Ilustrasi penggunaan AI untuk keperluan medis (freepik).
INDOZONE.ID - Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini semakin merambah dunia medis, termasuk ke ruang operasi.
Para produsen alat kesehatan berlomba menambahkan fitur AI pada produk mereka dengan klaim dapat merevolusi pengobatan.
Namun di balik janji kemajuan, mulai bermunculan laporan kelam tentang pasien yang terluka parah, bahkan diduga akibat kesalahan sistem AI.
Investigasi Reuters yang dirilis 9 Februari 2026 mengungkap setidaknya ada 1.357 alat medis dengan AI yang telah disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA).
Jumlah ini dua kali lipat lebih banyak dibandingkan akhir 2022.
Baca juga: Pengertian Jalan Cepat, Beserta Sejarah dan Manfaatnya Bagi Kesehatan
Sayangnya, peningkatan pesat ini tidak diimbangi pengawasan yang memadai, dan dampaknya mulai terasa.
Salah satu kasus paling menonjol melibatkan TruDi Navigation System, alat bantu operasi sinusitis kronis yang diproduksi anak perusahaan raksasa kesehatan Johnson & Johnson, Acclarent.
Alat ini sudah beredar sejak 2018. Pada 2021, perusahaan menambahkan fitur AI dengan algoritma machine learning untuk membantu dokter spesialis THT.
Namun, sejak AI ditambahkan, FDA menerima setidaknya 100 laporan kerusakan dan efek samping, dengan 10 di antaranya mengakibatkan cedera pasien antara akhir 2021 hingga November 2025.
Sebagian besar dugaan kesalahan terkait sistem TruDi yang memberi informasi keliru tentang posisi instrumen bedah di dalam kepala pasien.
Baca juga: 6 Cara Mengatasi Jari Tangan Panas Kayak Terbakar, Langsung Reda Cepat Tanpa Ribet!
Akibatnya, cairan otak dilaporkan bocor dari hidung pasien, tengkorak pasien tertusuk, hingga dua pasien mengalami stroke setelah arteri utama mereka terluka.
Dua pasien stroke itu bahkan telah menggugat Acclarent ke pengadilan di Texas. Mereka menduga AI dalam sistem TruDi berkontribusi pada cedera yang mereka alami.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters