Jumat, 01 MEI 2026 • 15:05 WIB

Non-apology, Fenomena Permintaan Maaf Palsu yang Cenderung Toxic

Author

Ilustrasi fenomena non-apology, permintaan maaf palsu. (freepik)

INDOZONE.ID - Kamu lagi serius ngomong dari hati, menjelaskan kenapa kamu sakit hati… tapi yang kamu dapat cuma, “Ya udah, maaf ya” — tanpa ekspresi, tanpa penyesalan.

Atau lebih parah: “Aku minta maaf kamu ngerasa gitu, tapi kan aku cuma bercanda.”

Kalau kamu pernah ngalamin ini, stop dulu. Itu bukan minta maaf. Itu cara halus buat kabur dari tanggung jawab.

Fenomena ini sering disebut sebagai non-apology — permintaan maaf yang cuma formalitas, tanpa niat memperbaiki apa pun. Kedengarannya sopan, tapi sebenarnya kosong. Bahkan kadang manipulatif.

Baca juga: Studi: Tak Mau Ketinggalan Gol, 82% Penonton Bola Andalkan Pesan Makanan Online

Kenapa? Karena fokusnya bukan pada kesalahan mereka, tapi justru memutar arah ke kamu.

Bukan: “Aku salah”, — tapi jadi “Kamu yang terlalu baper”.

Dan itu bahaya! Orang yang sering pakai “maaf, tapi…” biasanya nggak mau disalahkan, nggak nyaman dikritik, serta lebih peduli menjaga ego daripada perasaan kamu.

Kalimat “tapi…” itu jadi pembatal permintaan maaf. Jadi apapun yang ada sebelum “Tapi…” — pada dasarnya nggak ada artinya.

Baca juga: Kenali Perbedaan Introvert dan Pemalu agar Tidak Salah Menilai

Contoh klasiknya:

“Aku minta maaf kalau aku nyakitin kamu, tapi kamu juga terlalu sensitif.”

Dengar baik-baik: itu bukan minta maaf. Itu nyalahin kamu dengan cara yang lebih halus. Dan kalau ini terjadi terus-menerus, dampaknya nggak main-main. 

Kamu bisa mulai meragukan perasaan sendiri, merasa overthinking atau terlalu sensitif, bahkan mulai menyalahkan diri sendiri atas hal yang bukan salahmu.

Baca juga: 5 Tanaman Hias Penghilang Stres Setelah Kerja, Bikin Rumah Auto Lebih Adem!

Padahal, yang sebenarnya terjadi: kamu cuma nggak dihargai.

Permintaan maaf yang tulus itu sederhana, tapi jarang mengakui kesalahan tanpa alasan, nggak nyelipin pembelaan diri dan ada usaha buat berubah, bukan cuma janji kosong.

Jadi kalau kamu terus-terusan dikasih “maaf” yang rasanya hambar, defensif, dan bikin kamu makin salah — mungkin yang salah bukan perasaanmu. Mungkin kamu cuma lagi berhadapan sama orang yang nggak pernah benar-benar merasa bersalah.

Dan itu, jujur aja — red flag besar!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Healthline

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU