Ilustrasi kram saat hamil. (Freepik)
INDOZONE.ID - Kram saat hamil merupakan salah satu sensasi paling umum yang dialami ibu hamil. Bahkan, kram ini bisa muncul sejak beberapa hari setelah pembuahan.
Sensasinya sering kali mirip dengan nyeri haid. Sehingga, nyeri perut saat hamil, terutama pada trimester awal, kerap menimbulkan kebingungan dan kekhawatiran.
Seiring rahim membesar dan perubahan hormon terjadi, kram ringan umumnya mencerminkan proses adaptasi tubuh yang normal, bukan tanda bahaya.
Namun, nyeri perut saat hamil perlu diwaspadai bila kram terasa semakin kuat, berlangsung lama, atau disertai gejala lain. Misal, perdarahan, demam, atau pusing.
Memahami bagaimana kram terasa pada tiap tahap kehamilan, membantu membedakan antara perubahan normal dan kondisi medis yang memerlukan penanganan segera.
Kesadaran sejak dini, memungkinkan ibu hamil mengambil langkah yang tepat demi menjaga kesehatan diri dan janin.
Baca juga: 6 Strategi Terbaik agar Ibu Hamil Tetap Sehat dan Terhidrasi Selama Musim Panas
Dikutip Medical Daily, kram kehamilan yang normal, umumnya terjadi akibat penyesuaian rahim terhadap pertumbuhan yang cepat, dan peningkatan aliran darah.
Pada awal kehamilan, kram sering dipicu oleh proses implantasi, yakni saat sel telur yang telah dibuahi menempel pada dinding rahim.
Kondisi ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman ringan atau tekanan halus di perut bagian bawah.
Ilustrasi ibu hamil (METRO.CO.UK)
Memasuki trimester berikutnya, peregangan ligamen dan pembesaran otot rahim, dapat menimbulkan nyeri yang datang dan pergi. Biasanya, keluhan ini membaik dengan istirahat atau perubahan posisi tubuh.
Menurut American Pregnancy Association, nyeri ligamen bundar (round ligament pain) merupakan penyebab umum kram pada trimester kedua, dan tergolong tidak berbahaya selama berlangsung singkat dan berkaitan dengan gerakan.
Nyeri ini sering terasa tajam, muncul di satu sisi perut, dan dipicu oleh berdiri terlalu cepat, batuk, atau berguling di tempat tidur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily