INDOZONE.ID - Isu kesetaraan gender sampai saat ini masih sering menjadi bahan perdebatan.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang salah paham dengan menganggap bahwa kesetaraan gender berarti perempuan mengalahkan atau menindas laki-laki.
Padahal, konsep ini jauh dari itu. Kesetaraan gender justru berbicara soal keadilan, kesempatan, dan hak yang sama bagi semua orang, tanpa memandang jenis kelamin.
Yuk, simak apa itu kesetaraan gender dengan bahasa yang lebih sederhana.
Baca juga: Kiprah Emma Poeradiredja, Bangsawan Sunda yang Mendorong Kesetaraan Gender di Indonesia
Apa Itu Kesetaraan Gender?
Secara umum, kesetaraan gender adalah kondisi di mana laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan sama, akses setara, serta punya hak dan kewajiban adil.
Konsep ini banyak dibahas dalam ilmu sosial, terutama Sosiologi yang melihat bagaimana peran gender terbentuk di masyarakat.
Artinya, kesetaraan gender bukan soal menyeragamkan peran, tapi memastikan tidak ada pihak yang dirugikan hanya karena jenis kelaminnya.
Meluruskan Kesalahpahaman Umum
Beberapa anggapan yang sering muncul di masyarakat, seperti kesetaraan gender berarti perempuan ingin lebih tinggi dari laki-laki, perempuan tidak butuh laki-laki, dan budaya Barat yang tidak cocok di Indonesia.
Padahal faktanya, kesetaraan gender adalah bentuk keadilan bukan dominasi, laki-laki dan perempuan tetap bisa punya peran berbeda, serta tujuannya agar semua orang punya peluang yang adil.
Jadi, ini bukan soal siapa yang lebih unggul, tapi bagaimana semua orang diperlakukan secara setara.
5 Bentuk Ketidakadilan Gender yang Sering Terjadi
Untuk memahami pentingnya kesetaraan gender, kita perlu bentuk ketidakadilan yang masih sering terjadi di kehidupan sehari-hari.
1. Marginalisasi (Peminggiran)
Terjadi ketika satu gender, biasanya perempuan, dipinggirkan secara ekonomi atau sosial.
Contohnya, perempuan dianggap tidak perlu kerja karena tugasnya di rumah.
2. Subordinasi (Penomorduaan)
Anggapan bahwa satu gender lebih rendah dari yang lain.
Contoh: Perempuan dianggap tidak cocok jadi pemimpin.
3. Stereotip (Pelabelan Negatif)
Memberi label tertentu berdasarkan gender.
Contohnya, perempuan itu emosional atau laki-laki tidak boleh menangis.
4. Kekerasan Berbasis Gender
Kekerasan yang terjadi karena perbedaan gender, baik fisik maupun verbal.
Contohnya, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan di tempat kerja, dan catcalling.
5. Beban Ganda
Seseorang (biasanya perempuan), harus menjalankan dua peran sekaligus.
Contohnya, bekerja full-time, tapi tetap dituntut mengurus rumah sendiri.
Baca juga: Tiga Peringatan Penuh Makna pada 10 Maret 2024, dari Perfilman hingga Kesetaraan Gender
Contoh Kesetaraan Gender di Kehidupan Sehari-hari
Kesetaraan gender sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya suami dan istri berbagi tugas rumah, gaji yang setara untuk pekerjaan yang sama, kesempatan promosi tanpa diskriminasi, hingga lingkungan kerja yang aman dari pelecehan.
Ketika semua orang punya kesempatan yang sama, potensi mereka bisa berkembang maksimal.
Kesetaraan gender bukan tentang perempuan melawan laki-laki. Ini adalah tentang menciptakan keseimbangan dan keadilan agar semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, punya hak dan peluang yang sama.
Dengan memahami konsep ini secara benar, kita bisa mulai menghapus stigma dan membangun lingkungan yang lebih sehat, baik di rumah, tempat kerja, maupun masyarakat luas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: UNICEF