Masalah kesehatan mental tidak boleh dipandang sebelah mata. Sebab, mental yang sakit akan membuat seseorang menjadi sulit menjalani hidup.
Salah satu penyakit mental yang paling banyak dialami orang adalah depresi. Dikutip dari Alodokter, depresi adalah gangguan suasana hati (mood) yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan rasa tidak peduli.
Ada banyak gejala maupun tanda-tanda seseorang akan mengalami depresi. Salah satunya yang jarang diketahui adalah anhedonia.
Apa Itu Anhedonia?
Menurut Psikiater Dr Zulvia Oktanida Syarif SpKJ, anhedonia adalah kondisi di mana berkurangnya minat atau rasa senang terhadap aktivitas yang sebelumnya menjadi kegemaran.
"Bukan Capadoccia ya, tapi anhedonia. Mungkin teman-teman hanya mengira depresi itu hanya murung, sedih, mudah nangis, sensitif, gitu ya," kata dr Zulvia, disimak Indozone melalui tayangan video di akun Instagram-nya, @dr.vivisyarif, Selasa (29/3/2022).
Seseorang yang mengalami gejala anhedonia, pada umumnya kehilangan minat untuk melakukan apapun, karena semuanya tidak lagi mendatangkan rasa senang.
"Gak ada semangat, gak ada keinginan. Wanting (rasa ingin) gak ada. Misalnya sebelumnya senang drakor, senang travelling, senang makan enak, tiba-tiba dia merasa gak happy, gak merasakan senang. Gak ada liking, gak ada pleasure," jelas dr Zulvia.
Ciri-ciri Orang Mengidap Anhedonia
Dikutip dari halodoc, ketika seseorang mengalami anhedonia, pada umumnya akan menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut:
- Menarik diri dari kehidupan sosial.
- Hubungan dengan orang lain berkurang, atau menarik diri dari hubungan sebelumnya.
- Kemampuan emosional yang berkurang, termasuk kurang ekspresi verbal atau nonverbal.
- Masalah fisik yang terus-menerus, seperti sering sakit.
- Kesulitan menyesuaikan diri dengan situasi sosial.
- Penurunan libido atau kurangnya minat pada keintiman fisik.
- Kecenderungan untuk menunjukkan emosi palsu, seperti berpura-pura bahagia di sebuah pesta.
Penyebab Anhedonia
Penyebab anhedonia terkait erat dengan depresi, tetapi seseorang tidak perlu mengidap depresi untuk mengalami anhedonia.
Anhedonia juga bisa disebabkan oleh penyakit mental seperti skizofrenia atau gangguan bipolar.
Pada beberapa kasus, anhedonia juga muncul pada mereka yang memiliki riwayat penyakit Parkinson, diabetes, penyakit arteri koroner, dan masalah penyalahgunaan zat.
Sebagian pakar berpendapat bahwa anhedonia berhubungan dengan respons emosional di dalam otak sangat kompleks. Dalam hal ini, mekanisme 'reward' yang mendasari penilaian seseorang terhadap sesuatu rusak.
Di samping itu, ada pula pakar yang berpendapat bahwa anhedonia mungkin terkait dengan perubahan aktivitas otak. Pengidapnya mungkin memiliki masalah dengan cara otak memproduksi atau merespons dopamin, zat kimia suasana hati yang "membuat perasaan senang".
Beberapa penelitian awal (pada tikus) menunjukkan bahwa neuron dopamin di area otak (korteks prefrontal) mungkin terlalu aktif pada orang dengan anhedonia. Nah, entah bagaimana kondisi tersebut mengganggu jalur yang mengontrol cara kita mencari “reward” dan merasakannya.
Selain hal-hal itu, ada beberapa kondisi yang diduga dapat memicu anhedonia, yaitu:
- Mengalami peristiwa traumatis atau stres baru-baru ini.
- Riwayat pelecehan atau pengabaian.
- Penyakit yang memengaruhi kualitas hidup.
- Penyakit berat.
- Gangguan makan.
Dua Jenis Anhedonia
Anhedonia terdiri dari dua jenis, yaitu anhedonia sosial dan anhedonia fisik.
Anhedonia sosial membuat pengidapnya tak tertarik pada kontak sosial, atau terjadinya penurunan minat atau kesenangan terhadap situasi sosial.
Sementara itu, anhedonia fisik ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan terhadap sentuhan kasih sayang, seks, atau kehilangan minat terhadap makanan (bahkan yang dulu disukainya).
Jangan Self-Diagnosis
Jika kamu atau teman dekat atau keluarga kamu mengalami ciri-ciri anhedonia, dr Zulvia menganjurkan agar tidak melakukan self diagnosis.
"Tidak boleh self diagnosis, gak boleh langsung bilang 'aduh aku depesi'. Kalau memang perlu, konsultasi ke profesional kesehatan mental seperti psikiater atau ke psikolog," saran dr Zulvia.
Artikel Menarik Lainnya:
Kasih Sayang Suami Kunci Kesehatan Mental Seorang Ibu Agar Tak Depresi hingga Bunuh Anak
Pelajaran dari Kasus Kanti Utami: Ibu yang Kurang Dukungan Suami Rentan Alami Depresi
Ciri-Ciri Seorang Ibu Mengalami Gangguan Mental hingga Depresi, Jangan Diabaikan!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: