INDOZONE.ID - Pernah nggak, sudah duduk di depan laptop, daftar pekerjaan juga sudah jelas, tapi tetap saja rasanya berat untuk mulai?
Akhirnya, tugas ditunda. Scroll media sosial sebentar. Buka chat. Ambil camilan. Tiba-tiba waktu sudah habis, sementara pekerjaan belum bergerak sedikit pun.
Banyak orang langsung menyalahkan diri sendiri. Merasa kurang disiplin, terlalu malas, atau tidak punya kemauan yang cukup kuat. Padahal, menurut psikologi, belum tentu itu penyebab utamanya.
Baca juga: Sifat Benda Padat Cair dan Gas: Ciri, Perbedaan, serta Contohnya
Masalahnya Bukan Karena Kamu Kurang Disiplin
Selama ini, disiplin sering dianggap sebagai “senjata utama” untuk menjadi produktif.
Semakin kuat kemauan seseorang, semakin besar peluangnya untuk sukses. Namun, penelitian psikolog Roy Baumeister menunjukkan bahwa kemampuan mengendalikan diri ternyata memiliki batas.
Setiap keputusan yang diambil, setiap godaan yang ditahan, hingga setiap tugas yang dipaksakan untuk diselesaikan akan menguras energi mental sedikit demi sedikit.
Itulah mengapa banyak orang bisa sangat fokus di pagi hari, tetapi mulai kehilangan semangat ketika memasuki siang atau sore.
Baca juga: Tips Meracik Pembasmi Gulma Alami untuk Kebun, Praktis dan Hemat
Artinya, produktivitas bukan sekadar soal memaksa diri terus-menerus. Orang-orang yang terlihat selalu “on fire” seringkali bukan karena mereka punya disiplin tanpa batas.
Mereka hanya memiliki kebiasaan yang membuat proses bekerja terasa lebih ringan.
Rasa Berat Sebelum Mulai? Jangan Langsung Dianggap Tanda untuk Menyerah
Ada satu momen yang hampir selalu muncul sebelum mengerjakan tugas yang sulit.
Jantung terasa sedikit berdebar. Pikiran mulai mencari alasan untuk menunda. Muncul perasaan enggan yang sulit dijelaskan. Biasanya, sinyal ini diterjemahkan sebagai, “Sepertinya aku belum siap”.
Baca juga: 7 Puisi Singkat tentang Kabut yang Penuh Rasa dan Renungan
Lalu kita memilih menunggu.
Menunggu mood datang.
Menunggu motivasi muncul.
Menunggu sampai merasa lebih yakin.
Masalahnya, momen “siap sepenuhnya” itu justru seringkali tidak pernah datang pada akhirnya.
Penelitian Ungkap Cara Sederhana untuk Mengatasinya
Sebuah analisis terhadap sejumlah uji coba terkontrol yang dipublikasikan pada 2024 dalam jurnal Scientific Reports menemukan hal menarik.
Baca juga: Bikin Haru! Pria Ini Pilih Rayakan Gajian dengan Makan Es Krim Bersama Keluarga
Alih-alih melawan rasa tegang yang muncul sebelum menghadapi tantangan, seseorang justru bisa mendapatkan manfaat dengan mengubah cara memaknainya. Teknik ini dikenal dengan istilah stress arousal reappraisal.
Sederhananya, ketika muncul pikiran seperti: “Aku cemas menghadapi tugas ini.”
Cobalah menggantinya menjadi: “Tubuhku sedang bersiap untuk bekerja.” – atau –
“Ini bukan tanda aku harus berhenti. Ini tanda aku siap menghadapi tantangan.”
Terdengar sederhana?
Memang. Tapi dampaknya bisa cukup besar.
Baca juga: Pemilik Rumah Beri Kenang-Kenangan Unik untuk Para Tukang, Tuai Banyak Pujian
Ternyata Gugup Bisa Jadi ‘Bahan Bakar’ Produktivitas
Selama ini, rasa tegang sering dianggap sebagai musuh yang harus dihilangkan. Padahal, tubuh sebenarnya sedang melakukan apa yang memang harus dilakukan: meningkatkan kewaspadaan.
Detak jantung yang lebih cepat, energi yang meningkat, atau rasa gelisah sebelum presentasi dan mengerjakan tugas penting belum tentu pertanda buruk.
Dalam kondisi tertentu, respons tersebut justru membantu otak menjadi lebih fokus dan siap bertindak.
Dengan kata lain, masalahnya bukan pada sensasi yang dirasakan, melainkan bagaimana kita menafsirkannya.
Baca juga: Psikolog Ungkap Alasan Kamu Susah Produktif: Bukan karena Malas atau Kurang Disiplin!
Coba Kebiasaan 10 Detik Ini Sebelum Mulai Bekerja
Saat sedang menghadapi tugas yang terus kamu tunda, berhentilah sejenak.
Tarik napas.
Lalu tanyakan pada diri sendiri, “Apa yang sebenarnya sedang aku rasakan?”
Jika jawabannya adalah gugup, tegang, atau tidak nyaman, jangan buru-buru menganggapnya sebagai hambatan. Ubah narasinya. Katakan dalam hati:
“Aku sedang siaga.”
“Tubuhku sedang mempersiapkan diri.”
“Aku siap memulai.”
Baca juga: Kerajinan Bahan Campuran: Pengertian, Jenis, dan Teknik Pembuatannya
Hanya butuh sekitar 10 detik. Tugasnya memang tetap sama. Deadline-nya juga tidak berubah. Tetapi, cara kamu merespons sinyal dari tubuh bisa menentukan apakah kamu akan langsung bertindak atau kembali menunda.
Produktif Nggak Selalu Harus Dipaksakan
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari motivasi tambahan atau berusaha menjadi pribadi yang lebih disiplin.
Padahal, produktivitas terkadang lahir dari perubahan kecil dalam cara berpikir.
Bukan dengan menghilangkan rasa tidak nyaman sepenuhnya, melainkan dengan memahami bahwa perasaan tersebut tidak selalu berarti ada yang salah.
Jadi, lain kali saat muncul rasa berat sebelum memulai pekerjaan, jangan langsung berpikir bahwa kamu malas. Bisa jadi, tubuhmu sebenarnya sedang berkata: “Ayo mulai. Kamu sudah siap”.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com