INDOZONE.ID - Sebagai negara dengan kekayaan budaya luar biasa, setiap daerah di Indonesia punya tradisi khas yang lahir dari cara masyarakatnya berinteraksi dengan alam. Di wilayah pesisir timur Jambi, tepatnya di Kampung Laut, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, ada satu tradisi unik yang jarang diketahui orang luar, yaitu Tradisi Berburu Sumbun.
Tradisi ini bukan sekadar kegiatan mencari hasil laut. Ia adalah warisan budaya Suku Duano yang sarat nilai spiritual, aturan adat, dan kearifan lokal dalam menjaga ekosistem pesisir.
Kini, tradisi tersebut bertransformasi menjadi Festival Sumbun, sebuah agenda budaya yang mulai dilirik sebagai daya tarik wisata.
Apa Itu Sumbun?
Sumbun adalah sejenis kerang bambu yang hidup di kawasan berlumpur pesisir. Biota laut ini hanya muncul saat air laut surut dan tidak bisa ditemukan sepanjang tahun. Kemunculannya sangat bergantung pada musim serta kondisi cuaca.
Bagi masyarakat Suku Duano, sumbun bukan hanya sumber makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya pesisir. Karena sifatnya musiman dan alami, proses mencarinya dilakukan dengan cara tradisional tanpa merusak lingkungan.
Sejarah Tradisi Berburu Sumbun
Tradisi menyumbun berasal dari kebiasaan turun-temurun masyarakat Suku Duano yang hidup bergantung pada laut. Awalnya, kegiatan ini murni dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi kegiatan komunal. Warga turun ke beting (hamparan lumpur saat laut surut) secara bersama-sama. Momen ini berubah menjadi semacam pesta rakyat karena melibatkan banyak orang, penuh kebersamaan, serta diiringi ritual adat.
Baca juga: Ngumbahkeun Pusaka: Tradisi Lama yang Relevan Dengan Kondisi Gen Z Saat Ini
Melihat potensi budaya yang kuat, pemerintah daerah kemudian mengemas tradisi ini menjadi Festival Sumbun. Sejak 2017, nama Festival Kampung Laut resmi diganti menjadi Festival Sumbun agar lebih khas dan punya identitas budaya yang kuat.
Kapan dan Bagaimana Sumbun Muncul?
Sumbun tidak bisa ditemukan setiap hari. Ada kondisi alam tertentu yang harus terpenuhi:
Sumbun hanya muncul saat air laut surut, terutama antara bulan April hingga Juni. Kemunculannya juga dipengaruhi cuaca. Saat hujan atau mendung, sumbun cenderung tidak keluar dari lumpur. Masyarakat biasanya mencari sumbun saat cuaca panas karena biota ini lebih mudah dipancing keluar.
Cara menangkapnya pun unik. Lumpur hanya dilubangi kecil lalu disiram larutan kapur. Sumbun akan keluar dengan sendirinya. Metode ini menunjukkan bahwa tradisi ini selaras dengan prinsip pelestarian lingkungan.
Ritual Sebelum Berburu Sumbun
Salah satu hal yang membedakan tradisi ini dari sekadar aktivitas mencari kerang adalah adanya ritual adat. Sebelum warga turun ke beting, tetua adat akan melakukan ritual tepung tawar.
Tepung tawar merupakan simbol keselamatan dan penghormatan kepada alam. Campuran tepung beras, kunyit, dan bahan alami lain digunakan dalam prosesi doa bersama. Ritual ini bermakna permohonan keselamatan, sekaligus pengingat bahwa manusia harus menjaga laut, bukan merusaknya.
Pantangan saat Menyumbun
Tradisi ini juga diikat oleh aturan adat yang harus dipatuhi peserta. Larangan-larangan tersebut tidak muncul tanpa alasan, melainkan bagian dari sistem nilai masyarakat pesisir.
Peserta tidak boleh berbicara kotor atau sombong, karena dipercaya dapat mendatangkan bahaya. Tidak diperkenankan membuang sampah di laut, sebagai bentuk penghormatan terhadap alam.
Beberapa area juga dilarang untuk berenang karena berisiko, seperti keberadaan ular laut. Bahkan penggunaan perhiasan dan payung pun dilarang karena dianggap tidak sesuai etika adat saat ritual berlangsung.
Aturan ini menunjukkan bagaimana tradisi lokal berfungsi sebagai mekanisme sosial untuk menjaga lingkungan dan keselamatan bersama.
Nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi Sumbun
Tradisi berburu sumbun mencerminkan kearifan lokal masyarakat pesisir Jambi. Nilai tersebut tampak dalam cara mereka memanfaatkan sumber daya alam tanpa eksploitasi berlebihan.
Ada larangan menebang mangrove untuk kepentingan komersial karena mangrove penting bagi ekosistem pesisir. Penangkapan biota laut berukuran kecil juga dihindari agar populasi tetap terjaga. Norma ini menunjukkan pemahaman ekologis yang diwariskan turun-temurun.
Baca juga: Mengenal Ukuwala Mahiate, Tradisi Pukul Sapu di Maluku Tengah yang Dilakukan Setiap Bulan Syawal
Selain itu, penghormatan terhadap laut sebagai ruang hidup juga tercermin dalam ritual menyemah laut dan berbagai doa keselamatan sebelum melaut.
Dari Tradisi ke Festival Budaya
Transformasi tradisi ini menjadi Festival Sumbun membawa dampak ekonomi. Festival menghadirkan atraksi budaya, tarian sumbun, ritual adat, hingga wisata kuliner khas pesisir.
Pengunjung bahkan diperbolehkan ikut turun mencari sumbun, sehingga merasakan langsung pengalaman budaya. Inilah yang membuat Festival Sumbun punya potensi besar sebagai wisata berbasis kearifan lokal.
Mengapa Tradisi Ini Penting Dilestarikan?
Di tengah modernisasi, banyak tradisi lokal perlahan hilang. Tradisi berburu sumbun justru menjadi contoh bagaimana budaya bisa bertahan ketika diberi ruang dan nilai ekonomi.
Tradisi ini bukan hanya soal masa lalu, tetapi juga sistem pengetahuan lokal tentang cara hidup berdampingan dengan alam. Ia mengajarkan batasan, etika, serta keseimbangan ekosistem.
Tradisi berburu sumbun di Jambi adalah perpaduan antara budaya, ekologi, dan spiritualitas masyarakat pesisir. Dari aktivitas mencari kerang sederhana, ia berkembang menjadi festival budaya yang memperkenalkan identitas Suku Duano ke khalayak luas.
Lebih dari sekadar wisata, tradisi ini adalah bukti bahwa kearifan lokal masih relevan dalam menjaga lingkungan dan memperkuat jati diri daerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jambiprov.go.id