INDOZONE.ID - Hubungan yang terasa intens dan manis sejak awal ternyata tidak selalu berujung bahagia. Dalam banyak kasus, perhatian berlebihan justru jadi pintu masuk penipuan asmara bermodus love bombing.
Pola ini makin sering muncul melalui hubungan daring, dengan korban yang kerap tidak sadar sedang dimanipulasi secara emosional.
Detektif Jubun, detektif swasta Indonesia yang dikenal menangani kasus-kasus asmara, menyebut modus ini bekerja halus tapi berdampak besar.
Korban dibuat merasa spesial dalam waktu singkat, lalu perlahan diarahkan ke situasi yang merugikan.
Baca juga: Apa Itu Love Bombing? Ini Tanda-tandanya Menurut Psikolog
Gambaran Kasus Love Bombing
Menurut Detektif Jubun, sebagian besar kasus bermula dari perkenalan online. Pelaku biasanya langsung tampil sangat meyakinkan dan intens sejak awal komunikasi.
“Kasus yang kami tangani umumnya bermula dari hubungan daring. Pelaku sangat agresif memberi pujian, janji masa depan, bahkan menyebut jodoh dalam hitungan hari,” ujarnya.
Mayoritas klien adalah perempuan usia 30–55 tahun, meski korban laki-laki juga ada. Pelaku sering membangun citra sebagai sosok ideal agar cepat dipercaya.
“Mengaku sebagai profesional mapan atau duda/janda,” kata Jubun.
Skenario Krisis Para Pelaku Love Bombing
Setelah korban terikat secara emosional, pelaku mulai memainkan skenario krisis yang terdengar masuk akal, tapi sebenarnya palsu.
“Menciptakan krisis palsu (bisnis, kesehatan, pajak), mengarahkan korban pada transfer uang, investasi fiktif, atau peminjaman rekening,” lanjutnya.
Jubun merangkum pola ini dengan kalimat yang sederhana namun tajam, dengan hati dibuat hangat tapi dompet dibuat dingin.
Cara Menemukan Pelaku dan Membuktikan Modusnya
Banyak korban belum langsung melapor ke polisi karena masih ragu atau belum siap menghadapi konsekuensi hukum. Di tahap awal inilah detektif swasta sering jadi pilihan untuk memastikan kebenaran.
“Banyak klien datang saat masih ragu atau belum siap melapor. Detektif swasta memberi ruang diskret, cepat, dan preventif untuk memastikan apakah seseorang itu nyata atau fiktif,” jelas Detektif Jubun.
Untuk mengungkap pelaku, tim detektif menggabungkan investigasi digital dan verifikasi lapangan. Mulai dari penelusuran akun media sosial, foto, pola komunikasi, hingga identitas yang digunakan pelaku.
“Kami menggabungkan investigasi digital, verifikasi identitas, serta penelusuran jaringan. Bukti dikompilasi secara kronologis agar kuat secara pembuktian,” ujarnya.
Baca juga: Bikin Baper Terus? Ini 6 Tanda Orang Love Bombing Terhadap Kamu, Bukan Cinta yang Sehat!
Apakah Pelaku Love Bombing Bisa Dipidana?
Jika bukti memenuhi unsur pidana, menurut Jubun, kasus bisa dilanjutkan ke aparat penegak hukum.
“Jika memenuhi unsur pidana, seperti penipuan, pemalsuan identitas, TPPU, kasus dapat diteruskan ke aparat,” kata Jubun.
Meski tidak semua pelaku berakhir di pengadilan, pengungkapan dini setidaknya bisa menghentikan kerugian korban sebelum makin besar.
Karena itu, perhatian berlebihan yang datang terlalu cepat sebaiknya tidak langsung dianggap romantis, tapi justru jadi sinyal untuk lebih waspada.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara Langsung