INDOZONE.ID - Sejumlah ahli beberapa waktu lalu melakukan penelitian terhadap keterkaitan antara waktu makan, dengan kadar gula darah.
Penelitian tersebut menunjukkan, waktu makan dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengatur kadar gula darah.
Makan terlalu malam, khususnya mendekati waktu tidur, dapat berdampak buruk terhadap sensitivitas insulin dan metabolisme glukosa.
Hal ini berkaitan erat dengan sistem sirkadian—jam biologis internal tubuh yang mengatur berbagai fungsi, termasuk perilaku dan metabolisme. Sistem ini bekerja dalam siklus 24 jam, dan dikendalikan pusat pengatur waktu di otak, serta jam biologis tambahan di organ-organ seperti hati dan pankreas.
Dikutip dari Medical News Today, karena adanya sistem ini, tubuh kita memproses makanan secara berbeda tergantung pada waktu makan.
Misalnya, makan pada malam hari atau di luar siklus alami terang-gelap—seperti saat bekerja pada shift malam—dapat mengganggu ritme sirkadian dan berpotensi menimbulkan masalah metabolik.
Baca juga: Mitos dan Fakta soal Makan Malam di Atas Jam 8 Malam, Nggak Semuanya Benar!
Studi Ungkap Hubungan Waktu Makan dan Gula Darah
Peneliti dari German Institute of Human Nutrition Potsdam-Rehbrücke (DIfE) meneliti keterkaitan antara waktu makan malam, dan metabolisme gula darah dengan menganalisis data dari studi ‘kembar’ yang dilakukan pada 2009–2010. Hasil studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal eBioMedicine.
Sebelumnya, penelitian telah menunjukkan, konsumsi makanan pada malam hari dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terhadap obesitas dan penyakit jantung.
Namun, interaksi antara waktu makan, ritme biologis individu, dan dampaknya terhadap risiko diabetes belum sepenuhnya dipahami.
Dalam studi tersebut, peneliti menilai, waktu makan peserta diambil berdasarkan jarak antara waktu makan terakhir dengan titik tengah tidur—yakni waktu di antara saat seseorang tertidur dan bangun.
Penanda ini menunjukkan, kecenderungan kronotipe seseorang, apakah ia lebih aktif di pagi hari (morning person) atau malam hari (night owl).
Makan Larut Turunkan Sensitivitas Insulin
Sebanyak 92 partisipan yang terdiri dari 46 pasang kembar identik maupun fraternal, mengikuti studi ini. Selama lima hari berturut-turut, mereka diminta mencatat waktu makan, serta jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi.
Selain itu, dilakukan evaluasi metabolik menyeluruh seperti pemeriksaan fisik, riwayat medis, pengukuran tubuh, dan tes toleransi glukosa.
Analisis menunjukkan, mereka yang makan terakhir kali di waktu lebih malam—terutama mendekati waktu tidur—memiliki sensitivitas insulin yang lebih rendah.
Artinya, tubuh mereka cenderung kurang efektif dalam mengatur kadar gula darah setelah makan malam.
Baca juga: Wajib Coba! 6 Minuman Sehat untuk Menunjang Pencernaan Usai Makan Malam
Apakah Harus Menghindari Makan Malam?
Ahli Gizi terdaftar dari Top Nutrition Coaching, Destini Moody, yang tidak terlibat dalam studi ini, menanggapi hasil penelitian tersebut. Ia menyatakan, meskipun waktu makan penting bagi penderita diabetes, studi ini dilakukan pada individu sehat yang tidak memiliki gangguan metabolik.
“Secara umum, saya skeptis jika seseorang mengatur waktu makan hanya untuk menurunkan berat badan atau mengendalikan gula darah—kecuali mereka memang mengidap diabetes,” ujar Moody kepada Medical News Today.
Moody menambahkan, variasi kadar gula darah adalah bagian alami dari proses pencernaan dan metabolisme. Ia menyarankan, agar masyarakat tidak terlalu khawatir soal ini, kecuali punya kondisi metabolik seperti diabetes tipe 2.
Namun, ia tetap menekankan pentingnya memperhatikan asupan serat. Makanan tinggi gula tambahan, rendah serat, dan berbahan dasar gandum olahan, dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah yang cepat dan penurunan drastis setelahnya.
“Untungnya, konsumsi biji-bijian utuh, buah dan sayuran berserat tinggi, serta protein tanpa lemak dapat membantu menstabilkan gula darah sekaligus mencegah risiko penyakit kronis,” imbuhnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical News Today