INDOZONE.ID - Awalnya intens. Chat dibalas cepat, obrolan nyambung, bahkan sempat ketemu dan merasa “klik”.
Tapi entah kenapa, semua itu berhenti begitu saja. Tidak ada pesan, tidak ada penjelasan. Mendadak menghilang.
Kalau kamu pernah mengalaminya, kamu tidak sendirian. Fenomena ini dikenal sebagai ghosting — dan kejadiannya makin sering di era digital.
Ghosting bukan sekadar tidak membalas chat. Yang lebih menyakitkan justru karena tidak ada penutup.
Tidak ada kejelasan. Tidak ada alasan. Hubungan seakan berhenti di tengah jalan, meninggalkan tanda tanya besar di kepala orang yang ditinggalkan.
Baca juga: 5 Arti Mimpi Diperkosa Menurut Psikologi dan Maknanya
Siapa yang Paling Sering Melakukan Ghosting?
Berbagai riset menunjukkan ghosting lebih banyak terjadi di kalangan usia muda, terutama laki-laki, dan sangat umum dalam relasi yang dimulai lewat dunia digital seperti aplikasi kencan.
Kemudahan berpindah dari satu orang ke orang lain membuat sebagian orang merasa “tidak wajib” memberi penjelasan saat ingin pergi.
Menariknya, cara seseorang memaknai hubungan juga berpengaruh. Mereka yang percaya hubungan adalah soal “takdir” cenderung lebih mudah menerima ghosting.
Sebaliknya, orang yang memandang hubungan sebagai sesuatu yang perlu diperjuangkan biasanya melihat ghosting sebagai sikap tidak dewasa dan minim empati.
Baca juga: Metode Penelitian Kualitatif: Pengertian, Jenis, dan Contohnya
Kenapa Ada Orang Memilih Menghilang?
Alasannya tidak selalu karena tidak tertarik. Dari sisi psikologis, ghosting sering dipicu oleh beberapa hal:
- Takut konflik: menghilang terasa lebih mudah daripada harus menjelaskan perasaan yang berubah.
- Merasa tertekan: komunikasi yang terlalu intens atau tuntutan perhatian berlebihan bisa membuat seseorang memilih kabur.
- Karakter pribadi: individu dengan empati rendah atau kecenderungan manipulatif lebih berisiko melakukan ghosting karena fokus pada kenyamanan diri sendiri.
- Dan ya, ada pola yang sering terulang: orang yang pernah ghosting, cenderung akan melakukannya lagi.
Baca juga: Batas Waktu Sholat Subuh Sampai Jam Berapa? Ini Penjelasan dan Hukumnya!
Apakah Ghoster Selalu Orang Jahat?
Tidak selalu. Banyak pelaku ghosting sebenarnya sadar dengan apa yang mereka lakukan.
Sebagian bahkan merasa bersalah. Namun tetap memilih diam karena itu dianggap jalan paling cepat dan minim drama.
Masalahnya, menghindari konflik bukan berarti bebas dari dampak. Ghosting sering bukan tanda tidak peduli sama sekali, melainkan ketidakmampuan menghadapi percakapan yang tidak nyaman.
Dampak Psikologis bagi yang Ditinggalkan
Ghosting bisa terasa lebih menyiksa dibanding penolakan langsung. Bukan karena sakitnya lebih tajam, tapi karena lukanya lebih lama sembuh.
Baca juga: Konsiliasi Adalah: Pengertian, Tujuan, Proses, dan Contohnya Lengkap
Tanpa kejelasan, orang yang di-ghosting cenderung terus berharap, mengecek media sosial, dan mempertanyakan diri sendiri.
“Apakah aku salah?”
“Haruskah aku menunggu?”
Pertanyaan-pertanyaan ini bisa menguras energi emosional dan membuat seseorang sulit move on.
Ghosting dengan Alasan “Niat Baik”?
Ada yang berdalih menghilang demi tidak menyakiti perasaan orang lain. Sayangnya, niat baik tidak selalu berujung pada dampak yang baik.
Tapi nyatanya, diam tanpa penjelasan justru sering meninggalkan luka yang lebih dalam dan berkepanjangan.
Baca juga: 6 Cara Mudah Menghadapi Pacar Posesif, Biar Nggak Terkekang Lagi!
Kejujuran memang tidak selalu nyaman, tapi keheningan hampir selalu menyakitkan.
Ghosting bukan tentang kurangnya nilai dirimu, melainkan keterbatasan orang lain dalam berkomunikasi secara dewasa.
Kamu tidak perlu menunggu kejelasan dari mereka yang memilih menghilang.
Penutupan terbaik seringkali bukan datang dari jawaban mereka, tapi dari keputusanmu sendiri untuk berhenti berharap pada orang yang tidak hadir.
Pilih hubungan dengan mereka yang berani bicara, jujur, dan bertanggung jawab. Karena kamu layak jadi prioritas — bukan sekadar opsi yang bisa ditinggalkan tanpa kata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com