele, seperti:
    Membahas kekurangan teman, pasangan, atau rekan kerja 
  • Membuka aib orang lain dengan dalih “curhat”
  • Candaan yang merendahkan fisik atau kebiasaan seseorang
  • Membandingkan orang lain dengan nada negatif

Di era digital, ghibah semakin mudah terjadi lewat grup chat, komentar media sosial, hingga unggahan sindiran.

Baca juga: Kisah Ibu Kresnawati Naik Kelas Bareng Holding Ultra Mikro, dari Warung Rumah hingga Agen BRILink Mekaar

Cara Simpel Menghindari Ghibah

Islam tidak hanya melarang, tapi juga memberi jalan keluar:

  1. Tahan lisan sebelum bicara: tanya diri sendiri: “Kalau aku di posisi dia, aku terima nggak?”
  2. Ingat dalil Al-Qur’an dan hadits: menghadirkan QS. Al-Hujurat: 12 bisa menjadi rem yang kuat.
  3. Bangun empati: semakin kita memahami orang lain, semakin kecil keinginan untuk membicarakannya.
  4. Diam atau alihkan topik: tidak ikut nimbrung adalah bentuk menjaga diri.
  5. Tegur secara langsung, bukan di belakang: jika ingin memperbaiki, sampaikan dengan cara yang baik dan pribadi.
  6. Ganti ghibah dengan kebaikan: gunakan lisan untuk doa, nasihat, dan kata-kata yang menenangkan.

Baca juga: IPTEK: Pengertian, Ruang Lingkup, Peran, dan Contoh Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Ghibah mungkin terasa ringan saat diucapkan, tapi bisa menjadi beban berat di akhirat. Lisan adalah amanah, dan setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban.

Menjaga lisan bukan berarti pasif atau lemah, tapi tanda kedewasaan iman dan kecerdasan spiritual. 

Karena dalam Islam, diam yang terjaga jauh lebih bernilai daripada bicara yang melukai.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Studioarabiyainegypt.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU