INDOZONE.ID - Setiap Ramadhan tiba, umat Muslim di Indonesia hampir serempak melafalkan doa berbuka puasa “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu…” saat adzan Maghrib berkumandang.
Doa berbuka puasa itu begitu populer dan diajarkan turun-temurun, sehingga banyak yang mengira hanya itulah satu-satunya bacaan yang dianjurkan.
Padahal, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui laman resminya menjelaskan bahwa terdapat beberapa pilihan doa berbuka puasa Ramadhan yang bersumber dari riwayat hadits para sahabat.
Dalam penjelasan yang dimuat MUI, momen berbuka puasa setelah seharian menahan lapar dan dahaga menjadi waktu istimewa untuk berdoa.
Rasulullah SAW menyebut doa orang yang berpuasa saat berbuka termasuk doa yang tidak tertolak.
Baca juga: Cantik Itu Bukan Cuma Soal Fisik: Ini Alasan Inner Beauty Lebih Nempel di Hati
Karena itu, membaca doa buka puasa bukan sekadar kebiasaan, tetapi bagian dari ibadah yang penuh makna syukur.
Selain “Allahumma laka sumtu wa ‘ala rizqika afthartu”, ada doa lain yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dan dicatat Imam Abu Daud, yakni: “Dzahabazh zhoma'u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah,” yang berarti, “Telah hilang dahaga, telah basah tenggorokan, dan telah tetap pahala, insya Allah.”
Doa ini menekankan rasa lega sekaligus harapan atas pahala setelah menunaikan puasa seharian penuh.
Riwayat lain yang disebutkan berasal dari Mu’adz bin Zahrah, yang berbunyi, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika aftartu,” atau “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”
Baca juga: Hak Warga Negara dalam Menjaga Lingkungan Hidup Bersih dan Sehat
Dalam praktiknya di masyarakat, doa ini kerap ditambah redaksi tentang iman dan tawakal, dan selama maknanya baik serta tidak menyimpang, hal itu tidak menjadi persoalan dalam syariat.
Imam al-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar juga mencatat doa yang diriwayatkan Ibnu Sunni dari Mu’adz bin Zahrah, “Alhamdulillahil ladzi a’anani shumtu wa razaqani fa afthartu,” yang artinya, “Segala puji bagi Allah yang telah menolongku sehingga aku bisa berpuasa dan memberiku rezeki sehingga aku berbuka.”
Doa ini menegaskan bahwa kemampuan menahan diri dan memperoleh hidangan berbuka adalah bentuk pertolongan Allah SWT.
Sementara itu, riwayat dari Ibnu Abbas menyebutkan doa, “Allahumma laka shumna wa ‘ala rizqika aftharna fataqabbal minna,” yang berarti, “Ya Allah, karena Engkau kami berpuasa dan dengan rezeki-Mu kami berbuka, maka terimalah dari kami.”
Ada pula doa yang diriwayatkan Ibnu Majah dan Ibnu Sunni dari Ibnu Umar, “Allahumma inni as’aluka birahmatika allati wasi’at kulla syai’in an taghfira li,” permohonan agar Allah mengampuni dosa dengan rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu.
Baca juga: Pramuniaga adalah: Pengertian, Tugas, Keterampilan, dan Perannya di Dunia Ritel
MUI menegaskan bahwa kelima doa berbuka puasa tersebut memiliki dasar riwayat yang dapat diamalkan.
Tidak ada kewajiban membaca semuanya sekaligus ketika waktu berbuka puasa Ramadhan tiba di rumah, masjid, atau tempat kerja saat adzan Maghrib berkumandang.
Umat Islam dapat memilih satu doa yang paling mudah dihafal dan dipahami maknanya agar lebih khusyuk ketika mengamalkannya.
Keberagaman doa buka puasa ini menunjukkan keluasan ajaran Islam dalam memberikan kemudahan bagi umatnya.
Baca juga: 7 Cara Tingkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Biar Ide Ngalir dan Karier Makin Melejit
Saat kurma pertama disantap atau seteguk air membasahi tenggorokan setelah seharian berpuasa, setiap Muslim memiliki kesempatan yang sama untuk memanjatkan doa berbuka puasa sesuai riwayat yang diajarkan Rasulullah SAW.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mui.or.id