Anak Tiba-Tiba Murung dan Menarik Diri? Bisa Jadi Ini Ulah Teman Toxic-nya! Ini Cara Mengatasinya
INDOZONE.ID - Perubahan sikap anak yang tiba-tiba jadi lebih pendiam, mudah emosional, atau menjauh dari keluarga sering dianggap fase biasa.
Padahal, kondisi ini bisa jadi tanda anak sedang terjebak dalam toxic friendship atau pertemanan yang tidak sehat, yaitu hubungan pertemanan yang merusak secara emosional.
Fenomena ini semakin sering terjadi, terutama di era media sosial. Anak bisa merasa sangat bahagia saat diterima oleh temannya, tapi langsung terpuruk saat dijauhi.
Pola naik-turun emosi ini bukan sekadar “drama pertemanan”, melainkan bentuk tekanan psikologis yang nyata.
Baca juga: Banyak yang Nggak Sadar, 4 Kebiasaan Ini Bikin Hubungan Jadi Toxic dan Hancur Perlahan
Bagaimana Toxic Friend Bisa Mempengaruhi Anak?
Tidak sedikit anak yang memiliki sifat manipulatif dan cenderung ingin mengontrol.
Mereka bisa terlihat baik di depan guru atau orang tua, tapi menunjukkan perilaku berbeda saat bersama temannya.
Beberapa pola yang sering terjadi antara lain:
- Mengucilkan secara sengaja, lalu memamerkan kebersamaan dengan orang lain di media sosial
- Menuduh tanpa alasan jelas, membuat korban merasa bersalah atas hal yang tidak dilakukan
- Memutar-balikkan fakta, hingga korban terlihat sebagai pihak yang “bermasalah”
- Menghasut teman lain, sehingga anak merasa sendirian dan tidak punya dukungan
Perilaku ini sering dilakukan secara halus (covert), sehingga sulit dikenali. Bahkan korban sering kali tidak sadar bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Baca juga: Momen Siswa SMP Putus Sekolah Bantu Orang Tua Jualan, Perpisahan Teman Sekelas Bikin Haru
Kenapa Anak Sulit Keluar dari Hubungan Toxic?
Ini yang sering membuat orang tua bingung.
Banyak anak justru menyalahkan diri sendiri. Mereka merasa tidak cukup baik, takut kehilangan teman, atau khawatir akan dijauhi lingkungan sosialnya.
Selain itu:
- Anak sudah telanjur percaya pada pelaku
- Lingkaran pertemanan sudah “dipengaruhi”
- Anak takut sendirian dibanding harus bertahan di hubungan yang menyakitkan
Inilah alasan kenapa memaksa anak untuk langsung menjauh sering kali tidak efektif, bahkan bisa memperburuk keadaan.
Baca juga: Kenapa Lepas dari Hubungan Toxic Itu Susah? Ini 3 Cara Ampuh yang Bikin Kamu Terbebas
Perlukah Melibatkan Sekolah atau Orang Tua Teman?
Tidak selalu.
Beberapa anak dengan perilaku toxic biasanya sudah membangun citra baik di depan orang dewasa. Akibatnya, ketika orang tua korban melapor, cerita anak bisa diragukan.
Dalam beberapa kasus, justru bisa memicu konflik baru karena pihak lain cenderung membela anaknya dan melempar kesalahan.
Baca juga: 10 Ide Kegiatan Rayakan Hari Kartini di Rumah yang Seru dan Bermakna Bareng Anak
6 Cara Efektif Membantu Anak Keluar dari Toxic Friendship
Pendekatan yang tepat bukan dengan memaksa, tapi dengan membangun kesadaran dan rasa aman pada anak.
1. Dengarkan dengan Empati, Bukan Menghakimi
Anak butuh didengar, bukan langsung dikoreksi. Coba respon dengan kalimat seperti: “Ayah dan ibu ngerti itu pasti bikin kamu sedih.” Ini membantu anak merasa tidak sendirian.
2. Gunakan Pertanyaan Terbuka
Ajak anak bercerita tanpa tekanan. Misalnya:
“Apa yang bikin kamu merasa seperti itu?”
Cara ini membantu anak mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.
Baca juga: Deretan Kebiasaan Pagi untuk Umur Panjang yang Sering Diabaikan Anak Muda, Apa Saja?
3. Bangun Rasa Aman dan Kepercayaan
Pastikan anak tahu bahwa kamu tidak akan langsung mengambil tindakan tanpa persetujuannya.
Kepercayaan ini penting karena sebelumnya ia mungkin sering merasa “dikhianati”.
4. Bantu Anak Mengenali Perilaku Tidak Sehat
Arahkan anak untuk berpikir:
“Kalau kamu di posisi itu, apakah kamu akan memperlakukan teman seperti itu?”
Dari sini, anak bisa mulai memahami bahwa perlakuan tersebut tidak wajar.
Baca juga: Kenapa Orang Selingkuh? Fakta Mengejutkan Ini Bongkar Penyebab Aslinya
5. Bersabar, Prosesnya Tidak Instan
Menyadari bahwa suatu hubungan itu toxic butuh waktu. Jangan memaksa anak untuk langsung menjauh, karena bisa membuatnya semakin tertekan dan defensif.
6. Dorong Anak Membangun Pertemanan yang Sehat
Ajak anak untuk membuka diri ke lingkungan lain:
- Teman di luar sekolah
- Kegiatan ekstrakurikuler
- Komunitas positif
Saat anak merasakan hubungan yang sehat — dihargai, diterima, dan didukung — ia akan lebih mudah melepaskan hubungan yang toxic.
Baca juga: Mengenal Kesetaraan Gender dari Perjuangan R.A. Kartini, Simak Definisi dan Contohnya
7. Peran Orang Tua Sangat Krusial
Meningkatnya perilaku manipulatif dan kecenderungan narsistik pada anak, ditambah pengaruh media sosial, membuat kasus toxic friendship semakin kompleks.
Karena itu, orang tua perlu:
- Lebih peka terhadap perubahan emosi anak
- Membangun komunikasi yang terbuka
- Memberikan dukungan tanpa tekanan
Ingat, luka dari pertemanan bisa sama dalamnya dengan luka dari hubungan asmara.
Jika tidak ditangani dengan tepat, dampaknya bisa mempengaruhi kepercayaan diri dan kesehatan mental anak dalam jangka panjang.
Baca juga: Jelang Haji 2026, Mekkah Terlihat Lengang dan Disebut Hanya Dihuni “Pemain Inti”
Pertemanan yang tidak sehat bukan sekedar konflik kecil antar teman. Ini adalah masalah serius yang bisa mempengaruhi kondisi psikologis anak.
Dengan pendekatan yang empatik, sabar, dan penuh strategi, orang tua bisa membantu anak keluar dari hubungan yang tidak sehat dan menemukan lingkungan pertemanan yang lebih positif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com