INDOZONE.ID - Amerika Serikat setop vaksin Chikungunya Ixchiq setelah muncul laporan mengenai sejumlah kasus efek samping yang dinilai serius.
Penangguhan izin edar ini diumumkan oleh Valneva, perusahaan farmasi asal Prancis yang mengembangkan vaksin tersebut.
Ixchiq merupakan satu dari hanya dua vaksin yang pernah mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA).
Baca juga: Tren Chikungunya Meningkat, Kemenkes Ingatkan Masyarakat agar Waspada
Vaksin ini awalnya dianggap sebagai terobosan penting dalam menghadapi penyebaran chikungunya, virus yang ditularkan melalui nyamuk.
Penyakit ini lazim ditemukan di kawasan tropis, namun kini kasusnya mulai bermunculan di berbagai negara dunia.
Valneva mendapatkan izin edar FDA pada 2023. Namun, laporan terkait efek samping vaksin Ixchiq membuat regulator mengambil langkah hati-hati, terutama dalam penggunaannya pada pasien lansia.
Baca juga: Warning! Chikungunya Meledak di China, Ada 7.000 Kasus
Badan Obat Eropa (EMA) bahkan sempat meninjau ulang keamanan vaksin ini pada awal tahun.
Valneva menyebut FDA mengeluarkan keputusan penangguhan setelah terdeteksi empat kasus tambahan efek samping berat, tiga di antaranya menimpa pasien berusia 70 hingga 82 tahun. Dengan temuan ini, Ixchiq ditangguhkan Amerika Serikat secara efektif sejak 22 Agustus lalu.
Bahaya Chikungunya
Meski demikian, CEO Valneva, Thomas Lingelbach, menegaskan bahwa pihaknya tetap berkomitmen menjaga akses vaksin sebagai bagian dari strategi kesehatan global.
Para pakar mengingatkan bahwa chikungunya berpotensi menjadi ancaman pandemi di masa depan. Perubahan iklim membuat nyamuk pembawa virus semakin mudah masuk ke wilayah baru.
Gejala yang ditimbulkan mirip dengan demam berdarah dan Zika, yakni demam tinggi disertai nyeri sendi parah yang dapat melumpuhkan aktivitas sehari-hari.
Walaupun jarang menimbulkan kematian, risiko kematian meningkat pada bayi dan lansia. Inilah yang membuat Amerika Serikat setop vaksin Chikungunya untuk sementara waktu demi menekan potensi bahaya.
WHO Beri Peringatan
Bulan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberi peringatan tentang ancaman epidemi besar chikungunya.
WHO menyebut tanda-tanda awal ini mengingatkan pada wabah dua dekade lalu yang menyapu kawasan Samudra Hindia dan menular ke seluruh dunia, menginfeksi hampir setengah juta orang.
Di sisi lain, laporan terbaru Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) mencatat ada 27 wabah chikungunya di Eropa sepanjang 2025, jumlah tertinggi dalam sejarah benua tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Washington Post