INDOZONE.ID - Belakangan ini makin banyak orang yang curhat ke AI, ntah soal hubungan, masalah pribadi, sampai ke urusan hati. Tapi ternyata, hal ini nggak disarankan oleh pakar psikologi.
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim M.Psi., atau yang akrab disapa Romi, mengingatkan bahwa AI bukan tempat yang tepat untuk curhat atau konsultasi soal kepribadian dan perasaan.
"Apa yang diungkapkan AI mungkin benar, tapi belum tentu cocok untuk kondisi orang itu saat ini," ujar Romi seperti dilansir Antara, Selasa (14/10/2025).
Baca juga: "Doing Nothing” Bisa Jadi Self‑Care Terbaik, Ini Alasannya Menurut Psikolog
Menurut Romi, jawaban yang diberikan AI biasanya berdasarkan data dan pola umum.
Artinya, apa yang kamu dapat bisa jadi sama dengan orang lain, karena semua bersumber dari database yang sama.
"Kalau masalahnya spesifik, seperti soal kepribadian atau perasaan, AI nggak bisa melihat situasi dan kondisi kamu secara langsung," jelasnya.
Dengan kata lain, AI bisa ngasih jawaban logis, tapi belum tentu nyambung secara emosional.
Misalnya, saat kamu curhat tentang patah hati atau stres berat, AI mungkin cuma bisa kasih saran rasional tanpa mempertimbangkan emosi dan latar belakangmu.
Romi menegaskan, kalau kita konsultasi dengan manusia baik itu psikolog atau orang yang dipercaya, akan ada hal-hal lain yang dipertimbangkan.
Bukan cuma data, tapi juga cara kita bereaksi, beradaptasi, dan mencari jalan keluar.
Ia juga paham, banyak orang merasa lebih nyaman bicara ke AI karena merasa aman, nggak takut dihakimi, dan yakin rahasianya aman.
Baca juga: 7 Tanda Teman Diam-diam Mulai Menjauh Menurut Psikolog
Tapi, Romi mengingatkan kalau kamu benar-benar butuh bantuan atau butuh didengar, lebih baik bicara ke psikolog.
"Pergi ke psikolog bukan berarti kamu punya gangguan jiwa. Justru itu langkah sehat untuk memahami diri sendiri," ujarnya.
Romi juga menyebut, curhat ke teman boleh-boleh aja. Tapi perlu diingat, teman kadang terlalu berpihak karena terlalu paham kamu. Akibatnya, saran yang diberikan bisa kurang objektif.
"Kalau profesional, mereka bisa melihat dari sudut pandang yang lebih netral dan ilmiah," tambahnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara