Kasus COVID-19 global beberapa minggu terakhir mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh varian baru yang lebih menular, yakni subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 dengan beragam gejalanya.
Belakangan juga terdeteksi subvarian baru, Omicron BA.2.75 atau Centaurus. Varian ini pertama kali terdeteksi di India pada awal Mei, kemudian terdeteksi ke Inggris Raya, Amerika Serikat, Australia, Jerman dan Kanada.
Awal Juli, subvarian Omicron BA.2.75 ditetapkan oleh Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) sebagai varian dalam pantauan, yang artinya bisa lebih menular.
Pertengahan bulan Juli lalu subvarian Omicron BA.2.75 atau Centaurus sudah masuk Indonesia. Kasus subvarian BA.2.75 yang terdeteksi di Indonesia tidak terlalu berat.
Baca juga: Kemenkes RI Prediksi Puncak Gelombang Covid-19 Subvarian Omicron Terlampaui Pekan Ini
Meski demikian, varian ini bisa menyebar secara luas dan menyebabkan pandemi baru. Nah, jadi perlu untuk ketahui gejala umum dari varian Centaurus, agar bisa lebih waspada.
Dilansir Health Library, tidak ada gejala berbeda dari subvarian Omicron BA.2.75 yang dilaporkan sejauh ini. Infeksi yang disebabkan oleh Omicron varian BA.2.75 bersifat ringan atau tanpa gejala.
Menurut NHS, beberapa gejala umum COVID-19 yang meliputi:
- suhu tinggi atau menggigil (menggigil)
- batuk baru yang terus menerus
- kehilangan atau perubahan pada indra penciuman atau perasa
- sesak napas
- merasa lelah atau lelah
- tubuh yang sakit
- sakit kepala
- sakit tenggorokan
- hidung tersumbat atau berair
- kehilangan selera makan
- diare
- merasa sakit atau sakit
Mereka yang terinfeksi subvarian Omicron BA.2.75 akan mengalami sejumlah gejala di atas.
Artikel Menarik Lainnya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: