Tidak cuma manusia yang bisa menggunakan prostetik atau anggota tubuh buatan. Gajah juga bisa menggunakannya, loh.
Seekor gajah bernama Mosha ini kehilangan satu kaki depannya karena menginjak ranjau darat di perbatasan Thailand dan Myanmar, saat berusia 7 bulan.
Di wilayah terpencil Thailand di kawasan perbatasan memang sering ditemukan ranjau darat, hasil konflik bertahun-tahun.
Saat pertama kali dirawat di Friends of the Asian Elephant Foundation, Mosha masih bisa menggunakan tiga kakinya untuk berjalan dan menyeimbangkan diri dengan belalai.
Namun, beranjak dewasa dia mulai kesulitan menyeimbangkan tubuh. Untunglah, yayasan di Thailand ini berhasil menciptakan prostetis pertama di dunia untuk gajah.
Beautiful people do beautiful things ????
— Kevin W. (@Brink_Thinker) March 1, 2021
pic.twitter.com/p2SB4t2i1N
Doctor Therdchai Jivacate berhasil membuat kaki prostetik untuk Mosha sehingga gajah ini bisa beraktivitas dengan lancar.
Proses pemasangannya berlangsung lancar karena Mosha mengizinkan para perawat memasang dan melepas kaki prostetik tersebut saat melakukan penyesuaian.
Kini, kaki prostetik tersebut sudah dikembangkan beberapa kali karena menyesuaikan dengan ukuran tubuh Mosha. Dalam foto dan video yang beredar, Mosha tampak begitu senang ketika kaki prostetik itu dipasangkan ke tubuhnya.
Komodo selama ini dikenal sebagai hewan endemik yang hanya ada di Indonesia. Namun, ilmuwan dari Universitas Nasional Australia (ANU) mengklaim bahwa komodo sebenarnya berasal dari Australia.
Menurut peneliti, awalnya komodo hidup di Australia jutaan tahun lalu, dan kemudian pindah ke Kepulauan Sunda Kecil (Indonesia) dan punah secara total di Australia.
Klaim ini didapatkan setelah peneliti mencari bukti hibridisasi (kawin silang dua spesies berbeda) purba antara komodo dengan biawak pasir.
"Komodo berasal dari Australia Utara dan beremigrasi ke Kepulauan Sunda Kecil sebelum punah secara lokal di Australia," kata para peneliti dalam studi yang dilaporkan di ResearchGate Januari 2021.
Pimpinan peneliti, Carlos J Pavón-Vázquez menjelaskan bahwa komodo memiliki hubungan genetik yang sama dengan empat spesies biawak pasir, hewan yang ditemukan di Australia.
Kuat dugaan dulunya komodo "selingkuh" dengan biawak pasir sehingga menghasilkan hibridisasi antara spesies. Analisis biogeografi juga mengungkap bahwa komodo dan biawak pasir pernah hidup berbarengan di Australia Utara.
"Sejalan dengan catatan fosil, temuan itu memberikan bukti lebih lanjut bahwa Komodo pernah menghuni benua Australia," ujar Vázquez.
Jadi, jika komodo hanya berada di Indonesia, maka tidak mungkin ada kesamaan hubungan genetik dengan biawak pasir yang hanya ditemukan di Australia dan bagian selatan Papua Nugini.
Biawak pasir dan komodo juga memiliki banyak kesamaan dibandingkan perkiraan peneliti sebelumnya.
"Sebelumnya diasumsikan bahwa komodo adalah contoh baik dari apa yang para ahli biologi sebut sebagai aturan pulau - dengan hewan yang lebih kecil tumbuh menjadi lebih besar di lingkungan pulau. Tapi temuan kami memberikan bukti yang lebih kuat bahwa komodo sudah berukuran besar ketika masih di Australia," pungkasnya.
Artikel Menarik Lainnya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: