INDOZONE.ID - Dalam rangka memperingati Hari Anti Bullying Sedunia 2026, sebuah sekolah menggelar berbagai kegiatan edukatif yang melibatkan siswa, orang tua, hingga instansi terkait.
Tujuannya, menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan.
Sekolah Yehonala, Kota Batam, Kepulauan Riau, menyusun rangkaian acara ini untuk semua jenjang, mulai dari SD hingga SMA/SMK.
Baca juga: Hati-Hati! Pola Komunikasi Sepele Ini Diam-Diam Bisa Sebabkan Hubungan LDR Kandas
Setiap sesi dibuat menyesuaikan usia siswa, jadi penyampaiannya lebih mudah dipahami dan terasa relevan.
Kegiatan dibuka dengan penyuluhan untuk siswa SD dari Satbinmas Polresta Barelang. Materinya dikemas interaktif, jadi anak-anak bisa belajar pentingnya saling menghargai dengan cara yang menyenangkan.
Pada akhir sesi, mereka ikut cap jempol di banner berbentuk pohon sebagai simbol bahwa kebaikan bisa terus tumbuh.
Selanjutnya, ada seminar untuk orang tua siswa SD bersama BPMP Kepulauan Riau. Di sini, orang tua diajak lebih peduli soal peran mereka dalam mencegah dan menangani bullying sejak dini.
Masuk ke jenjang SMP, siswa mendapatkan penyuluhan dari DP3AP2KB Unit PPA. Tidak hanya mendapat materi, mereka juga diajak ikut tanda tangan banner sebagai bentuk komitmen bersama untuk melawan bullying.
Baca juga: 8 Aturan Met Gala 2026 yang Bikin Seleb Harus Ekstra Hati-Hati!
Untuk siswa SMA/SMK, sesi ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama. Ini jadi bentuk kesadaran kolektif bahwa menciptakan lingkungan sekolah yang aman itu tanggung jawab semua orang.
Melalui kegiatan ini, Sekolah Yehonala ingin menunjukkan bahwa pencegahan bullying tidak cukup hanya melewati aturan, tapi juga perlu edukasi yang konsisten dan kerja sama dari berbagai pihak.
“Setiap anak berhak merasa aman, nyaman, didengar, dan dilindungi. Pencegahan bullying harus dimulai dari kesadaran bersama—baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun pergaulan sehari-hari,” ujar Cevy Amelia, M.Psi., Psikolog, CH, CHt, MCCHt, selaku Psikolog sekaligus narasumber dalam kegiatan tersebut.
Hal yang sama juga ditekankan oleh narasumber lain terkait pentingnya penanganan yang serius.
“Karena itu, kami tidak mentolerir segala bentuk perundungan, dan berkomitmen untuk memastikan setiap proses penanganan dan pendampingan dilakukan secara tepat, objektif, serta mengedepankan kepentingan terbaik bagi siswa,” ujar Anggi Heru M., M.I.Kom., Trainer dari BPMP Provinsi Kepulauan Riau, Kemendikdasmen.
Baca juga: Pergelaran Amal Angkat Kisah Anak Pejuang Kanker, Ajak Publik Turut Berkontribusi
Sekolah Yehonala menyebut akan terus memperkuat program pencegahan dan perlindungan siswa lewat edukasi rutin, pendampingan, dan kolaborasi dengan berbagai pihak.
Semua diajak ikut berperan agar lingkungan sekolah tetap positif, saling menghargai, dan jadi tempat yang aman untuk berkembang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Press Release