Kamis, 17 MARET 2022 • 19:20 WIB

Jarang Diketahui, 5 Kemampuan Ini Justru Bisa Dimiliki Penderita Gangguan Mental

Author

Ilustrasi penderita gangguan mental (Unsplash/Alona Siniehina)

Bukan rahasia lagi jika penderita gangguan mental kerap mendapat stigma negatif dari masyarakat. Alih-alih mendapat support, mereka kerap dikucilkan dan dianggap ‘tidak berguna’.

Ironisnya, perlakukan diskriminatif terhadap para penderita gangguan mental sudah berlangsung sejak lama. Bahkan seratus tahun yang lalu, penyakit mental sangat dibenci dan disalahartikan oleh masyarakat.

Mereka memperlakukan penderita secara buruk. Seolah-olah tidak ada cara atau kesempatan untuk sembuh dan hidup normal seperti semula.

Baca juga: Berbeda dengan Rasa Malu, Gangguan Kecemasan Sosial Sebabkan Ketakutan Ekstrem

Padahal mengutip dari Mayo Clinic, penyakit mental tentu saja bisa disembuhkan. Tak hanya itu, beberapa penyakit mental juga justru memberikan kekuatan super atau keahlian khusus bagi penderitanya.

Kemampuan ini mungkin tidak dapat dirasakan oleh manusia normal. Penasaran apa saja?

1. Penderita OCD memiliki ingatan super

Ilustrasi penderita gangguan mental (Unsplash/Alona Siniehina)

Sebuah studi dari Journal of Psychiatric Research yang diterbitkan tahun 2006 mencatat hubungan antara pasien dengan kecemasan, melalui tugas menghafal kata. Peserta diberi 320 kata, ditambah 140 kata asing. Dari 280 kata yang diulang, kelompok OCD dapat mengingat semua kata lebih cepat dan lebih akurat.

Ternyata selain menimbun barang, penderita OCD juga melakukan "penimbunan memori", dan ini dialami hampir sebagian besar pasien OCD. Hal ini terjadi secara kompulsif, di mana pengidap OCD dapat memberikan perhatian ekstra pada detail spesifik dari ingatan mereka.

Saat menganalisis otak pasien OCD, ahli saraf juga menemukan adanya pembesaran di area otak. Hal inilah membuat penderita OCD dapat mengingat secara detail tentang peristiwa masa lalu.

2. Gangguan bipolar membuat penderitanya lebih berempati dan sensitif terhadap bau

Ilustrasi penderita gangguan mental (Unsplash/Alona Siniehina)

Mengutip dari Journal of Affective Disorders, pasien bipolar memiliki empati, spiritualitas, dan ketahanan yang tinggi. Empati sendiri memungkinkan kita untuk merasakan penderitaan orang lain. Namun, pengidap bipolar memiliki empati yang lebih intuitif daripada yang lain.

Efek realisme depresi yang umum pada pengidap bipolar, membuatnya jauh lebih realistis tentang dunia di sekitar mereka. Semakin lama seseorang mengidap bipolar, maka mereka akan jauh lebih tangguh dalam menghadapi hidup.

Selain itu, salah satu gejala gangguan bipolar adalah hipersensitivitas. Hal ini membuat penderitanya jadi sangat sensitif terhadap bau.

Alih-alih, "Oh, saya mencium bau pizza, saya suka pizza", tetapi yang dipikirkan pengidap bipolar adalah, "Oh, saya mencium bau pizza, mobil saya pernah mogok dengan pizza di dalamnya."

3. Gangguan psikosis membuat penderitanya pintar dalam matematika 

Ilustrasi penderita gangguan mental (Unsplash/Alona Siniehina)

Menurut penelitian dari Universitas Reykjavik di Islandia, mahasiswa dengan kemampuan matematika terbaik di Reykjavik pernah dirawat di rumah sakit karena sakit kepala akibat menderita skizofrenia bonafide.

John Nash, salah satu matematikawan paling populer di zaman kita, juga menderita skizofrenia. Nash, yang dipopulerkan oleh film tahun 2001 berjudul A Beautiful Mind, mengklaim bahwa sebagian besar matematikawan terbaik menderita beberapa "karakteristik maniak, delirium, dan gejala skizofrenia."

4. Penderita gangguan kecemasan cenderung cerdas

Ilustrasi penderita gangguan mental (Unsplash/Alona Siniehina)

Sebuah studi oleh SUNY Downstate Medical Center di New York menghubungkan gangguan kecemasan dengan IQ tinggi. Perasaan cemas dan ketakutan itu, membuat seseorang memiliki daya ingat yang lebih tinggi dan keterampilan berpikir kritis.

5. Depresi membuat seseorang menjadi kreatif 

Ilustrasi penderita gangguan mental (Unsplash/Alona Siniehina)

Menurut sebuah penelitian di Karolinska Institute, orang yang bekerja di bidang kreatif lebih mungkin mengalami depresi, lho. Contohnya saja penulis, mereka sering menyendiri di kamar, hanya berkutat dengan pikiran mereka. Sangat mungkin, jika beberapa penulis mengalami depresi.

Contoh lainnya, seniman dunia seperti Vincent Van Gogh, Charles Dickens, Ernest Hemingway, Edvard Munch. Mereka mampu mengubah penderitaan itu menjadi salah satu lukisan yang paling dikenal sepanjang masa.
 

 

Artikel Menarik Lainnya:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU