Ilustrasi main character syndrome
INDOZONE.ID - Sekilas terlihat estetik ketika seseorang duduk sendirian di coffee shop, pakai headphone, baca buku, senyum tipis ke jendela hujan.
Caption seperti “Living my main character era” memang terlihat estetik dan penuh nuansa film indie. Tapi di balik kesan itu, muncul tren baru yang tanpa sadar bisa merusak relasi sosial: Main character syndrome atau sindrom tokoh utama.
Ini bukan cuma soal gaya hidup. Ini tentang pola pikir. Saat seseorang begitu tenggelam dalam ilusi bahwa hidupnya adalah film, dan dirinya adalah pemeran utama yang semua hal harus berputar di sekelilingnya.
Kamera imajiner selalu merekam. Musik latar selalu dimainkan dalam kepala. Semua kejadian, sekecil apapun, dianggap bagian dari plot besar yang mengagungkan dirinya.
Baca juga: Profil Anna Wintour, Ratu Mode Dunia yang Mundur dari American Vogue
Masalahnya, si skenario itu, orang lain cuma figuran atau lebih parah, hanya alat bantu narasi. Banyak anak muda terjebak di tren ini tanpa sadar.
Banyak orang kini cenderung membingkai setiap momen seolah penuh arti, layaknya adegan dalam film kehidupan mereka sendiri. Sedih harus dramatis. Bahagia harus estetik. Konflik jadi konten.
Dan semua harus relatable di Instagram atau TikTok. Tapi di balik semua itu, ada efek samping yang nggak bisa diremehkan: kehilangan empati.
Karena terlalu sibuk jadi karakter utama, mereka lupa bahwa orang lain juga punya cerita, emosi, dan kelelahan yang sama beratnya.
Di lingkaran pertemanan, ini jadi masalah serius. Teman yang butuh didengar justru dipotong karena "aku juga pernah ngalamin hal yang lebih parah, tahu nggak waktu itu...".
Baca juga: 100 Ucapan Selamat Lamaran dalam Islam dan Bahasa Inggris
Hubungan jadi transaksional, seberapa besar orang lain bisa memperkuat plot utama si main character. Kalau nggak sesuai narasi? Dibuang. Disenyapkan. Dighosting.
Fenomena ini makin kuat sejak sosial media jadi panggung utama. Algoritma mendorong narasi personal yang dramatis dan menarik perhatian.
Tapi sayangnya, semakin tinggi engagement, semakin besar potensi seseorang terjebak dalam ego digital. Hidup bukan lagi untuk dijalani, tapi untuk ditonton.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Cleveland Clinic