Apakah Hubunganmu Benar-Benar Sehat dan Baik-Baik Saja? Cek dengan 3 Pertanyaan Ini Menurut Psikolog!
INDOZONE.ID - Kadang, hubungan nggak benar-benar berakhir saat kata “putus” diucapkan. Sering kali, semuanya mulai retak jauh sebelumnya, hanya saja kita pura-pura nggak menyadarinya. Banyak yang tetap bertahan dan berharap keadaan membaik, padahal justru makin menyakiti diri sendiri. Kalau cuma satu pihak yang berjuang, hubungan biasanya sulit diselamatkan.
Penelitian di Journal of Personality and Social Psychology tahun 2025 menemukan bahwa kepuasan dalam hubungan sudah mulai turun lama sebelum perpisahan terjadi. Ada fase pra-terminal, yaitu saat hubungan perlahan renggang, dan yang kedua adalah fase terminal, yakni ketika semuanya menurun tajam, biasanya terjadi tujuh bulan hingga dua tahun sebelum benar-benar berakhir.
Baca juga: Pentingnya Battery of Love Terpenuhi di Masa Kecil untuk Hubungan yang Sehat
Kalau kamu mulai ragu apakah hubunganmu masih sehat atau cuma terlihat baik-baik aja, coba tanyakan 3 pertanyaan dibawah ini yang disarankan oleh para psikolog :
1.Apakah kita masih terbuka dan jujur?
Di awal hubungan, terbuka itu mudah. Tapi saat konflik muncul, banyak yang mulai menutup diri atau pura-pura semuanya baik-baik saja.
Studi Januari 2025 di Social Psychological and Personality Science terhadap 200 pasangan menemukan bahwa kejujuran punya peran besar dalam hubungan sehat dan ternyata, kejujuran sendiri punya beberapa lapisan penting :
- Kejujuran yang diungkapkan: sejauh mana seseorang benar-benar menyampaikan apa yang mereka pikirkan.
- Kejujuran yang dirasakan: sejauh mana pasangan merasa lawan bicaranya jujur selama percakapan.
- Persepsi yang sama: kapan kedua pasangan sepakat bahwa percakapan mereka memang terbuka dan jujur.
2. Apakah kita masih bekerja sama sebagai tim?
Hubungan yang sehat terasa dari rasa kebersamaan, terutama saat hidup sedang berat. Pasangan yang peduli akan tetap hadir, bukan membuatmu merasa sendirian. Tanpa itu, bahkan momen paling indah bisa terasa kosong.
Penelitian tahun 2024 di Contemporary Family Therapy terhadap pasangan yang sudah menikah lebih dari 40 tahun menemukan 6 cara efektif mengatasi konflik :
- Mendengarkan dengan sungguh-sungguh
- Berkomunikasi dengan jelas
- Mau berkompromi
- Menyelesaikan masalah dengan cepat
- Memberi jeda sebelum bahas hal sensitif
- Mengetahui kapan harus menghindari konflik tertentu
Kalau belakangan cuma kamu yang berusaha memperbaiki hubungan, coba tanyakan : “Apakah kita masih berjuang sebagai tim, atau cuma aku yang berusaha?”
Pertanyaan sederhana ini bisa membantu kamu menilai apakah hubungan masih berjalan berdua atau sudah tinggal satu arah.
Baca juga: Sering Tak Disadari, Kenali Tanda Kekerasan Mental dalam Hubungan dengan Pasangan
3. Apakah aku bahagia bersama mereka di masa depan?
Hubungan jangka panjang idealnya bikin kamu ingin terus bangun di samping orang yang sama setiap hari. Kuncinya ada pada kesamaan nilai, tujuan hidup, dan rasa aman.
Penelitian tahun 2024 terhadap 900 pasangan menemukan bahwa kepuasan hubungan cenderung menurun seiring waktu. Mereka yang percaya cinta adalah “takdir” biasanya bahagia di awal tapi cepat kecewa. Sebaliknya, yang melihat cinta sebagai hasil dari usaha bersama justru lebih tahan lama dan stabil.
Kalau memikirkan masa depan bersama pasangan malah bikin ragu, mungkin sudah saatnya bertanya pada dirimu sendiri, “apakah hubungan ini masih layak diperjuangkan, atau justru perlu dilepaskan?”.
Pada akhirnya, kejujuran menjadi pondasi penting dalam setiap hubungan yang sehat. Ia bukan hanya tentang berkata jujur, tetapi juga tentang menciptakan rasa aman bagi pasangan untuk saling terbuka tanpa takut dihakimi. Ketika dua orang mampu berbicara dengan tulus dan mendengarkan dengan empati, hubungan pun tumbuh lebih kuat dan bermakna. Karena dalam kejujuran, ada kepercayaan; dan dalam kepercayaan, cinta dapat bertahan lebih lama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Forbes