Sabtu, 07 FEBRUARI 2026 • 18:32 WIB

Denial Adalah: Pengertian, Jenis, Ciri, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Author

Ilustrasi denial. (Freepik)

INDOZONE.ID - Kadang, saat menghadapi masalah atau kenyataan yang berat, kamu suka menutup mata atau pura-pura semuanya baik-baik saja. Sikap seperti itu disebut denial atau penyangkalan.

Di artikel ini, kita bakal bahas apa itu denial, jenis-jenisnya, ciri-cirinya, penyebabnya, dan cara menghadapinya, supaya lebih mudah mengenali dan mengelola perasaan sendiri.

Apa Itu Denial?

Secara sederhana, denial adalah ketika seseorang menolak menerima kenyataan atau fakta yang sulit diterima. Otak kita kadang menolak menerima hal-hal yang bikin cemas atau sedih, supaya kita punya waktu untuk menyesuaikan diri.

Contohnya, pasangan nggak mau bicara soal masa depan atau komitmen serius, tapi kamu tetap berpikir, “Nanti dia pasti berubah.” Padahal, kenyataannya belum tentu. Inilah bentuk denial dalam menghadapi realita hubungan.

Jadi, denial itu seperti “tameng sementara” yang membuat kita nggak terlalu kewalahan menghadapi kenyataan yang menyakitkan. Namun, kalau bertahan terlalu lama, denial justru bisa membuat masalah makin menumpuk.

Baca juga: Modus Love Bombing yang Bisa Manipulasi Korban, Simak Cara Deteksi Pelaku

Jenis-Jenis Denial

Denial nggak selalu sama pada setiap orang. Ada beberapa jenis yang umum terjadi:

1. Simple Denial (Menolak Fakta)

Ini saat kita bener-bener menolak mengakui fakta. Dengan cara ini, orang bisa merasa aman sementara karena nggak harus menghadapi kenyataan yang berat.

2. Minimizing (Meremehkan Masalah)

Di sini, orang sadar ada masalah, tapi kamu meremehkannya. Cara ini membuat perasaan nggak terlalu terguncang meski masalah sebenarnya cukup serius.

3. Rationalizing (Mencari Alasan)

Otak kita suka bikin alasan biar suatu hal yang nggak nyaman terasa masuk akal. Jadi, kita bisa tetap tenang meski sebenernya ada yang nggak beres.

4. Proyeksi (Menyalahkan Orang Lain)

Kadang lebih gampang nyalahin orang lain daripada mengakui kesalahan sendiri. Dengan begitu, kita tetap merasa aman dan nggak terlalu terguncang.

Ciri-Ciri Seseorang Sedang Denial

Seseorang yang terjebak dalam fase ini biasanya menunjukkan tanda-tanda berikut:

  • Sering bilang, “Ah, nggak masalah” atau “Aku baik-baik saja” padahal situasinya nggak normal.
  • Menghindari pembicaraan tentang masalah yang sulit.
  • Menyalahkan orang lain atau keadaan supaya nggak merasa bersalah.
  • Mengabaikan fakta atau bukti yang ada.
  • Menghindari emosi atau pengalaman yang bikin stres.

Penyebab Denial

Denial muncul karena otak ingin melindungi diri dari tekanan emosional yang terlalu berat. Beberapa penyebabnya antara lain:

  1. Trauma atau kehilangan: Misalnya kehilangan orang yang dicintai, putus cinta, perceraian, atau kecelakaan.
  2. Stres berat: Masalah pekerjaan, keuangan, atau kesehatan bisa memicu denial.
    Ketidakmampuan menghadapi kenyataan: Kadang kenyataan terlalu sulit diterima, sehingga kita menutup mata dulu.
  3. Masalah mental tertentu: Gangguan kecemasan atau depresi bisa membuat seseorang cenderung menyangkal situasi.

Jadi, denial sebenarnya wajar sebagai respons awal, tapi harus dihadapi supaya nggak menjadi masalah yang lebih besar.

Baca juga: Soft Spoken Artinya Apa? Ini Pengertian, Ciri-Ciri, dan Contohnya

Cara Mengatasi Denial

Denial bisa diatasi, asal kita mau sadar dan menghadapi kenyataan secara bertahap. Berikut beberapa tips yang bisa dicoba:

1. Sadari Dan Terima Kenyataan

Langkah pertama adalah sadar kalau kamu sedang menyangkal sesuatu. Jangan buru-buru menilai diri sendiri—cuma terima bahwa ada hal yang memang sulit.

2. Curhat atau Ngobrol 

Bicara sama teman, keluarga, atau konselor bisa bikin perasaan lebih lega. Kadang cuma dengerin diri sendiri nggak cukup.

3. Tulis Pikiran Dan Perasaan

Menulis jurnal atau catatan harian membantu menyadari apa yang sebenarnya kamu rasain. Nggak usah rapi, yang penting bisa keluarkan emosi.

4. Ambil Langkah Kecil

Nggak harus langsung menghadapi semuanya sekaligus. Pecah masalah jadi langkah-langkah kecil supaya lebih mudah dihadapi.

5. Cari Bantuan Profesional Kalau Perlu

Kalau denial terlalu lama atau bikin hidup terganggu, psikolog atau terapis bisa bantu menghadapi kenyataan dengan cara yang lebih sehat.

6. Belajar Jujur Sama Diri Sendiri

Latihan untuk mengakui perasaan dan masalah yang ada, meski awalnya nggak nyaman. Semakin sering dilatih, semakin mudah menghadapi kenyataan.

Baca juga: 5 Tips Menghindari Pelaku Love Bombing Menurut Detektif Asmara Jubun

Ingat, menolak kenyataan itu manusiawi, tapi belajar menerima dan menghadapi kenyataan adalah langkah penting agar hidup lebih sehat secara emosional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Gramedia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU