Jumat, 12 JUNI 2026 • 09:05 WIB

Selalu Merasa Kurang Meski Sudah Berusaha Keras? Bisa Jadi Kamu Terjebak Toxic Productivity!

Author

Ilustrasi toxic productivity (freepik)

INDOZONE.ID - “Aku harus lebih produktif!” – kalimat ini mungkin terdengar memotivasi. 

Namun, bagaimana jika dorongan untuk terus melakukan sesuatu justru membuat kita kelelahan, kehilangan jati diri, bahkan merasa tidak pernah cukup?

Di era yang serba cepat seperti sekarang, produktivitas sering dianggap sebagai ukuran kesuksesan. 

Bangun lebih pagi, menyelesaikan banyak pekerjaan, mengikuti berbagai kelas pengembangan diri, hingga memiliki jadwal yang selalu penuh sering dipandang sebagai pencapaian yang patut dibanggakan. 

Sayangnya, tidak semua bentuk produktivitas berdampak positif.

Baca juga: Kebiasaan 10 Detik Ini Bisa Bantu Kamu Lebih Produktif!

Ada kondisi yang dikenal sebagai “toxic productivity”, yaitu kecenderungan untuk terus-menerus merasa harus produktif tanpa memberi ruang untuk beristirahat. 

Akibatnya, seseorang bisa merasa bersalah saat bersantai dan menganggap dirinya gagal ketika tidak mampu memenuhi target yang dibuat sendiri.

Ketika Produktivitas Berubah Menjadi Beban

Pada dasarnya, menjadi produktif bukanlah hal yang buruk. 

Produktivitas dapat membantu seseorang mencapai tujuan, mengembangkan kemampuan, dan mewujudkan impian yang diinginkan.

Baca juga: Sifat Benda Padat Cair dan Gas: Ciri, Perbedaan, serta Contohnya

Namun, masalah muncul ketika nilai diri mulai bergantung pada seberapa banyak hal yang berhasil diselesaikan dalam satu hari. 

Saat itu terjadi, produktivitas tak lagi menjadi alat untuk mencapai tujuan, melainkan berubah menjadi tekanan yang menguras energi.

Beberapa tanda bahwa seseorang mungkin mengalami toxic productivity antara lain:

Merasa bersalah saat beristirahat

Sulit menikmati waktu luang tanpa memikirkan pekerjaan

Baca juga: Tips Meracik Pembasmi Gulma Alami untuk Kebun, Praktis dan Hemat

Terus merasa kurang meski telah mencapai banyak hal

Memaksakan diri demi memenuhi ekspektasi orang lain

Mengalami kelelahan fisik maupun emosional atau burnout

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental, hubungan sosial, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.

Mengapa Kita Terjebak dalam Siklus Ini?

Keinginan untuk terus bergerak dan mencapai sesuatu sebenarnya merupakan bagian dari mekanisme alami manusia. 

Secara biologis, otak dirancang untuk bertahan hidup dengan mencari sumber daya yang dianggap penting.

Baca juga: 7 Puisi Singkat tentang Kabut yang Penuh Rasa dan Renungan

Pada masa lalu, dorongan tersebut membantu manusia memperoleh makanan, tempat tinggal, dan perlindungan. 

Namun di zaman modern, sistem yang sama bisa terpicu oleh hal-hal berbeda, seperti tekanan sosial, tuntutan akademik, budaya kerja yang kompetitif, atau paparan media sosial yang membuat kita merasa tertinggal dari pencapaian orang lain.

Tanpa disadari, kita mulai percaya bahwa nilai diri ditentukan oleh prestasi, jumlah pekerjaan yang selesai, atau seberapa sibuk kehidupan yang dijalani.

Saatnya Bertanya: Apakah Semua Ini Benar-Benar Membantu?

Salah satu langkah penting untuk keluar dari jebakan toxic productivity adalah menyadari bahwa pola yang selama ini dijalani belum tentu membawa kita ke arah yang diinginkan.

Baca juga: Bikin Haru! Pria Ini Pilih Rayakan Gajian dengan Makan Es Krim Bersama Keluarga

Dalam pendekatan psikologi Acceptance and Commitment Therapy (ACT), terdapat konsep yang dikenal sebagai “creative hopelessness”. 

Sederhananya, ini adalah momen ketika seseorang menyadari bahwa strategi yang terus diulang ternyata tidak memberikan hasil yang diharapkan.

Bekerja tanpa henti mungkin terlihat seperti solusi untuk mengatasi rasa tidak cukup. 

Namun jika akhirnya hanya menimbulkan stres, kelelahan, dan kehilangan makna hidup, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali cara kita menjalani hari.

Baca juga: Pemilik Rumah Beri Kenang-Kenangan Unik untuk Para Tukang, Tuai Banyak Pujian

Coba renungkan tiga pertanyaan berikut:

“Apa yang biasanya kamu lakukan saat merasa belum melakukan cukup banyak hal?”

“Apakah cara tersebut benar-benar membantumu merasa lebih baik dalam jangka panjang?”

“Apa saja hal yang harus dikorbankan untuk mempertahankan pola tersebut?”

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini bisa menjadi langkah awal untuk memahami hubungan kita dengan produktivitas.

Produktif Boleh, Tapi Jangan Kehilangan Diri Sendiri

Tidak ada yang salah dengan memiliki ambisi atau target hidup. Namun, penting untuk memastikan bahwa semua usaha yang dilakukan selaras dengan nilai dan tujuan pribadi, bukan sekadar memenuhi standar yang dibentuk lingkungan sekitar.

Baca juga: Psikolog Ungkap Alasan Kamu Susah Produktif: Bukan karena Malas atau Kurang Disiplin!

Beristirahat bukan tanda kemalasan. Mengurangi beban bukan berarti menyerah. Terkadang, hal paling produktif yang bisa dilakukan adalah memberi diri sendiri kesempatan untuk berhenti sejenak.

Karena hidup bukan hanya tentang seberapa banyak daftar tugas yang berhasil dicentang. 

Melainkan juga tentang menikmati proses, menjaga kesehatan mental, dan menjalani kehidupan yang benar-benar sesuai dengan diri kita sendiri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Psychologytoday.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU