INDOZONE.ID - Bagi pecinta daging, terutama daging merah seperti sapi dan babi, serta daging olahan seperti sosis dan hot dog, berhati-hatilah. Pasalnya, daging-daging ini diketahui memiliki kaitan dengan peningkatan risiko kanker, benarkah demikian? Berikut beberapa faktanya.
Perbedaan Daging Merah dan Daging Olahan
Sebelum lebih jauh, mari kita pahami lebih dulu perbedaan antara daging merah dan daging olahan:
Daging Merah: Daging dari otot mamalia, seperti sapi, babi, domba, kambing, dan sebagainya.
Daging Olahan: Daging yang diawetkan melalui proses pengasapan, penggaraman, atau penambahan bahan kimia tertentu. Contohnya termasuk bacon, ham, sosis, dan daging asap lainnya.
Tidak hanya daging merah, bahkan daging ayam yang diolah seperti nugget dan pepperoni kalkun juga tergolong sebagai daging olahan.
Baca Juga: Penjelasan Lengkap Heme Iron, Zat Besi pada Daging Merah yang Tingkatkan Risiko Diabetes Tipe 2
Hubungan Antara Daging Merah dan Kanker
Pada tahun 2015, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) meninjau lebih dari 800 studi terkait konsumsi daging merah dan daging olahan dengan risiko kanker.
Berdasarkan hasil penelitian ini, IARC memberikan klasifikasi risiko karsinogenik untuk kedua jenis daging tersebut.
Daging Merah: Diklasifikasikan sebagai "mungkin karsinogenik bagi manusia" dengan bukti yang menunjukkan adanya efek karsinogenik.
Daging Olahan: Diklasifikasikan sebagai "karsinogen bagi manusia", sama dengan kategori yang juga mencakup asap rokok, alkohol, dan sinar ultraviolet.
Dr. Khorana menjelaskan bahwa meskipun keduanya termasuk dalam kategori yang sama, tingkat bahayanya berbeda.
"Hot dog tidak seberbahaya rokok, namun keduanya memang memiliki kaitan dengan kanker menurut IARC," ujar Dr. Khorana seperti dilansir Cleveland Clinic, Jumat (8/11/2024).
Mengapa Daging Olahan Memiliki Risiko Tinggi pada Kanker?
Penelitian menunjukkan bahwa proses pengolahan daging, atau bahan kimia yang terkandung di dalamnya, berpotensi meningkatkan risiko kanker.
Zat seperti nitrat dan nitrit, yang sering digunakan dalam pengawetan daging, dapat berubah menjadi senyawa penyebab kanker di dalam tubuh.
Risiko Kanker dari Daging yang Diasap
Meskipun daging yang diasap terlihat lebih alami, metode memasak ini dapat menciptakan zat berbahaya seperti hidrokarbon aromatik polisiklik (PAHs) dan amina heterosiklik (HCAs).
Zat ini memiliki sifat mutagenik, yang artinya dapat menyebabkan perubahan DNA dan meningkatkan risiko kanker tertentu.
Jenis Kanker yang Berkaitan dengan Daging Merah
Konsumsi daging merah dan daging olahan diketahui paling berkaitan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal, yang meliputi kanker usus besar dan rektum. Kanker ini berkembang dari polip yang terbentuk di lapisan dalam usus besar dan rektum.
Selain itu, beberapa penelitian juga menemukan bahwa konsumsi daging merah dalam jumlah tinggi dapat meningkatkan risiko kanker prostat, pankreas, payudara, hati, paru-paru, ginjal, dan rahim.
Baca Juga: Masih Banyak yang Bingung, Apakah Bebek Termasuk Daging Merah? Ini Penjelasannya!
Mengurangi Risiko Kanker dengan Membatasi Daging Merah
Dengan mengetahui risiko ini, apakah berarti harus berhenti makan daging merah sepenuhnya? Tidak harus, namun mengurangi konsumsinya bisa menjadi pilihan bijak.
IARC menyatakan bahwa risiko kanker meningkat seiring dengan jumlah daging merah dan daging olahan yang dikonsumsi.
Contohnya, setiap 50 gram porsi daging olahan yang dikonsumsi setiap hari meningkatkan risiko kanker kolorektal hingga 18 persen.
Demikian beberapa penjelasan mengenai fakta-fakta daging merah dapat menyebabkan kanker. Menerapkan pola makan sehat tidak hanya baik untuk kesehatan jantung tetapi juga dapat membantu mencegah kanker.
Menyeimbangkan konsumsi makanan dengan sayuran, buah-buahan, dan sumber protein sehat lainnya merupakan langkah yang baik untuk menjaga kesehatan tubuh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Health.clevelandclinic.org