INDOZONE.ID - Tidur bukan sekadar aktivitas rebahan di malam hari. Ini adalah bentuk istirahat paling vital yang dibutuhkan tubuh dan otak untuk memulihkan energi, memperbaiki sel-sel tubuh, hingga menjaga kesehatan mental. Tapi, berapa lama sih waktu tidur yang ideal?
Jawabannya nggak satu ukuran untuk semua. Kebutuhan tidur berubah sesuai usia dan fase kehidupan. Supaya kamu bisa menjaga kualitas tidur dan kesehatan tubuh tetap optimal, yuk simak porsi tidur yang ideal berdasarkan kelompok usia berikut ini!
Bayi (0–12 Bulan): Tidur Jadi Aktivitas Utama
Di fase awal kehidupan, bayi butuh banyak waktu untuk tidur. Pada usia 0–3 bulan, durasi tidurnya bisa mencapai 14 hingga 18 jam per hari. Ini karena sistem saraf dan otak bayi masih berkembang cepat dan butuh waktu istirahat ekstra.
Saat memasuki usia 4–12 bulan, kebutuhannya menurun sedikit, yaitu sekitar 12–16 jam per hari. Bayi mulai mengenali siang dan malam, dan ritme biologisnya mulai terbentuk.
Balita dan Anak Prasekolah (1–5 Tahun): Mulai Aktif, Tapi Masih Butuh Banyak Istirahat
Memasuki usia balita (1–2 tahun), waktu tidur yang dibutuhkan adalah 11–14 jam per hari. Lalu saat anak beranjak usia prasekolah (3–5 tahun), kebutuhan tidur menurun menjadi 10–13 jam.
Meski jam tidurnya menurun, tidur siang masih penting di usia ini, biasanya sekali sehari dengan durasi 1–3 jam. Fase ini juga krusial untuk perkembangan otak, kemampuan bicara, hingga daya tangkap anak.
Baca juga: Overthinking Tiap Malam? Coba 4 Trik Ini Biar Tidurmu Nggak Drama Lagi!
Anak dan Remaja (6–18 Tahun): Masuk Sekolah, Tidurnya Mulai Berantakan
Untuk anak usia sekolah (6–12 tahun), waktu tidur idealnya 9–11 jam per hari. Biasanya mereka sudah jarang tidur siang karena aktivitas sekolah yang padat.
Nah, mulai usia remaja (13–18 tahun), kebutuhannya menurun jadi 8–10 jam. Tapi di usia ini banyak remaja yang mulai tidur lebih larut karena tugas sekolah, main gadget, atau media sosial. Akibatnya, banyak dari mereka yang kekurangan tidur, padahal fase ini penting untuk pertumbuhan fisik dan emosional.
Dewasa (19–64 Tahun): Butuh 7–8 Jam, Tapi Sering Disepelekan
Saat tubuh sudah selesai tumbuh dan berkembang, kebutuhan tidur menurun menjadi 7–8 jam per hari. Tapi sayangnya, orang dewasa justru sering mengorbankan tidur demi pekerjaan, scroll TikTok, atau binge watching serial favorit.
Kalau kamu merasa butuh lebih dari 9 jam tidur tapi tetap merasa lelah, bisa jadi itu tanda kualitas tidurmu buruk. Gaya hidup jadi faktor utama, konsumsi kafein malam hari, stres tinggi, jarang olahraga, atau kebiasaan begadang bisa bikin tidurmu nggak nyenyak.
Hindari gadget 30 menit sebelum tidur, atur waktu tidur dan bangun secara konsisten, dan batasi tidur terlalu lama saat weekend.
Lansia (65 Tahun Ke Atas): Tidur Lebih Cepat, Bangun Lebih Pagi
Pada usia 65 tahun ke atas, tubuh mulai memproduksi lebih sedikit hormon melatonin, yang mengatur rasa ngantuk. Akibatnya, lansia cenderung tidur lebih cepat di malam hari dan bangun lebih pagi.
Durasi tidurnya masih sekitar 7–8 jam, sama seperti usia dewasa, tapi kualitas tidurnya biasanya lebih ringan. Banyak lansia juga mudah terbangun di malam hari, sehingga butuh perhatian ekstra untuk menciptakan lingkungan tidur yang nyaman.
Kenapa Tidur Cukup Itu Sepenting Itu?
Tidur yang cukup dan berkualitas bisa bantu kamu terhindar dari berbagai penyakit serius, mulai dari stres kronis, obesitas, diabetes, hingga penyakit jantung. Selain itu, tidur juga mempengaruhi mood, konsentrasi, dan performa harian.
Makanya, jangan anggap sepele soal waktu tidur. Tidur cukup bukan cuma soal malas atau produktif, tapi soal hidup yang lebih sehat dan seimbang.
Baca juga: Earbud Nempel Pas Tidur? Ini Plus Minusnya Buat Kesehatan Telinga
Tidur Adalah Investasi untuk Kesehatan
Menjaga pola tidur sesuai usia adalah bagian penting dari gaya hidup sehat. Jadi, mulai sekarang cobalah untuk disiplin dengan jam tidurmu. Tubuh yang cukup istirahat akan lebih siap menghadapi tantangan hari esok.
Ingat, tidur bukan buang waktu, justru itu cara tubuhmu menyelamatkan diri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kemenkes, TIME, Doktersehat.com