INDOZONE.ID - Malam takbiran Idul Fitri menjadi momen istimewa bagi umat Muslim. Setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadhan, malam tersebut diisi dengan gema takbir, tahmid, dan doa sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.
Namun, tidak sedikit pasangan suami istri yang bertanya: bagaimana hukum berhubungan suami istri di malam takbiran? Apakah diperbolehkan, atau justru sebaiknya dihindari?
Berikut penjelasan hukumnya menurut pandangan ulama beserta adab yang dianjurkan dalam Islam.
Baca juga: Doa Sebelum Berhubungan Suami Istri dalam Islam Lengkap dan Artinya
Hukum Berhubungan Suami Istri di Malam Takbiran
Secara umum, berhubungan suami istri adalah perbuatan yang halal dalam Islam selama dilakukan dalam ikatan pernikahan yang sah.
Setelah matahari terbenam di hari terakhir Ramadhan, maka puasa telah berakhir dan masuk waktu malam 1 Syawal. Artinya, larangan berhubungan suami istri yang berlaku saat siang hari di bulan Ramadhan sudah tidak berlaku lagi.
Dalam Alquran, Allah SWT berfirman:
"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu.." (QS. Al-Baqarah: 187)
Ayat ini menegaskan bahwa pada malam hari di bulan Ramadhan saja sudah dihalalkan, apalagi di luar Ramadan seperti malam Idul Fitri.
Maka secara hukum fikih, berhubungan suami istri di malam takbiran adalah halal dan diperbolehkan.
Tidak ada dalil yang secara khusus melarang hubungan suami istri pada malam tersebut.
Dalil dan Pendapat Ulama
Para ulama dari berbagai mazhab sepakat bahwa hubungan suami istri hukumnya mubah (boleh) selama tidak dilakukan pada waktu-waktu yang diharamkan, seperti saat istri sedang haid atau nifas.
Dalam literatur fiqih klasik seperti karya Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab yang ditulis oleh Imam Nawawi, dijelaskan bahwa hukum asal hubungan suami istri adalah boleh dan bahkan bisa bernilai ibadah jika diniatkan dengan benar.
Rasulullah SAW juga bersabda:
"Dan pada kemaluan salah seorang dari kalian terdapat sedekah." (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa hubungan suami istri bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi juga dapat bernilai pahala apabila diniatkan untuk menjaga kehormatan, mempererat hubungan, dan mengikuti sunnah.
Namun demikian, sebagian ulama mengingatkan agar umat Islam tetap menjaga suasana malam takbiran sebagai malam ibadah dan syukur.
Jika hubungan suami istri membuat lalai dari takbir, shalat, atau ibadah lainnya, maka hal tersebut tentu kurang utama.
Dengan kata lain, hukumnya boleh, tetapi tetap mempertimbangkan prioritas ibadah dan suasana spiritual malam Idul Fitri.
Baca juga: Boleh Nggak Sih Berhubungan Intim saat Hamil? Simak Penjelasannya
Adab Hubungan Suami Istri dalam Islam
Meski diperbolehkan, Islam tetap mengatur adab dalam hubungan suami istri agar dilakukan dengan penuh kehormatan dan nilai ibadah.
Beberapa adab yang dianjurkan antara lain:
1. Niat yang Baik
Niatkan hubungan untuk menjaga diri dari maksiat, mempererat kasih sayang, dan menjalankan sunnah Rasulullah SAW. Dengan niat yang benar, aktivitas ini bisa bernilai ibadah.
2. Membaca Doa Sebelum Berhubungan
Rasulullah SAW mengajarkan doa sebelum berhubungan suami istri agar dijauhkan dari gangguan setan dan diberi keturunan yang saleh.
3. Saling Ridha dan Tidak Memaksa
Hubungan suami istri harus dilakukan atas dasar kerelaan kedua belah pihak. Islam melarang perlakuan kasar dan pemaksaan karena pernikahan dibangun atas kasih sayang (mawaddah wa rahmah).
4. Menjaga Kebersihan
Setelah berhubungan, pasangan diwajibkan mandi junub sebelum melaksanakan ibadah seperti shalat Id. Kebersihan merupakan sebagian dari iman.
5. Menjaga Privasi
Islam sangat menekankan agar hubungan intim tidak diceritakan kepada orang lain. Rasulullah SAW mengecam keras orang yang menyebarkan rahasia hubungan suami istri.
Baca juga: 5 Jurusan Kuliah Populer yang Berhubungan dengan Komputer
Berhubungan suami istri di malam takbiran Idul Fitri hukumnya halal dan diperbolehkan menurut syariat Islam. Tidak ada dalil yang melarangnya, selama dilakukan dalam batasan yang telah ditetapkan agama.
Namun, sebagai malam yang penuh kemuliaan dan syukur, umat Islam tetap dianjurkan menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan ibadah kepada Allah SWT.
Pada akhirnya, Islam adalah agama yang seimbang, mengatur hubungan manusia dengan Tuhan sekaligus hubungan antar pasangan secara harmonis dan penuh adab.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nu Online