INDOZONE.ID - Awalnya kelihatan biasa saja. Kamu masih sering nongkrong bareng, curhat tiap malam, bahkan merasa dia adalah teman yang selalu ada. Tapi lama-lama, kamu mulai sadar ada yang salah.
Setiap bertemu, kamu justru merasa lelah. Omongan mereka sering merendahkan, candaan terasa seperti hinaan, dan mereka hanya datang saat butuh bantuan. Lebih parah lagi, setelah bertemu mereka, mood kamu bisa rusak seharian.
Kalau situasi ini terasa familiar, bisa jadi kamu sedang terjebak dalam toxic friendship.
Hubungan pertemanan yang tidak sehat sering kali sulit dikenali karena dibungkus dengan alasan “namanya juga teman dekat” atau “dia cuma bercanda.”
Baca juga: Kocak! Ibu-ibu Ini Cium Ban Bus agar Tidak Mabuk Perjalanan
Padahal, jika terus dibiarkan, hubungan seperti ini bisa menguras energi, menurunkan rasa percaya diri, hingga berdampak pada kesehatan mental.
Lalu, apa yang harus dilakukan kalau kamu sadar punya teman toxic?
1. Bedakan teman toxic dengan teman yang sedang punya masalah
Tidak semua teman yang bersikap buruk sesekali langsung bisa diberi label toxic.
Bisa saja mereka sedang menghadapi masalah pribadi, stres pekerjaan, tekanan keluarga, atau kondisi tertentu yang membuat sikapnya berubah.
Namun jika pola seperti manipulatif, meremehkan, iri hati, suka menjatuhkan, atau hanya hadir saat butuh terus berulang, kamu patut waspada.
Baca juga: Kocak! Ibu-ibu Ini Cium Ban Bus agar Tidak Mabuk Perjalanan
2. Coba bicara secara jujur
Banyak orang toxic sebenarnya tidak sadar bahwa perilaku mereka menyakiti orang lain. Kalau kamu masih ingin mempertahankan hubungan tersebut, coba ajak bicara secara terbuka.
Sampaikan apa yang kamu rasakan tanpa memicu pertengkaran. Contohnya: “Aku nggak nyaman saat kamu sering bercanda soal fisik atau penampilanku. Aku harap itu nggak diulang lagi.”
Komunikasi yang jujur bisa jadi kesempatan kedua sebelum mengambil keputusan besar.
3. Jangan tertipu janji manis berubah
Salah satu pola toxic friendship yang sering terjadi adalah mereka minta maaf, berubah sebentar, lalu kembali mengulang kesalahan yang sama.
Hari ini minta maaf, minggu depan kembali merendahkanmu.
Baca juga: “Teman Dekat” Ternyata Bisa Bikin Stres Kamu Meningkat Tanpa Disadari, Kok Bisa?
Kalau pola ini terus berulang, kamu perlu sadar bahwa kata-kata tanpa tindakan nyata hanya akan membuat kamu terjebak lebih lama.
4. Coba ambil jarak dulu
Kalau kamu bingung harus bertahan atau pergi, coba kurangi interaksi sementara waktu. Berhenti selalu tersedia untuk mereka, kurangi intensitas chat, dan fokus pada hidupmu sendiri.
Dari situ kamu bisa melihat satu hal penting: apakah hidup terasa lebih damai tanpa mereka? Kalau jawabannya iya, itu tanda yang cukup jelas.
Baca juga: Cewek Ini Tetap Gas UTBK Meski Diinfus, Datang ke Lokasi Ujian Pakai Ambulance
5. Akhiri hubungan jika sudah terlalu melelahkan
Tidak semua pertemanan layak dipertahankan hanya karena sudah berlangsung lama. Kalau hubungan itu penuh manipulasi, penghinaan, drama berlebihan, atau bahkan kekerasan verbal, pergi bisa jadi keputusan paling sehat.
Kamu tidak punya kewajiban bertahan di hubungan yang terus melukai kamu.
Jangan takut kehilangan teman yang salah
Banyak orang bertahan dalam toxic friendship karena takut sendirian. Padahal kehilangan teman toxic seringkali justru membuka ruang untuk hadirnya pertemanan yang jauh lebih sehat.
Teman yang baik tidak akan membuatmu merasa kecil, lelah, atau terus tersakiti.
Baca juga: Kesepian Justru Setelah Bertemu Teman? Bisa Jadi Kamu Ada di Lingkaran Pertemanan Toxic
Jadi kalau akhir-akhir ini kamu merasa capek setelah bertemu seseorang yang disebut “teman,” mungkin masalahnya bukan kamu yang terlalu sensitif — tapi memang hubungan itu sudah tidak sehat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline