INDOZONE.ID - Berempati kepada seseorang yang sedang berduka sering kali terasa seperti hal yang pasti benar dilakukan.
Namun, niat baik saja ternyata tidak cukup. Ada cara yang lebih tepat agar empati yang diberikan benar-benar membantu, bukan justru menambah beban.
Psikolog Klinis Indah Sundari Jayanti, M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa kunci utama dalam menunjukkan empati adalah memahami kebutuhan orang yang sedang berduka.
Tidak semua orang ingin ditemani atau dihibur dengan cara yang sama.
Baca juga: 5 Fase Berduka (Grief Phase) yang Bikin Campur Aduk Setelah Hal Buruk Terjadi, Perhatikan Ya!
“Kalau misalnya memang dia sedang tidak ingin diganggu, tapi kita datang terus menemani, menghibur istilahnya, tujuannya baik, nggak salah. Tapi karena bukan itu yang dibutuhkan, bantuannya jadi nggak tepat guna,” kata Indah seperti dilansir Antara, Jumat (1/5/2026).
Artinya, empati bukan tentang apa yang menurut kita baik, tetapi tentang apa yang benar-benar dibutuhkan oleh mereka.
Karena itu, bertanya secara langsung bisa menjadi langkah yang bijak.
Indah menilai boleh saja bertanya kepada pihak yang berduka mengenai kebutuhan serta bentuk bantuan yang diharapkan, agar dukungan yang diberikan lebih efektif.
Selain itu, ada satu hal yang sering dilakukan tanpa sadar namun justru bisa melukai: membandingkan pengalaman.
Mengaitkan duka seseorang dengan pengalaman pribadi atau orang lain sering kali tidak membantu, bahkan bisa terasa tidak peka.
“Karena orang yang sedang berduka enggak mau tahu apa yang terjadi sama orang lain, dan rasanya egois aja untuk meminta orang yang berduka turut memahami apa yang terjadi sama orang lain gitu. Jangan adu nasib,” tutur dia.
Alih-alih merasa didukung, orang yang berduka bisa merasa tidak dimengerti. Duka adalah pengalaman yang sangat personal, dan tidak perlu dibandingkan.
Hal lain yang juga perlu dihindari adalah meminta mereka untuk kuat atau menahan tangisan.
Kalimat seperti jangan nangis atau harus kuat mungkin terdengar menyemangati, tetapi sebenarnya bisa menjadi beban tambahan.
“Orang yang berduka ini tuh sedang merasa seluruh beban ada di pundaknya. Terus kalau kita bilang ‘kalau kamu enggak kuat terus nanti siapa yang nguatin yang lain’, ditambah beban lagi. Jadi jangan menambahkan beban-beban bagi orang yang berduka yang jelas di pundaknya tuh isinya udah beban semua,” ujar Indah.
Baca juga: Haru, Anak Ini Berduka Kehilangan Ayah di Hari Ulang Tahun
Pada akhirnya, empati yang tepat bukan tentang mengatakan hal yang benar, tetapi tentang hadir dengan cara yang sesuai.
Kadang, diam, mendengarkan, dan memberi ruang justru menjadi bentuk dukungan yang paling berarti.
Peristiwa kecelakaan antara kereta api Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam menjadi pengingat bahwa duka bisa datang kapan saja.
Dalam situasi seperti ini, kepekaan dalam berempati menjadi hal yang sangat penting agar kita tidak sekadar hadir, tetapi juga benar-benar membantu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara