INDOZONE.ID - Pada 8 Maret dinyatakan sebagai Hari Perempuan Internasional. Sejak saat itu, perempuan di seluruh dunia merayakan keberanian serta tekad yang telah mengubah sejarah dan mengaitkan perayaan internasional ini dengan berbagai isu, kampanye, atau tema tertentu dalam perjuangan hak-hak perempuan setiap tahunnya.
Dengan semangat kepedulian sosial yang dirayakan bersama, bertepatan dengan suasana bulan Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar, seperti keadilan, empati, serta keberpihakan pada perempuan dan anak perempuan Indonesia yang masih tertinggal.
Tema global peringatan International Women’s Day tahun ini adalah “Rights, Justice, Action for All Women and Girls”, atau “Hak, Keadilan, dan Aksi untuk Semua Perempuan dan Anak Perempuan.”
Menurut Pendiri dan Ketua FNM Society sekaligus Ketua Dewan Pembina Indonesia Health Development Center (IHDC), Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, Sp.M(K), tema ini merupakan sebuah peta jalan sekaligus peringatan bagi kaum perempuan. Ia menekankan bahwa perempuan tidak hanya memiliki hak di atas kertas jika tidak dibarengi dengan keadilan dan aksi nyata.
“Kita berbicara tentang hak, kita tidak bisa memisahkannya dari tubuh dan kesehatan kita. Masih terlalu banyak perempuan yang kehilangan haknya untuk hidup hanya karena melahirkan, sebuah proses yang seharusnya menjadi anugerah, bukan ancaman,” ujarnya dalam acara Forum Perempuan: Rights, Justice, Action Dari Hak Menuju Aksi untuk Semua Perempuan dan Anak Perempuan di Jakarta.
Baca juga: 25 Inspirasi Ucapan Terima Kasih untuk Internasional Women's Day
Selaras dengan hal tersebut, WHO menyatakan bahwa kesehatan perempuan bukanlah sekadar isu sektoral. Hak atas standar kesehatan tertinggi, baik fisik maupun mental, merupakan inti dari masyarakat yang tangguh.
Di saat 1 dari 3 perempuan mengalami kekerasan dalam hidupnya, sistem kesehatan harus hadir sebagai garda depan perlindungan, bukan hanya sebagai tempat pengobatan.
Sementara itu, dari sisi pembangunan, Bank Dunia memaparkan data bahwa kesetaraan ekonomi dan akses terhadap keadilan hukum merupakan kunci pertumbuhan suatu negara. Negara-negara yang berhasil menghilangkan kesenjangan antara hak laki-laki dan perempuan akan memperoleh bonus demografi yang besar.
“Namun dalam realitanya, di negara yang masih memiliki kesenjangan, hak hukum yang dimiliki perempuan dibanding laki-laki masih menggambarkan ketidakadilan. Karena itu, tema ‘hak menuju aksi’ yang kita angkat hari ini adalah jawaban atas tantangan global tersebut,” kata Prof. Nila.
Karena itu, Prof. Nila mengajak semua pihak menjadikan momen International Women’s Day yang bertepatan dengan bulan penuh berkah ini sebagai momentum untuk berdiri tegap, menunjukkan jati diri, serta bersuara lantang demi keadilan dan aksi nyata bagi semua perempuan dan anak perempuan tanpa terkecuali.
Dalam forum tersebut, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (Menteri PPPA), Arifah Fauzi, turut hadir memberikan arahan. Ia menekankan bahwa kesetaraan gender merupakan salah satu prinsip penting dalam pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Menurut Arifah, kesetaraan gender berarti perempuan dan laki-laki memiliki hak, kesempatan, akses, partisipasi, serta kontrol yang setara terhadap sumber daya dan manfaat pembangunan.
“Ketika perempuan memperoleh kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dalam berbagai sektor kehidupan, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perempuan sendiri, tetapi juga oleh keluarga, masyarakat, dan negara,” ujarnya.
Arifah menambahkan bahwa berbagai studi menunjukkan pemberdayaan perempuan berkontribusi terhadap peningkatan kesehatan ibu dan anak, memperkuat ketahanan keluarga, serta meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat.
Dengan demikian, kesetaraan gender bukan hanya persoalan agar perempuan selamat, melainkan juga bagian penting dari strategi pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan.
Baca juga: Women’s Day 2023: Momentum Mengenang Perjuangan Perempuan Indonesia Meraih Haknya
Selanjutnya, jika melihat kondisi perempuan di Indonesia saat ini, berbagai kemajuan memang telah dicapai dan patut dirayakan.
Dari sisi pembangunan manusia, kesenjangan antara perempuan dan laki-laki semakin menyempit, khususnya dalam aspek kesehatan, pendidikan, standar hidup, serta bidang ekonomi.
“Selain itu, kita juga perlu memperhatikan partisipasi perempuan dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan, termasuk di bidang politik,” tuturnya.
Sementara itu, Growth and Emerging Market Leadership Team Takeda Pharmaceuticals, Figen Samdanci, menambahkan bahwa perempuan di mana pun berhak terbebas dari diskriminasi dan kekerasan, terutama dalam mendapatkan akses terhadap pelayanan kesehatan.
“Dalam konteks kesehatan masyarakat, peran perempuan sangat penting. Perempuan sering menjadi pihak pertama yang memperbaiki kondisi kesehatan keluarga dan masyarakat. Mereka adalah penjaga, pendidik, dan pemimpin yang memengaruhi keputusan yang berdampak pada kesejahteraan anak-anak dan generasi mendatang,” kata Figen.
Di sisi lain, semakin banyak perempuan yang bergerak dengan percaya diri, mengambil tanggung jawab lebih besar, dan memainkan peran aktif sebagai pengambil keputusan di organisasi maupun komunitas mereka.
“Saya juga melihat banyak perempuan berkembang secara profesional ketika diberikan kesempatan. Perkembangan ini tidak terjadi dalam semalam, melainkan merupakan upaya kolektif perempuan yang saling mendukung, melampaui batasan, dan menciptakan kesempatan bagi generasi berikutnya,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan