INDOZONE.ID - Belakangan ini, istilah "floodlighting" ramai dibicarakan di TikTok sebagai tren baru dalam dunia kencan. Tren kencan floodlighting ini semakin populer di kalangan Gen Z yang sering mencari koneksi instan dalam hubungan.
Istilah ini awalnya diperkenalkan oleh Brené Brown untuk menggambarkan situasi di mana seseorang membanjiri orang lain dengan kerentanan secara berlebihan.
Sayangnya, meskipun terlihat seperti cara untuk cepat akrab, justru bisa membuat orang lain merasa kewalahan dan menjauh. Lalu, apa itu kencan floodlighting, dan bagaimana dampaknya terhadap hubungan?
Berikut adalah tiga tanda kalau kamu melakukan floodlighting dalam hubungan dan cara menghindarinya.
Baca Juga: 15 Ide Kencan Romantis untuk Memikat Hati Pisces
Arti Floodlighting dalam Kencan
1. Kamu Langsung Menceritakan Trauma Pribadi
Floodlighting sering terjadi karena keinginan tulus untuk terhubung dengan orang lain, tapi bisa berakhir sebaliknya. Bayangkan kamu sedang dalam kencan pertama dan suasana terasa menyenangkan. Obrolan mengalir lancar, tawa lepas, dan semuanya terasa klop. Karena merasa nyaman, kamu mulai membagikan kisah pribadi yang cukup dalam.
Awalnya, mungkin kamu hanya menceritakan kejadian lucu tentang tersandung di depan kelas. Tapi tanpa sadar, kamu mulai membahas pengalaman bullying yang menyakitkan di masa lalu. Padahal, lawan bicaramu belum tentu siap untuk mendengar cerita seberat itu.
Kalau kamu sering berbagi cerita pribadi seperti putus cinta yang menyakitkan, trauma masa kecil, atau masalah kesehatan mental di pertemuan pertama, bisa jadi kamu sedang melakukan floodlighting dalam hubungan.
Baca Juga: 6 Ide Kencan Romantis untuk Pasangan yang Sibuk Banget, Penting biar Hubungan Gak Hambar
Beberapa orang melakukan ini karena berpikir bahwa kerentanan menciptakan kedekatan secara instan. Padahal, terlalu banyak berbagi justru bisa membuat orang lain mundur karena merasa terbebani secara emosional.
Studi tahun 2022 yang diterbitkan di Psychological Reports menemukan bahwa kecemasan, kebutuhan akan perhatian, dan kecanduan media sosial berhubungan erat dengan kebiasaan oversharing di kalangan remaja.
Meskipun penelitian ini berfokus pada dunia digital, hal ini menunjukkan bahwa keinginan untuk validasi atau kesulitan mengatur batasan bisa berperan dalam perilaku oversharing.
Bersikap terbuka itu penting, tapi waktunya juga harus tepat. Sebelum membagikan sesuatu yang terlalu pribadi, coba tanyakan ke diri sendiri:
- Kenapa aku ingin membagikan ini sekarang?
- Apakah ini waktu yang tepat untuk berbagi cerita ini?
- Apakah aku mengharapkan sesuatu sebagai balasan, seperti validasi atau penghiburan?
Arti floodlighting dalam kencan bukan cuma soal apa yang dibagikan, tapi juga harapan terhadap respons orang lain. Sering kali, orang yang floodlighting mengharapkan lawan bicara mereka untuk membalas dengan tingkat keterbukaan yang sama.
2. Kamu Mengharapkan Balasan Emosional yang Cepat
Kedekatan dalam hubungan seharusnya berkembang secara bertahap, seiring dengan tumbuhnya kepercayaan. Tapi saat seseorang melakukan floodlighting, mereka cenderung mengharapkan respons emosional yang instan karena berharap lawan bicara mereka juga akan berbagi cerita pribadi yang dalam.
Bayangkan kamu sedang berbagi kisah emosional dengan seseorang yang baru kamu kenal. Saat kamu selesai berbicara, kamu menatap mereka, mengharapkan pemahaman dan empati. Tapi yang kamu dapatkan malah kebingungan atau bahkan ketidaknyamanan.
Kamu berpikir bahwa dengan bersikap terbuka, mereka juga akan melakukan hal yang sama. Tapi bukannya merasa lebih dekat, kamu malah menghadapi keheningan canggung yang membuat suasana jadi tidak nyaman.
Menurut teori social penetration, hubungan berkembang melalui proses bertahap, mirip seperti mengupas lapisan bawang. Kedekatan emosional seharusnya tumbuh perlahan, dari percakapan ringan, ke opini pribadi, hingga pengalaman mendalam.
Floodlighting dalam hubungan justru mengganggu proses alami ini dengan memaksa kedalaman emosional terlalu cepat, yang bisa menyebabkan:
- Hubungan yang tidak seimbang, di mana satu orang terlalu banyak berbagi sementara yang lain merasa tertekan untuk membalas.
- Ilusi kedekatan, karena berbagi cerita emosional tanpa dasar kepercayaan bisa membuat hubungan terasa lebih dekat dari kenyataannya.
Agar hubungan berkembang lebih sehat, coba lakukan ini:
- Sesuaikan kedalaman percakapan dengan lawan bicara. Jika mereka masih dalam tahap cerita ringan, jangan langsung beralih ke topik berat.
- Gunakan aturan "tiga kencan" sebelum berbagi kisah emosional yang dalam. Bangun kepercayaan dulu sebelum berbagi hal-hal pribadi.
- Ajukan pertanyaan ringan tapi tetap menarik, seperti "Apa satu hal unik tentang kamu yang jarang orang tahu?" daripada langsung bertanya "Apa ketakutan terbesarmu?"
- Perhatikan bahasa tubuh dan respons mereka. Jika terlihat ragu atau tidak nyaman, jangan memaksa.
Dengan cara ini, kedekatan emosional bisa tumbuh secara alami tanpa terasa terburu-buru atau dipaksakan.
3. Kamu Menggunakan Kerentanan untuk Menguji Penerimaan
Bersikap terbuka memang penting dalam hubungan, tapi kalau digunakan sebagai "tes" untuk melihat apakah seseorang bisa menerimamu apa adanya, ini bisa jadi bumerang.
Misalnya, kamu merasa sudah menemukan orang yang cocok. Kencan pertama terasa sempurna, tapi kamu ragu, "Apakah mereka akan tetap menyukaiku setelah tahu sisi lemahnya?" Untuk menghilangkan keraguan, kamu mulai "menguji" mereka dengan berbagi cerita pribadi secara bertahap.
Awalnya, mereka merespons dengan baik. Kamu semakin percaya diri dan mulai berbagi lebih dalam. Tapi saat kamu mengungkapkan sesuatu yang benar-benar pribadi, mereka tampak ragu, tidak nyaman, atau bahkan menarik diri. Seketika, kamu merasa hubungan ini gagal sebelum benar-benar dimulai.
Sebuah studi dalam Emotion Review menyatakan bahwa keseimbangan emosional dalam hubungan sangat penting untuk menjaga keintiman. Kalau kerentanan digunakan sebagai "tes penerimaan", ini bisa membuat hubungan terasa berat sebelah dan penuh tekanan.
Untuk menghindari hal ini, penting untuk membangun penerimaan diri sebelum mencari validasi dari orang lain. Berikut beberapa cara yang bisa dicoba:
- Tingkatkan kesadaran diri. Tanyakan pada diri sendiri, "Apakah aku berbagi untuk terhubung atau sekadar menguji reaksi mereka?"
- Latih validasi diri. Sebelum mencari pengakuan dari orang lain, coba beri penguatan pada diri sendiri lewat journaling atau refleksi.
- Ciptakan rasa aman secara emosional dalam diri sendiri. Ingatkan diri bahwa kamu berharga, terlepas dari bagaimana orang lain merespons cerita yang kamu bagikan.
Mencari kedalaman dalam percakapan itu bukan hal yang salah, justru bisa menunjukkan kecerdasan emosional dan keinginan untuk koneksi yang lebih bermakna. Tapi penting untuk memperhatikan niat dan waktu yang tepat.
Floodlighting bukan jalan pintas menuju kedekatan, melainkan perjudian emosional yang bisa berakhir dengan rasa kewalahan. Hubungan yang sehat bukan tentang melihat siapa yang bisa "menangani" dirimu, tapi tentang keberanian untuk bersabar dan membiarkan kedekatan tumbuh secara alami.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Forbes.com