INDOZONE.ID - Buat pecinta cokelat, tentu sudah tidak asing dengan Nutella. Selai cokelat dan hazelnut asal Italia ini, sudah lama menjadi favorit banyak orang di seluruh dunia.
Rasanya yang manis dan lembut, membuat produk tersebut kerap dioleskan pada roti, wafel, es krim, hingga dimakan langsung dengan sendok.
Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan, apakah Nutella benar-benar baik untuk kesehatan?
Perdebatan Klasifikasi di AS
Menurut laporan yang dikutip dari Medical Daily, Nutella saat ini dikategorikan sebagai dessert topping (topping pencuci mulut) oleh U.S. Food and Drug Administration (FDA), sejajar dengan sirup atau marshmallow cream.
Baca juga: Di Balik Kelezatan Nutella, Selai Cokelat asal Italia yang Dicintai Banyak Orang
Namun, perusahaan pembuatnya, Ferrero, menginginkan Nutella digolongkan ke kategori yang sama dengan madu atau selai buah.
Perbedaan utamanya ada pada takaran saji:
- Dessert topping: 2 sendok makan.
- Selai buah/madu: 1 sendok makan.
Ferrero menilai, klasifikasi lama tidak relevan karena berdasarkan survei awal 1990-an menyebutkan, Nutella lebih banyak digunakan di atas es krim. Kini, sebagian besar orang justru memakainya di roti dengan porsi lebih kecil.
Berapa Banyak Nutella yang Dikonsumsi?
Menurut survei yang diajukan Ferrero ke FDA:
- 74 persen konsumen menggunakan Nutella pada roti atau sandwich.
- 2 persen digunakan di atas es krim.
- Takaran umum konsumsi adalah 1 sendok makan, bukan 2.
FDA kini mempertimbangkan untuk mengakui selai berbasis cokelat-kacang, sebagai bagian dari kategori ‘madu dan selai’, atau bahkan membuat kategori baru dengan ukuran saji 1 sendok makan.
Fakta Nutrisi Nutella
Berdasarkan label gizi, 2 sendok makan (37 gram) Nutella mengandung:
- 200 kalori
- 21 gram gula
- 18 persen dari kebutuhan lemak harian
Sebagai perbandingan, 2 sendok makan selai stroberi Smucker’s mengandung:
- 92 kalori
- 22 gram gula
- 0 lemak
Rekomendasi Gizi Resmi
Menurut U.S. Department of Agriculture (USDA), kebutuhan kalori rata-rata orang dewasa dengan aktivitas sedang adalah, sekitar 2.000 kalori per hari.
Namun, USDA menekankan, agar konsumsi gula tambahan dan lemak jenuh (seperti minyak sawit, bahan utama kedua Nutella) dibatasi.
Oleh karena itu, Nutella memang lezat dan serbaguna, tetapi kandungan gula dan lemaknya cukup tinggi. Dalam porsi kecil, Nutella bisa dinikmati sebagai bagian dari pola makan seimbang.
Namun, konsumsi Nutella berlebihan, berisiko meningkatkan asupan gula dan kalori harian.
Siapa nih yang suka konsumsi Nutella berlebihan? Bagaimana menurut kamu?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily