INDOZONE.ID - Peringatan Hari Kartini 2026 bukan hanya jadi momen mengenang perjuangan R.A. Kartini, tapi juga digunakan sebagai langkah nyata untuk mendorong kesehatan perempuan Indonesia.
Dalam momentum ini, hadir dorongan agar gerakan penyelamatan kesehatan perempuan bisa berkembang menjadi gerakan nasional yang melibatkan banyak pihak. Gerakan tersebut dikenal dengan nama SPRIN atau Selamatkan Perempuan Indonesia.
Program ini hadir karena masih banyak tantangan serius yang dihadapi perempuan Indonesia, mulai dari tingginya angka kematian ibu hingga penyakit yang sebenarnya bisa dicegah jika terdeteksi lebih awal.
Baca juga: 7 Manfaat Chia Seed untuk Kesehatan Tubuh yang Jarang Diketahui
Acara yang digelar di Jakarta pada 21 April 2026 ini dihadiri banyak tokoh dari berbagai sektor. Mulai dari pemerintahan, tenaga kesehatan, akademisi, hingga lembaga-lembaga lain yang menunjukkan dukungannya.
Prof. Budi Wiweko, Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) mengungkap SPRIN diharapkan bukan sekadar program sesaat, tapi gerakan bersama yang dampaknya bisa panjang.
“SPRIN bukan sekadar program, melainkan sebuah gerakan kolektif untuk mendorong perubahan nyata dan berkelanjutan. Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat bahwa kesehatan perempuan bukan isu sektoral, melainkan fondasi utama pembangunan bangsa. Ketika perempuan sehat dan berdaya, maka keluarga menjadi lebih kuat, generasi yang lahir lebih berkualitas, dan pada akhirnya akan memperkuat daya saing bangsa secara keseluruhan. Ke depan, SPRIN kami dorong untuk berkembang menjadi Gerakan Nasional yang melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan lintas sektor. Bahkan, kami menargetkan pembentukan Satgas SPRIN sebagai langkah strategis untuk memastikan upaya ini berjalan secara terstruktur, terukur, dan berkelanjutan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Baca juga: 7 Manfaat Bunga Rosella untuk Wanita, Baik untuk Tubuh dan Kulit
Saat ini, angka kematian ibu di Indonesia masih berada di kisaran 189 per 100.000 kelahiran hidup. Angka itu termasuk tinggi di kawasan Asia Tenggara.
Selain itu, kanker serviks juga masih jadi ancaman besar. Setiap tahun, puluhan ribu kasus baru muncul dan ribuan perempuan kehilangan nyawa.
Masalah ini semakin berat karena masih ada keterbatasan akses layanan kesehatan, perbedaan fasilitas antar daerah, stigma sosial, hingga rendahnya pemahaman soal kesehatan reproduksi.
Oleh karena itu, SPRIN hadir bukan hanya fokus di pengobatan, tapi juga edukasi dan pencegahan sejak awal.
Sebagai langkah nyata, SPRIN membawa 10 fokus utama yang menyasar perempuan di berbagai fase kehidupan, dari remaja hingga lanjut usia.
Program itu meliputi:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung