INDOZONE.ID - Pernah merasa hubunganmu seperti berjalan sendiri? Kamu sibuk mengurus banyak hal dari urusan rumah, menjaga komunikasi, hingga memastikan hubungan tetap “hidup” sementara pasangan terlihat santai dan minim inisiatif.
Fenomena ini ternyata cukup sering terjadi. Menariknya, banyak pria yang terlihat “diam” di rumah justru sangat aktif di tempat kerja. Mereka bisa menjadi sosok ambisius, cepat tanggap, bahkan pemimpin. Namun, saat pulang, energinya seolah hilang.
Sebenarnya, apa yang terjadi?
Terbiasa dengan Pola Lama
Banyak pria tumbuh dengan pola pikir lama: mereka fokus mencari nafkah, sementara urusan rumah dianggap bukan tanggung jawab utama.
Masalah muncul ketika realitas berubah, misalnya saat kedua pasangan sama-sama bekerja. Tanpa disadari, beban menjadi tidak seimbang. Dari sinilah rasa lelah dan konflik mulai muncul.
Baca juga: 5 Alasan Pasangan Susah Ekspresiin Emosi, Diam-diam Tapi Bikin Kamu Kepikiran!
Pernah Berusaha, tetapi Malah “Salah”
Tidak semua pria pasif sejak awal. Ada yang pernah mencoba terlibat lebih banyak, tetapi justru merasa usahanya dikritik atau dianggap kurang tepat.
Alih-alih terus mencoba, mereka memilih mundur. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena merasa apa pun yang dilakukan tetap dianggap salah. Akhirnya muncul pola, “Ya sudah, kamu saja yang lakukan.”
Hubungan Sudah Kehilangan Keseimbangan
Ketika seseorang merasa tidak dihargai atau tidak diperhatikan, respons yang sering muncul adalah menarik diri. Hal ini bisa berubah menjadi situasi canggung: dua orang saling menunggu siapa yang akan memulai lebih dulu. Tidak ada yang benar-benar maju, dan hubungan pun terasa dingin.
Menghindari Konflik
Bagi sebagian orang, konflik terasa melelahkan. Bahkan sekadar membuka pembicaraan bisa terasa menegangkan. Takut disalahkan, takut suasana memanas akhirnya memilih diam atau mengikuti saja.
Sayangnya, emosi yang dipendam tidak hilang. Justru bisa muncul dalam bentuk sindiran, sikap cuek, atau ledakan kecil yang tidak terduga.
Faktor Konsentrasi dan Kebiasaan
Ada juga yang berkaitan dengan kemampuan fokus dan konsistensi. Misalnya, mudah terdistraksi, sering menunda, atau sulit menyelesaikan tugas. Bagi pasangan, ini bisa terlihat seperti tidak peduli. Padahal, bisa jadi memang ada kesulitan dalam mengatur perhatian dan tanggung jawab.
Baca juga: Pasangan Tiba-Tiba Diam? Ini Cara Mengatasinya dengan Dewasa dan Sehat
Jadi, Apakah Bisa Berubah?
Jawabannya: bisa. Namun, bukan sekadar “harus lebih rajin” atau “jangan malas”.
Yang lebih penting adalah memahami akar masalahnya. Jika masalahnya soal pembagian peran, perlu dibicarakan ulang secara jujur. Jika ada rasa tidak dihargai, cara komunikasi harus diperbaiki. Jika menyangkut nilai dan ekspektasi, dibutuhkan kompromi yang adil.
Jika ada hambatan emosional atau personal, bantuan profesional bisa menjadi solusi. Sering kali, sikap pasif bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan cara seseorang melindungi diri dari hal yang belum terselesaikan.
Mulai dari Hal Kecil, tetapi Konsisten
Perubahan tidak harus langsung besar. Justru langkah sederhana sering lebih berdampak:
- Memulai percakapan jujur tanpa menyudutkan
- Belajar menerima kritik tanpa langsung defensif
- Memberi ruang untuk saling belajar tanpa saling menghakimi
Hubungan bukan soal siapa yang paling banyak berkorban, melainkan tentang dua orang yang sama-sama mau bergerak, bukan berjalan sendiri. Sebab, hubungan yang sehat dimulai saat keduanya benar-benar hadir bukan sekadar menjalani.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com