Ilustrasi campak pada anak. (Eliani Kusnedi)
INDOZONE.ID - Campak termasuk penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Meski sering dianggap penyakit biasa pada anak, campak bisa menimbulkan komplikasi serius, bahkan berisiko menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan baik.
Belakangan ini, kasus campak di Indonesia juga kembali ramai diperbincangkan. Padahal, penyakit ini bisa dicegah dengan langkah sederhana seperti vaksinasi dan menjaga kebersihan.
Agar lebih paham, yuk kenali penyebab campak dan cara mencegahnya sejak dini.
Baca juga: Bahaya Obesitas bagi Kesehatan, Faktor Penyebab, dan Cara Mencegahnya
Campak adalah penyakit yang cukup sering menyerang anak-anak. Meski begitu, orang dewasa juga bisa terkena campak, terutama jika belum pernah terinfeksi atau belum mendapatkan vaksin sebelumnya.
Secara medis, campak disebabkan oleh virus dari kelompok Morbillivirus, yang masih satu keluarga dengan Paramyxovirus dan termasuk virus yang sangat mudah menular.
Penularannya biasanya terjadi lewat percikan air liur (droplet) dari orang yang terinfeksi, misalnya saat batuk, bersin, atau berbicara.
Perlu diwaspadai, seseorang yang terinfeksi campak sudah bisa menularkan virus sekitar 4 hari sebelum gejala muncul hingga 4 hari setelah gejalanya mulai mereda.
Jika tidak ditangani dengan baik, campak juga bisa memicu komplikasi serius seperti bronkitis, pneumonia, ensefalitis (radang otak), bahkan kematian.
Baca juga: Kenapa Anak Usia 2 Tahun Tidak Menoleh Saat Dipanggil? Ini Kemungkinannya
Selain itu, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko anak terkena campak, seperti bayi berusia di bawah 1 tahun yang belum mendapatkan imunisasi campak, kekurangan vitamin A, bepergian ke daerah dengan kasus campak tinggi, dan bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif.
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah campak pada anak, mulai dari vaksinasi hingga menjaga kebersihan sehari-hari.
Cara paling efektif untuk mencegah campak adalah dengan vaksinasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Siloam Hospilats