INDOZONE.ID - Banyak orang berpikir toxic friendship hanya sebatas drama kecil antar teman — ngambek, salah paham, atau konflik sesaat yang nantinya akan selesai sendiri.
Padahal kenyataannya, pertemanan toxic bisa meninggalkan dampak jauh lebih besar dari yang dibayangkan.
Bukan cuma bikin stres, hubungan pertemanan yang tidak sehat juga bisa perlahan mempengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri hingga merusak hubungan lain yang sebenarnya baik dan sehat.
Yang lebih bahaya, banyak orang tidak sadar bahwa mereka sedang terjebak dalam lingkaran pertemanan toxic sampai dampaknya mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: PNM Perluas Akses Pendidikan Lewat Beasiswa hingga Ruang Pintar PNM di Pelosok Negeri
Awalnya Terlihat Sepele, Tapi Lama-Lama Menguras Mental
Pertemanan toxic biasanya tidak langsung terlihat jelas di awal. Bahkan banyak yang bermula dari hubungan yang terasa sangat dekat.
Namun seiring waktu, muncul kebiasaan yang mulai merugikan, seperti:
- Sering meremehkan pencapaianmu
- Membuat candaan yang menyakitkan lalu bilang kamu terlalu sensitif
- Selalu ingin menjadi pusat perhatian
- Manipulatif dan sering playing victim
- Datang hanya saat butuh bantuan
Baca juga: “Teman Dekat” Ternyata Bisa Bikin Stres Kamu Meningkat Tanpa Disadari, Kok Bisa?
Membuatmu merasa bersalah tanpa alasan yang jelas
Hal-hal seperti ini sering dianggap normal karena dibungkus dengan label “bercanda” atau “namanya juga teman dekat”. Padahal jika terus terjadi, perlahan kondisi tersebut bisa menguras energi emosional seseorang.
Kamu Mulai Meragukan Diri Sendiri
Salah satu dampak terbesar dari toxic friendship adalah munculnya rasa ragu terhadap diri sendiri.
Saat terlalu sering dikritik, diremehkan, atau dibuat merasa bersalah, seseorang bisa mulai percaya bahwa dirinya memang tidak cukup baik. Kamu mungkin mulai berpikir:
“Aku terlalu membosankan ya?”
Baca juga: Cewek Ini Tetap Gas UTBK Meski Diinfus, Datang ke Lokasi Ujian Pakai Ambulance
“Apa aku teman yang buruk?”
“Kenapa ya orang gampang menjauh dariku?”
Pikiran seperti ini bisa muncul bahkan saat kamu sedang bersama teman lain yang sebenarnya tulus dan suportif.
Sulit Percaya pada Orang Lain
Pengalaman buruk dengan satu teman juga bisa mempengaruhi cara kamu membangun hubungan baru.
Setelah merasa dimanfaatkan, dikhianati, atau terus disakiti, banyak orang jadi lebih tertutup. Mereka takut kejadian yang sama terulang lagi.
Baca juga: Kesepian Justru Setelah Bertemu Teman? Bisa Jadi Kamu Ada di Lingkaran Pertemanan Toxic
Akibatnya, muncul rasa curiga berlebihan terhadap orang lain. Kamu mungkin merasa semua orang punya niat buruk atau hanya datang saat membutuhkan sesuatu.
Padahal belum tentu demikian.
Hubungan Lain Ikut Rusak
Ini salah satu dampak yang paling sering tidak disadari.
Karena kehilangan rasa percaya diri dan sulit mempercayai orang lain, seseorang bisa mulai menjauh dari hubungan yang sehat, misalnya ajakan bertemu ditolak, chat diabaikan., atau bahkan lingkungan sosial perlahan ditinggalkan.
Orang-orang yang sebenarnya peduli justru ikut terdorong menjauh karena merasa kamu menutup diri. Pada akhirnya, kamu bisa kehilangan support system yang selama ini sebenarnya sangat berarti.
Baca juga: Temanmu Sering Mencoba Mengubah Dirimu, Bisa Jadi Itu Tanda Toxic Friendship!
Risiko Kesepian dan Stres Berkepanjangan
Saat seseorang menjauh dari banyak orang, rasa kesepian bisa semakin besar.
Jika kondisi ini berlangsung lama, dampaknya dapat berkembang menjadi stres berkepanjangan, overthinking, kecemasan sosial, menurunnya rasa percaya diri dan perasaan kesepian yang mendalam.
Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga bisa mempengaruhi produktivitas di sekolah, kampus, hingga tempat kerja.
Kapan Harus Mengakhiri Pertemanan Toxic?
Tidak semua konflik berarti hubungan harus diakhiri. Namun jika seseorang terus membuatmu merasa lelah secara emosional, kehilangan rasa percaya diri, dan menjauh dari orang-orang baik lainnya, itu bisa menjadi tanda hubungan tersebut tidak sehat.
Baca juga: Dia Cuma Muncul Saat Butuh Kamu? Waspada, Ini Tanda Kamu Lagi “Dimanfaatkan” Temanmu!
Pertemanan yang sehat seharusnya memberikan dukungan, rasa aman, dan tumbuh bersama. Bukan justru membuat hidup terasa lebih berat setiap harinya.
Kalau satu teman mulai merusak banyak hal baik dalam hidupmu, mungkin sudah waktunya memilih dirimu sendiri sebelum semuanya terlambat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline