Ilustrasi perselingkuhan. (Freepik)
INDOZONE.ID - Perselingkuhan sering dianggap sebagai bentuk pengkhianatan paling menyakitkan dalam hubungan.
Tapi dibalik itu, banyak orang masih bertanya-tanya: kenapa sih ini bisa terjadi?
Apakah karena kurang cinta? Atau karena ada yang “kurang” dari pasangan?
Faktanya, perselingkuhan bukan sekadar urusan fisik atau nafsu sesaat. Ini adalah masalah kompleks yang melibatkan emosi, kondisi hubungan, hingga faktor pribadi seseorang.
Baca juga: Mengenal Kesetaraan Gender dari Perjuangan R.A. Kartini, Simak Definisi dan Contohnya
Bahkan, berbagai studi menunjukkan bahwa kasus ini cukup umum terjadi di banyak hubungan — artinya, ini bukan fenomena langka.
Dari berbagai penelitian dan pengalaman nyata, ada beberapa alasan yang paling sering muncul saat seseorang memutuskan untuk selingkuh:
Baca juga: Bukan Sekedar Tegas! Ini Sisi Tersembunyi Kepribadian ESTJ yang Bikin Mereka Cocok Jadi Pemimpin
Kalau ditarik garis besar, hampir semua alasan ini bermuara pada satu hal: kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi dan komunikasi yang buruk.
Banyak orang mengira perselingkuhan terjadi secara tiba-tiba. Padahal, sering kali ini adalah “akumulasi” dari masalah yang tidak pernah diselesaikan. Contohnya:
Baca juga: Jelang Haji 2026, Mekkah Terlihat Lengang dan Disebut Hanya Dihuni “Pemain Inti”
Masalah-masalah ini ibarat bom waktu. Kalau terus dipendam, suatu saat bisa meledak — dan salah satu bentuk “ledakannya” adalah perselingkuhan.
Selain kondisi hubungan, ada faktor internal yang juga mempengaruhi seseorang untuk selingkuh. Bahkan, dalam beberapa kasus, faktor ini lebih dominan. Beberapa di antaranya:
Baca juga: Sering Dianggap Kaku, Ternyata Ini Alasan ISTJ Jadi Sosok Paling Bisa Diandalkan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Verywellmind.com