Awas! Keseringan Konsumsi Makanan Ultra Proses, Bisa Ganggu Perkembangan Otak dan Rahang Anak
INDOZONE.ID - Mengonsumsi terlalu sering makanan ultra proses (ultra-processed food/UPF) pada anak-anak, diketahui memiliki dampak buruk bagi kesehatan.
Seorang konselor menyusui dan MPASI, dr. Anissa Florence, CIMI menjelaskan, berbagai penelitian terkini menunjukkan, konsumsi UPF berlebihan berhubungan langsung dengan penurunan fungsi kognitif.
Terlebih pada anak-anak dan remaja yang masih berada dalam masa perkembangan otak.
“Penelitian ini membuat saya semakin yakin untuk membatasi UPF dalam makanan anak-anak saya,” ujar dr. Anissa dikutip dari akun Instagram pribadinya.
Ia menjelaskan, bahan tambahan pangan seperti emulsifier, pewarna, dan perisa buatan yang kerap ditemukan dalam makanan ultra proses, memiliki efek neurotoksik.
Zat-zat tersebut dapat mengganggu komunikasi antarsaraf, dan bahkan merusak struktur otak yang berperan dalam proses kognitif.
Baca juga: Kenali Bahaya Makanan 'Ultra Proses' yang Sering Dianggap Sehat
Pengaruh pada Perkembangan Rahang Anak
Selain berdampak pada otak, terlalu sering konsumsi UPF juga dapat memengaruhi perkembangan rahang anak.
Dalam salah satu referensi yang dikutip, Anissa menyebutkan, anak-anak yang terbiasa mengonsumsi makanan bertekstur lembut, seperti UPF, memiliki struktur rahang berbeda dibanding anak-anak yang lebih sering makan makanan utuh atau real food.
“Tekstur UPF yang lembut, membuat anak tidak terbiasa mengunyah secara optimal. Padahal, aktivitas mengunyah penting untuk melatih otot dan tulang rahang agar berkembang sempurna,” jelasnya.
Kurangnya aktivitas mengunyah, kata Annisa, dapat menyebabkan gigi tumbuh tidak teratur, bahkan mengubah struktur wajah anak di kemudian hari.
Apakah Nugget dan Sosis Homemade Termasuk UPF?
Menjawab pertanyaan umum dari para orang tua, Anissa menegaskan, sosis dan nugget buatan rumah (homemade) tidak termasuk dalam kategori ultra processed food.
“Nugget atau sosis homemade termasuk makanan olahan (processed food), bukan ultra processed food, karena kita tahu bahan-bahannya dan bisa mengatur sendiri takaran gula, garam, dan bumbunya,” ujarnya.
Sebaliknya, makanan ultra proses biasanya diproduksi di pabrik, melalui tahapan yang sangat panjang, serta mengandung banyak bahan tambahan yang tidak dibutuhkan tubuh.
MPASI: Masa Emas Pembentukan Pola Makan
Menurut Anissa, masa MPASI (Makanan Pendamping ASI) adalah periode emas untuk membentuk kebiasaan makan sehat anak.
“Pastikan anak mengonsumsi makanan asli, segar, dan kaya gizi. Hindari pemberian UPF karena lambung bayi masih kecil dan membutuhkan nutrisi yang optimal,” katanya.
Ia menambahkan, kebiasaan makan pada masa MPASI berpengaruh besar terhadap pola makan anak di masa depan. Anak yang terbiasa makan makanan alami, cenderung punya daya tahan tubuh dan kemampuan kognitif yang lebih baik.
Baca juga: Hati-hati! Makan Steak dan Sosis Berlebihan, Besar Kemungkinan Terkena Diabetes
Ciri-ciri Makanan Ultra Proses (UPF)
Agar lebih mudah mengenali makanan yang sebaiknya dihindari, Anissa merinci beberapa ciri UPF:
- Mengandung banyak bahan tambahan seperti pengawet, pewarna, perisa buatan, dan emulsifier.
- Kadar gula dan garam tinggi: Rasanya sangat manis, gurih, atau asin.
- Umur simpan panjang, biasanya dijual dalam kemasan instan.
- Sudah jauh dari bentuk aslinya, contohnya nugget ayam atau sosis olahan pabrik.
- Siap saji atau instan, cukup digoreng atau diseduh tanpa proses masak alami.
- Kaya kalori tapi miskin gizi, tinggi energi namun rendah vitamin, mineral, dan serat.
Bijak Memilih Makanan
Sebelum menutup video yang diunggahnya tersebut, Anissa mengimbau para orang tua untuk lebih bijak memilih makanan bagi anak-anak mereka.
“Sekarang sudah tahu kan ciri-ciri UPF? Yuk, mulai pilih makanan alami dan segar untuk si kecil. Bagikan juga informasi ini ke teman dan keluarga agar makin banyak yang paham pentingnya MPASI berbasis real food,” imbuhnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/rddenisa